Friday, September 25, 2009

Weedflower


WeedflowerWeedflower by Cynthia Kadohata
My rating: 3 of 5 stars

272 pages
Published 2008 by Gramedia (first published 2006)
ISBN13: 9789792240887


Bagaimana rasanya kesepian? bagaimana rasanya bosan? bagaimana rasanya meninggalkan kamp? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sumiko dan ia sendiri yang menjawabnya.

Novel ini bercerita tentang kehidupan keluarga Jepang-Amerika pada masa perang dunia ke-2. Sumiko, seorang gadis berumur dua belas tahun tinggal bersama Pamannya yang bernama Hatsumi, Bibinya (namanya tidak disebutkan dalam novel), Kakeknya, Masanori Matsuda yang dipanggil Jichan, dua sepupunya yaitu Ichiro dan Bull, dan adiknya, Takao yang dipanggil Tak-Tak.kakeknya Matsuda, adiknya Takao, yg dipanggil Tak-Tak. Mereka tinggal di suatu perkebunan di California.

Sumiko dan Tak-Tak yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan mobil ketika Sumiko dan adiknya masih kecil. Sumiko tidak sempat mengenal orangtuanya, ia hanya melihat gambarnya lewat foto dan dari penuturan kakeknya. Setelah kejadian kecelakaan itu, ia dan adiknya kemudian diasuh oleh Paman dan bibinya. Ichiro dan Bull berjarak enam tahun dan sembilan tahun dari Sumiko, kedua sepupunya inilah yang menghibur Sumiko.

Sumiko diberi tanggugjawab untuk memetik dan memotong bunga di kebun bunga millk pamannya. keahliannya memotong bunga membuat sumiko bangga pada dirinya sendiri. Pamannya pun menghadiahkan sebuah pisau pemotong bunga yang berukir nama Sumiko di atasnya. Sumiko biasanya bertugas memetik bunga sebelum pergi sekolah, setelah itu bunga yang dikumpulkan akan dibawa oleh sepupunya untuk dijual.

Saat itu di Amerika sudah ada ketidaksukaan dari warga amerika asli terhadap penduduk Jepang. Hal itu dikarenakan Jepang adalah sekutu Jerman dan Italia yang menjadi musuh Amerika di Perang Dunia II. Sumiko merasa tertolak ketika ia menghadiri pesta ulangtahun temannya, Marsha Melrose. Saat itu tanggal 6 Desember 1941. Ternyata kehadirannya tidak disukai. Padahal ia sudah menyiapkan gaunnya yang paling bagus dan ia sudah meminta pada pamannya untuk membeli hadiah buat temannya. Ia merasa terhina dan marah, dan ia pulang. Inilah kesepian yang ia rasakan

1.seakan-akan semua orang mentapmu.
2.seakan-akan tak seorangpun melihat kepadamu.
3.seakan-akan kau tak peduli pada apa pun.
4.seakan-akan kau nyaris hendak menangis. (hal 48)

7 Desember 1941, peristiwa pemboman Pearl Harbour oleh tentara Jepang. beberapa orang jepang (orang Amerika menyebutnya Japs) yang diketahui sebagai pemimpin kelompok ditangkap. Diantaranya adalah Paman dan Kakek Sumiko. Mereka berdua dibawa ke suatu tempat oleh haji (istilah jepang bagi orang yang berkulit putih) ke suatu tempat. Keadaan pascapenyerangan itu membuat hidup mereka tidak nyaman. Beredar kabar bahwa para petugas akan merazia benda-benda yang berbau jepang. Karena itu, seluruh orang Jepang di lingkungan mereka membakar apa-apa saja milik mereka yang berbau Jepang. buku bacaan, lukisan, surat-surat dan sebagainya dibakar oleh mereka.

Pengumuman dari pemerintah menyerukan supaya orang-orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Warga Jepang di komunitas nelayan misalnya, diberitahu bahwa mereka harus meninggalkan wilayah mereka dalam waktu 48 jam dan hanya boleh membawa harta benda yang bisa dibawa. Banyak orang berbondng-bondong ke wilayah itu dan memborong semua perabotan yang indah dengan harga yang murah. Sama juga di rumah Sumiko. Selendang sutra yang tadinya akan ia berikan sebagai hadiah ulangtahun kepada Melrose, ia jual hanya satu dolar (Pamannya membeli 4 dolar).

Akhirnya tibalah juga bagi mereka meninggalkan rumah selamanya. Bersama dengan warga jepang yang lain, mereka dikumpulkan di gelanggang. Mereka dikirim ke kamp-kamp. Sumiko dan keluarganya ditempatkan di kamp di Poston, di tepi Sungai Colorado. Sumiko akhirnya bersahabat dengan teman-teman baru disana. Ada Mrs. Ono, ada Mr.Moto, ada Sachi. Yang terutama ia bertemu dengan Frank, seorang pemuda Indian. Ternyata kamp tempat ia tinggal adalah pusat konservasi bagi suku Indian. Mereka sering bertemu di kebun. Sumiko membawa es batu pada Frank, sembari mereka bercakap-cakap.

Suatu kali Frank meminta pada Sumiko supaya dipertemukan dengan sepupunya, Bull. Frank ingin memperkenalkan kakaknya, Joseph pada Bull karena Joseph ingin belajar membuat irigasi. Joseph mendaftar menjadi tentara Amerika dan segera ditugaskan. ia berharap kalau keluar dari dinas kemiliteran, ia akan bertani, untuk itu ia belajar pada Bull, karena orang Indian itu melihat irigasi yang dibuat oleh penduduk kamp itu sangat bagus.

Berita mengejutkan tiba. Ichiro dan Bull juga mendaftar menjad tentara, kedua sepupunya juga akan meninggalkan bibi dan sumiko dan tak-tak. Bibinya juga memutuskan untuk pergi keluar dari kamp. Akhirnya Sumiko pun meninggalkan kamp beserta seluruh sahabatnya, sementara sepupunya juga ikut berjuang bersama tentara Amerika lainnya.

Dari catatan penulis, diketahui bahwa Tim Kombat Resimen 442 yang terdiri atas warga amerika keturunan Jepang merupakan unit yang yang paling berjasa bagi Amerika. Mereka menjadi legenda karena keberanian mereka berperang. Para serdadau yang terluka bukannya beristirahat di rumah sakit, tetapi kabur dari sana untuk berperang. Selama perang dunia II ribuan orang Indian yang mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan perang.

Inilah karya dari novelis Cynthia Kadohata. Sebelum novel ini ia telah menulis novel 1) The Floating World, 1989 2) In the Heart of the Valley of Love, 1992 3) The Glass Mountains, 1995 4) Kira-Kira, 2004. Novel Weedflowers bercerita tentang kamp internir Poston dimana ayahnya dipenjarakan selama Perang Dunia II.

Selama Perang Dunia II (1943-1945) Presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt (1882–1945) menandatangani signed Executive Order 9066 pada 19 February 1942. Isinya memerintahkan untuk merelokasi etnis tertentu atau kepercayaan tertentu ke suatu kamp, termasuk didalamnya etnis Jepang dan Indian. tujuannya untuk melidungi Amerika dari serangan teroris dan mata-mata musuh. Peratiran itu dipandang sebagai pelanggaran besar terhadap hak sipil dan masa yang suram dalam sejarah Amerika.

Menyusul perintah Presiden Roosevelt, keeturunan Jepang Amerika diarahkan untuk melapor ke stasiun kontrol untuk mendaftar. Dari sana mereka diminta untuk memindahkan seluruh keluarga mereka ke salah satu dari sepuluh interniran kamp yang terletak di California, Arizona, Wyoming, Colorado, Utah, dan Arkansas. Ayah Cynthia Kadohata diinternir di kamp Poston di Sungai Colorado Indian Reservation di Gurun Sonora . Karena mereka hanya boleh membawa apa yang bisa mereka bawa, sebagian besar orang Jepang Amerika harus menjual sebagian besar barang-barang mereka. Banyak orang mengambil keuntungan dari situasi dan membeli item, seperti mobil, pada harga yang sangat dibawah harga pasar. Harta benda mereka juga dicuri dan rumah mereka dirusak, yang akhirnya menghasilkan jutaan dolar kerugian harta.

Antara 1942 dan 1945, sekitar 120.000 orang, banyak di antaranya warga negara Amerika, atau Nisei, tinggal di kamp-kamp interniran, yang kadang-kadang disebut sebagai kamp-kamp konsentrasi. Semua tahanan diminta untuk menandatangani sumpah kesetiaan kepada Amerika Serikat meskipun mereka tidak dibebaskan setelah penandatanganan. Mayoritas langsung setuju untuk menandatangani karena mereka ingin menunjukkan kesetiaan mereka. Namun Beberapa menolak, dan sebagai hasilnya sekitar delapan ribu Jepang dideportasi, kembali ke negara mereka. Mereka yang tetap terus menunjukkan kesetiaan mereka ke Amerika dengan mengibarkan bendera Amerika dan menghormat bendera setiap pagi dan sore. Pada tahun 1943, sebagai upaya perang memuncak, pria Amerika Jepang bahkan direkrut menjadi US Army. Unit Jepang Amerika diciptakan, termasuk resimen 442 Combat Team, yang dianggap sebagai salah satu unit militer yang paling dihormati dalam sejarah AS.

Pada tahun 1988, Kongres AS menciptakan sebuah rancangan undang-undang yang secara resmi meminta maaf kepada seluruh Jepang interniran Amerika dan keluarga mereka. Setiap individu yang telah magang di salah satu dari sepuluh kamp ditawari satu kali kompensasi sebesar $ 20.000.

Novel ini dibuat dengan beberapa riset dan direviu oleh orang-orang akademisi. Hal itu dapat dilihat dari kata pengantar Cyntia. Tak pelak lagi, ini adalah novel yang mengingatkan pada kesalahan pemerintah Amerika pada keturunan Jepang-Amerika.

Novel ini agak membosankan karena kejadian yang amat kelam tersebut dipandang dari sudut pandang anak 12 tahun. Selain itu, banyak Jepang yang digunakan tidak dibuat glossary nya sehingga menyulitkan pembaca manakala ingin mengetahui artinya dengan segera.

Namun, novel ini membawa khasaanah wawasan kita kan suasana perang dunia II di kamp Amerika, dan bisa menyadari pentingnya menghargai dan mengakui keberadaan manusia sebagai sesama di muka bumi.

0 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-