Wednesday, September 8, 2010

Snow Country: Daerah Salju


Snow Country: Daerah SaljuSnow Country: Daerah Salju by Yasunari Kawabata
My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 188 pages
Published 2009 by gagasmedia (first published 1947)
ISBN  9789797803681


Pernahkah kau mencuri pandang lewat pantulan kaca, entah itu di pintu kaca, jendela kaca, kaca pada jendela mobil, kaca spion, kaca lemari, atau apapun yang bisa memantulkan bayangan? Apa yang kau lihat dan rasakan?

Peristiwa ini adalah kisah awal novel ini. Dalam perjalanan ke suatu tempat yang indah alamnya, Shimamura memerhatikan seorang gadis yang ada di depannya dengan melihat melalui pantulan jendela kaca kereta api. Kecantikan gadis itu sungguh memesonanya. Bisa dibayangkan ketika Shimamura melihat ke luar, seharusnya pemandangan pohon-pohon dan pegunungan yang ia lihat, tetapi hal itu masih kalah menariknya dibanding wajah sang gadis. Kawabata menulis peristiwa itu sebagai berikut.
Langit di atas gunung masih menyisakan warna merah senja. Setiap benda masih jelas bentuknya di kejauhan, tetapi pemandangan gunung yang monoton, begitu-begitu saja mil demi mil, tampak menjemukan karena kehilangan warna. Tak ada yang menarik di luar sana, dan semuanya mengalir hambar. Tentulah itu karena tertimpa oleh wajah si gadis yang mengapung di atasnya. Pemandangan senja bergerak ajek di sekeliling garis wajah itu. Wajah itu juga tampak bening-tetapi, apakah ia benar-benar tembus cahaya? Shimamura melamunkan bahwa sesungguhnya pemandangan senja terus melintas wajah itu dan tidak pernah berhenti meyakinkannya bahwa memang begitulah yang terjadi.



Shimamura adalah seorang pelancong yang saat itu sedang mengunjungi tempat favoritnya. saat itu awal Desember dimana salju sedang turun. Tidak sekedar melancong, ia sebenarnya berjanji menemui seorang perempuan yang tinggal di rumah seorang guru musik Shamisen. Komako sangat bergirang karena kerinduannya terbasuh ketika bertemu Shimamura. Daerah itu ramai dikunjungi pelancong karena sangat menarik untuk melakukan ski dan pendakian gunung. Selain itu, terdapat penginapan air panas, dimana sangat cocok untuk "melawan" rasa dingin yang menyerang. Dan sepertinya-hingga sekarang, tempat wisata ramai (selalu) menyediakan minuman keras (sake) dan wanita (Geisha). Dan Komako adalah salah seorang Geisha di sana.

Pada umumnya, orang bisa dekat karena ada kesamaan hobi. Shimamura dan Komako bisa berkenalan dekat karena sama-sama memiliki hobi menari. Hanya saja, Shimamura lebih suka pada tarian barat. semasa mudanya ia kenyang mempelajari tarian tradisional Jepang, dan sejak kecil sudah akrab dengan pertunjukan Kabuki. Namun, bertemu dengan penari-penari muda justru membuatnya tidak cinta pada tari tradisional, ia memilih tarian barat. Namun tarian barat yang ia nikmati bukanlah tarian barat yang ditarikan, melainkan tarian dari khayalnya yang ia sendiri tak pernah saksikan.

Hari-hari dimana Shimammura ada disana, menjadi semangat tersendiri bagi Komako. Sesudah Komako menghadiri suatu perjamuan di penginapan lain, maka setelah itu ia pulang dan menyinggahi penginapan Shimamura. Tampaknya Komako hanya membutuhkan teman untuk bercakap-cakap, dan sepertinya ia bosan dengan kehidupan sebagai Geisha di tempat itu. Bagaimana rupa Komako, itulah dituliskan Kawabata sebagai berikut.
Hidungnya yang lancip dan mancung memberi kesan sunyi, tetapi bibir mungil di bawahnya membuka dan menutup dengan halus, seperti lingkaran lintah kecil yang indah. Bahkan, ketika ia diam, bibir itu terlihat seperti bergerak-gerak...Garis kelopak matanya tidak naik atau turun. Seolah-olah dengan alasan tertentu, garis itu sengaja ditarik lurus melintasi wajahnya. Ada kesan yang sedikit lucu di sana, tetapi alisnya yang agak menurun dengan bulu-bulu pendek yang tebal sangat pantas menaungi mata itu. Tak ada yang luar biasa pada lingkar wajahnya yang bulat dan sedikit lancip. Kulitnya seperti porselen putih yang dilapisi warna merah muda dan lehernya masih jenjang dan belum menggembung. Dengan semua itu, ia lebih tepat disebut bersih ketimbang cantik. (Hlm 32-33).

Selanjutnya, bagaimana Shimamura menempatkan Komako dalam hatinya? lalu bagaimana dengan Yoko, wajah gadis yang memesonanya di kereta api? Bukankah suatu kebetulan dimana ternyata mereka serumah di rumah guru musik Shamisen. Ia tidak memahami, mengapa Komako mampu membuat dirinya tidak lengkap sementara Shimamura sudah memiliki istri dan anak di Tokyo. Baginya, Komako adalah seorang Geisha yang hebat, mampu memainkan alat musik tradisional shamisen tanpa guru dan bahan-bahan yang memadai. Komako hanya belajar dan partitur dan buku-buku yang dibawakan oleh Shimamura. Sementara Shimamura sendiri, sangat anti dengan ketradisionalan Jepang. Buat Shimamura, tradisional tidak berpihak pada kedinamisan dan cenderung kaku. Komako berhasil meluluhkan kebekuan hatinya seperti air panas yang mencairkan salju. Lewat bahasa tubuhnya, Shimamura menyadari jika Komako sangat menaruh hati padanya. Dan apa yang dirasakan Shimamura adalah ia tidak dapat membiarkan sifat egoisnya. Komako telah menyerahkan semuanya, sebaliknya tak ada apapun yang ia berikan kepada perempuan itu. Sementara itu kesan kuat yang ditinggalkan wajah Yoko pada pantulan senja kaca kereta api, membuat Shimamura merindu. Rindu pada wajah Yoko yang murni dan polos serta suaranya yang bening.

Ternyata tempat itu memiliki magnet yang luar biasa kuat tarikannya. Bukan hanya pada salju, pegunungan, pohon sugi, air panas, dan kabut tipis itu. Setiap sudutnya menyisakan ruang yang memesona, terlebih pada kedua perempuan itu. Hati Shimamura seperti terbagi. Dan ia merasa waktu tidak berpihak padanya untuk menentukan...

Snow Country ditulis dalam bahasa Jepang, "Yukiguni", yakni nama sebuah tempat, yang dicapai melalui terowongan panjang di bawah pegunungan perbatasan antara Gunma (Kozuke No Kuni) dan Niigata (Echigo No Kuni). Novel ini awalnya dibuat dalam beberapa cerita pendek. Dari kurun waktu tahun 1935 hingga 1948, cerita ini terpisah. Dua bagian di tahun 1935, lima bagian di tahun 1937, dua bagian di tahun 1940, dan difinalisasi pada tahun 1948.

Dari penelusuran, diketahui bahwa tokoh Komako itu adalah seorang Geisha bernama Matsuei yang ada di kota Yuzawa, dimana Kawabata tidak memberikan nama pada kota ini di novelnya. Perhatikan gambar di bawah, ciri-ciri yang digambarkan Kawabata mirip dengan foto Matsuei.

description

Di tahun 1968, novel ini berhasil meraih penghargaan nobel di bidang sastra, dan Kawabata menjadi penulis pertama Jepang yang meraih penghargaan ini. Karya Kawabata disebutkan banyak memiliki lirik yang melankolis serta banyak menjelajahi tempat seks dalam budaya, dan dalam kehidupan pribadi, seperti dalam karya Up in the Tree, 1962.

Yasunari Kawabata (1899-1972), dilahirkan dalam sebuah keluarga sejahtera di Osaka, Jepang. Ayahnya, Eikichi Kawabata, adalah seorang dokter terkemuka, meninggal karena TBC ketika Yasunari berusia dua tahun. Dia yatim piatu karena kematian ibunya pada usia tiga tahun, neneknya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun, dan disusul kematian adik satu-satunya ketika dia berumur sembilan tahun. Kematian keluarga Kawabata mengurangi masa kecilnya yang normal. Ia sering mengatakan bahwa dia belajar kesepian dan "tanpa akar" sejak awal. Kemudian dalam kehidupannya, ia menggambarkan dirinya sebagai "anak tanpa rumah atau keluarga." Beberapa kritikus menilai bahwa trauma awal membentuk latar belakangnya akan rasa kehilangan yang tergambar dalam tulisannya.

Akhirnya saya berikan 4 bintang, 1 bintang kurang karena saya tidak mengerti dimana tempat ini. Visualisasi saya agak terganggu karena saya tidak bisa merasakan salju (subjektif banget yak).

@hws08092010
-dibikinkalakantorsepibangetkarenaharikerjaterakhirsebelumlebaran-


2 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-