Sunday, August 7, 2011

Hidup itu Indah


Judul Lengkap: Hidup itu Indah, Kalau Kita Tahu Cara Menikmatinya
Penulis: Ayub Yahya
Desain Sampul, Ilustrasi, Tata Letak: Zaenal Arifin
Tebal: viii+137 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011
ISBN: 9789792271812

Buku ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Ayub Yahya di blognya dan notes di account Facebooknya. Ada 2o tulisan pendek dalam buku ini. Ayub meramu tulisannya dengan bahasa yang ringan dan kocak, sehingga ada beberapa kalimat yang mungkin membuat pembaca tersenyum.

Dalam penyampaian pesan, Ayub menggunakan cerita. Dalam penilaian saya, cerita yang ia gunakan boleh jadi ada yang benar, ada yang memang rekaan. Tidak penting memang apakah itu rekaan atau tidak, tetapi cerita itu mewakili dunia nyata yang kita hadapi. Dan dunia nyata kita itu seringkali antara senang dan sedih, serius dan tertawa. Misalnya, dalam cerita "Terlalu", saya tertawa pada cerita Bu Ajib dan Bu Seno. Bu Ajib yang mengunjungi Bu Seno yang suaminya sakit. Bu Ajib berempati dengan menceritakan bahwa dulu suaminya juga sakit yang sama dengan suami Bu Seno. Bukan hanya sakit yang sama. Rumah sakit, dokter, susternya juga sama! hanya kamar yang tidak sama. Bu Seno mungkin merasa memiliki teman senasib seperasaan. Bu Seno bertanya kepada Bu Ajib bagaimana keadaan suami Bu Ajib sekarang. Bu Ajib menjawab bahwa suaminya meninggal! Antara mau menghibur dan malah membuat suasana tidak enak. Lagi-lagi kembali pada hikmat.


Pada judul "Gosip" Ayub menceritakan parahnya dampak gosip. Gosip sebenarnya adalah sebuah cerita biasa, namun punya "bumbu" (biasanya negatif). Cerita biasa tersebut tidak akan bertambah rumit bila dikonfirmasi pada si pelaku dalam cerita. Persepsi seringkali salah menilai atau memberi penilaian yang keliru, dan hal itu semakin terakumulasi bila diteruskan kepada orang lain.

Cerita yang paling saya suka adalah cerita tentang sebuah talkshow. Dialog-dialog antara moderator dadakan dan narasumber Raja Herodes. Dari dialog tersebut sedikit banyak ada latar belakang Raja Herodes yang tidak menyukai orang Majus, dan bagaimana kekuasaan raja di masa-masa itu. Mungkin karena saya suka baca Seri Selamat, saya merasa mendapat pola tulisan yang mirip dengan Andar Ismail, yaitu cerita yang bermuatan konteks sejarah.

Nilai-nilai yang saya tangkap dari Ayub dalam buku ini antara lain kepercayaan(trust),eling lan waspada, ketidakkekalan dunia. Mungkin secara umum simpulannya adalah nikmati hidup ini, tidak perlu pusing dan risau dengan segala kekurangannya, karena semua yang di dunia ini adalah sementara. Namun jangan lengah, jangan menyepelekan hal kecil. Jangan sia-siakan kepercayaan.

Hal yang saya kritisi dalam buku ini adalah, ada bagian-bagian yang tadinya current issue seperti piala dunia 2010, natal, dan tahun baru, atau kasus-kasus yang sedang mencuat di negeri ini suatu saat akan menjadi cerita yang biasa tinggal lalu. Dengan kata lain, buku ini boleh jadi akan kehilangan greget bila dibaca dua atau tiga tahun dari sekarang. Selain itu, covernya saya rasa tidak matching antara tokoh yang duduk dengan yang bawa beban. Yang duduk dari zaman modern, yang bawa beban dari zaman kuno. Tulisan pada bebannya itu juga menurut saya dikonsistensikan bahasanya, alih-alih power dan lust, lebih cocok kekuasaan dan keinginan.

Buku tipis ini saya lahap dalam sejam. Lumayanlah bagi saya yang selama ini "terbeban" dengan bacaan tebal dan berat. Kumpulan tulisan Ayub Yahya bisa dilihat di blognya di sini. Di blog tersebut, ia memulai sebuah postingan dengan menuangkan cerita atau kisah lalu menutupnya dengan satu dua kalimat hikmah. Sekali lagi, buku ini ringan, kocak, tapi nyata. Selanjutnya tergantung kita bagaimana memaknainya.

@hws07082011

3 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-