Monday, September 12, 2011

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara


Judul: Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara
Penulis: Ahmad Yunus
Penyunting: Muhammad Husnil
Fotografer: Farid Gaban dan Ahmad Yunus
Pewajah Isi: Siti Qomariyah
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta, Juli 2011
Tebal: 370 hlm
ISBN: 9789790242852

Sejauh apakah pengetahuan Anda tentang Indonesia? Apakah sejauh hafalan sejumlah 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota? Tahukah Anda apa ibukota Kabupaten Lebak? tahukah Anda dimana itu Kabupaten Kepulauan Anambas? Anda bisa tahu semua hafalan-hafalan itu tapi belum tentu pernah mengerti bagaimana Indonesia dipandang dari sana.

Buku ini merupakan catatan perjalanan Ahmad Yunus dan Farid Gaban dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Perjalanan mereka di bawah koordinasi Yayasan Zamrud Khatulistiwa yang memiliki visi Mengajak masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda, untuk menjelajahi, mengkaji serta merekam khasanah alam, sosial dan budaya Kepulauan Nusantara. Penjelajahan Indonesia dimulai dari Tahun 2009 dengan menggunakan kendaraan sepeda motor Honda Win yang dimodifikasi. Mereka berdua gemar bertualang, suka naik gunung, suka berenang dan menyelam di laut, serta profesi mereka sama: wartawan.


Awalnya Ahmad Yunus mengenal Farid Gaban dari tulisan-tulisannya di media. Pada suatu kesempatan Farid Gaban mengajak Ahmad Yunus untuk liputan bersama di sebuah pulau di Maumere. Dari sanalah ide besar ini bermula. Gaban mengajak Yunus untuk menjelajah Indonesia, mengunjungi 100 pulau dalam satu tahun penuh. Hasilnya, mereka berhasil mengunjungi 80 pulau dalam puluhan jam video rekaman, sepuluh ribuan kepingan foto serta ratusan tulisan.

Rute Perjalanan Zamrud Khatulistiwa

Membaca kisah perjalanan mereka seperti membaca kisah petualangan. Kisah konyol mereka pertama kali adalah ketika hendak ke Lampung, motor mereka tanpa disadari telah masuk ke jalan tol Merak. Mereka melawan arus lalu lintas dan disaksikan puluhan truk.

Perjalanan mereka meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku-Papua, Nusa Tenggara, Bali dan kembali ke Jawa. Mengenai Lampung, Yunus memberi catatan bahwa Lampung bukan hanya terkenal dari gajah dan kopinya, tetapi juga keindahan dan kekayaan lautnya yang luar biasa. Di Teluk Kiluan misalnya, tidak hanya tarian lumba-lumba yang dapat disaksikan, ada keindahan terumbu karang di sana. Namun, keindahan alam seperti itu tidak didukung dengan lengkapnya puskesmas dan dokter, sekolah dan guru, jalan yang bagus, listrik yang cukup, inilah potret Indonesia.

Di Sumatra Barat, Sebelum ke Bukittinggi, mereka disuguhi keindahan Danau Maninjau membuat mata sejuk. Bagaimana memandang Indonesia dari Bukittinggi? Yunus mencatat:
Bukittinggi tak hanya cantik dengan alamnya. Namun, Bukittinggi merupakan salahsatu kota yang memiliki sejarah penting dalam membentuk Indonesia. Di sini banyak melahirkan kalangan intelektual macam  Hatta, Sjahrir, Muhammad Natsir, Buya Hamka, Syafroedin Prawiranegara hingga Tan Malaka.
Mereka melahirkan banyak pemikiran, konsep, gagasan, pandangan dan perdebatan tentang Indonesia. Intelektual dari kalangan nasionalis maupun agama dari Bangsa Minangkabau ini memberikan warna yang berbeda. Seperti kebanyakan intelektual yang datang dari Jawa seperti Soekarno, misalnya.
Inilah keragaman kekayaan intelektual yang dimiliki Indonesia, namun seolah terlupa.

Di Aceh, serambi Mekah. Yunus bertemu dengan Azhar yang menanam 300.000 batang pohon bakau meliputi 35 hektar kawasan pesisir Aceh pascatsunami. Siapa yang mendukungnya? NGO Internasional. Di Pulau Penyengat, Kepulaun Riau, mereka menemukan kekayaan budaya Melayu dalam Gurindam. Gurindam Dua Belas ini digubah oleh Raja Ali Haji. Pesannya menyiratkan agar manusia tetap teguh berpegang pada agama. Pertanyaannya, dimana lagi naskah melayu yang lain? jangan sampai karena tak peduli, warisan itu lenyap diklaim negeri jiran.

Perjalanan di Kalimantan. Permasalahan mendasar yang mereka temui dalam ekspedisi Borneo adalah, tidak tersedianya kebutuhan transportasi darat yang memadai. Motor yang mereka tumpangi juga mengalami kerusakan kelistrikan dimana lampunya tidak dapat menerangi ketika perjalanan malam hari.
Selanjutnya ke Sulawesi. Mereka seperti menapaki kembali jejak yang dibuat oleh Alfred Russel Wallace. Suatu keadaan yang membuat miris. Dimana seorang ilmuwan yang memiliki keingintahuan yang tinggi, pernah tinggal di daerah ini dan membuat suatu rumusan mengenai garis maya yang memisahkan antara Jawa dan Bali berdasarkan hewan dan tumbuhan. Dan setiap tahun, siswa dari Australia belajar ke Sulawesi untuk mengetahui dimana dan bagaimana Wallace merumuskan teori itu. Sedangkan di kita? Hmm...

Pulau-pulau terdepan di utara Sulawesi yang diceritakan Yunus sungguh memesona. Pulau Miangas, berbatasan dengan Filipina, menyajikan keindahan laut yang luar biasa. Warna biru tosca yang jernih mengundang Yunus dan Gaban untuk snorkeling dan menyelam. Merekalah 'tugu selamat datang' dari Samudra Pasifik. Presiden SBY pernah kesana dengan biaya beratus-ratus juta untuk menyewa kapal dan akomodasi. Setali tiga uang. Mereka tidak diperhatikan. Mereka lebih dekat berdagang ke Mindanao, dan siapa yang memikirkan dampak dari tuduhan masuknya teroris dari Filipina selatan ke Indonesia adalah melalui pulau ini? sepertinyatidak ada yang peduli ketika aparat datang untuk menggeledah identitas warga dan aktivitas ekonomi terhenti.

Membaca kelanjutan cerita Yunus ini di belahan Indonesia lain seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara sepertinya mengumpulkan kepingan Indonesia. Di tempat seperti Papua yang kaya emas, namun tidak membuat rakyatnya sejahtera. Pelayanan transportasi laut yang menghubungkan pulau-pulau, kondisinya memprihatinkan. Harga bahan bakar tak terjangkau. Entah siapa yang menikmati subsidi BBM, di kala mereka mendapati bensin 10.000/liter.

Pedihnya di Flores masih membekas, ketika teringat kembali peristiwa 1965, sesama manusia menjadi algojo. Oleh karena isu PKI, ribuan manusia menjadi korban. Tanpa bukti, tanpa pengadilan, manusia menjadi hakim sesamanya. Potret kelam Indonesia masa lalu yang hingga kini belum ada rekonsiliasi, namun duka itu tak lagi diungkit, walau siapa yang tahu bagaimana perasaan di dalamnya. Kalimat ini yang digunakan Yunus yang berupaya menjangkau kebenaran tanpa kehilangan empati pada para keluarga korban.
Dan apa artinya kebenaran, jika ia tak berdaya dan lumpuh?Apa artinya kemerdekaan, jika tak digunakan menyatakan kebenaran? Jika demikian, kemanusiaan hanya menjadi debu dan puing dalam sejarah. Tiada lain.(h.349).

Inilah senjata khas jurnalis: kata-kata (bahkan sekarang sudah dilengkapi foto dan video). Yunus menggugah kecintaan tanah air dengan menginjak tanah dan mencecap air:
Mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mencintai rakyatnya. Perjalanan ini adalah upaya saya untuk bisa mengenal manusia Indonesia lebih rekat, lebih dekat (h.365)

Dalam sebuah wawancara di Majalah Backpacker, Yunus mengatakan bahwa suatu hal unik yang ia temukan selama backpacking ialah bertemu dengan wisatawan asing yang mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar, dan ada yang menjadi aktivis yang membantu memberdayakan masyarakat lokal. Masih berbeda dengan wisatawan Indonesia, kebanyakan masih sekedar berwisata dan menikmati keindahan alamnya saja.

Buku ini disertai dengan sebuah CD yang berisi rekaman video dan foto-foto selama perjalanan mereka. Suatu terobosan baru, dimana ada buku yang menulis tentang kisah perjalanan dilengkapi dengan bukti dokumentasi. Saya berharap akan ada lagi cerita mereka tentang Indonesia. Seperti salah satu misi mereka:

# Menggugah rasa cinta tanah air Indonesia dengan menjelajahi serta memahami aneka potensi dan masalahnya.
# Merangsang kaum muda ikut memikirkan dan memberikan sumbangan nyata kepada negerinya dalam bidang:
* Pelestarian alam/keanekaragaman hayati, khususnya hutan dan laut.
* Pengembangan wisata alam dan wisata budaya.
* Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan, khususnya dalam bidang pertanian dan perikanan.
Kembali ke pertanyaan awal, sejauh mana saya mengenal Indonesia? belum ada apa-apanya. Selama ini baru sebatas buku dan gambar-gambar. Pemahaman saya masih belum apa-apa. Saya mengutip apa yang ditulis Yunus yang menjadi pemaknaan pada perjalanannya:
Tak pelak. Hikayat perjalanan ini adalah tentang Indonesia. Tempat saya lahir dan tumbuh. Di negeri inilah saya mengisi hari-hari dengan kebahagiaan, kesenangan, dan juga penolakan yang membuat saya kecewa. Dan marah. (h.19)

@hws12092011

8 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-