Saturday, November 19, 2011

Biru Sang Perawan (The Virgin Blue)


Judul Asli: The Virgin Blue
Penulis: Tracy Chevalier
Alih Bahasa: Lanny Murtiharjana
Ilustrasi dan desain sampul: Dina Chandra
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2006
360 hlm; 23 cm
ISBN: 9792221662

Inilah buku kedua Tracy yang saya baca setelah The Lady and The Unicorn. Sepertinya Tracy menggunakan wanita sebagai tokoh sentral dalam karya-karyanya. Membaca buku ini, kita dibawa kembali ke alam-alam pedesaan dan pertanian Prancis pada awal abad 16. Sepertinya tidak seru bila tidak didahului dengan konteks historis.

Latar Belakang
Sebuah gerakan yang awalnya mengkritisi kebijakan gereja (katolik Roma). Seorang bernama Martin Luther memulai gerakan itu di Jerman pada tahun 1517. Pokok-pokok yang dipertanyakannya adalah mengenai remisi atas dosa yang dapat diperjualbelikan serta tidak diperbolehkannya menerjemahkan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa lainnya. Hal itu dinilai tidak fair, manakala tidak semua orang (terutama orang awam) mengerti bahasa latin. Gerakan ini dinamakan dengan nama Reformasi. Karena gerakan memprotes kebijakan gereja (katolik) itulah maka aelanjutnya Luther dan pengikutnya dinamakan Protestant.

Raja Henry VIII dari Inggris pertama kali tidak setuju dengan gerakan Luther. Ia khawatir dengan bahwa bila orang akan 'menyerang' gereja maka suatu saat akan menyerang monarki. Namun ia berubah pikiran ketika Pope Clement VII-Pemimpin tertinggi gereja Katolik di Roma- menolak membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon. Sebelumnya Catherine telah menikah dengan saudara Henry VII yaitu Raja Arthur. Namun pernikahan Catherine dan Raja Arthur hanya lima bulan, sebab Raja Arthur meninggal dunia dan kemudian Catherine menikah dengan saudaranya, Henry VIII. Pada dasarnya Henry VIII ingin mempertahankan dinasti Tudor, dengan mencari keturunan laki-laki. Pernikahannya dengan Catherine mendapatkan seorang putri. Akhirnya, Henry VIII memutuskan memisahkan gereja Inggris dengan Gereja Katolik Roma, dan pada tahun 1534 ia mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin tertinggi gereja sekaligus pemimpin tertinggi negara. Henry VIII akhirnya membolehkan Alkitab bahasa Ibrani untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan digunakan di seluruh gereja di Inggris.


Nicolas Tournier yang disebut-sebut dalam Novel ini, tidak ada hubungannya dengan Ella Tournier. Ia disebut Tracy sehubungan dengan lukisan "Entobment"Lukisan ini dibuat pada awal abad 17, yang dikenal sebagai zaman Baroque. Zaman Baroque dikenal juga dengan abad Renaissance atau abad pencerahan. Lukisan pada zaman baroque memiliki karakter drama besar (seperti kisah di Alkitab), menggunakan warna yang kaya dan dalam, dan memiliki bayangan gelap maupun cahaya yang kuat.

Yang menjadi sorotan utama Tracy pada lukisan ini adalah kain warna biru yang dikenakan Perawan Maria. Warna itu yang selalu dilihatnya dalam mimpi buruk Ella Tournier.

Perjumpaan Empat Abad
Tracy menggunakan tokoh Ella Tournier dan Isabelle du Muolin yang dihubungkan oleh sebuah peristiwa tragis. Dari abad 16, diceritakan mengenai keluarga-keluarga yang tinggal di daerah pertanian Prancis Selatan yang dinamakan Huguenots. Istilah itu diberikan oleh pengikut Calvin, yaitu orang-orang yang mengikuti gerakan reformasinya Martin Luther di wilayah Prancis. Itu terjadi kira-kira tahun 1560 hingga 1629. Raja Charles IX dari Prancis ibunya, Catherine de Médicis, mengkhawatirkan pertumbuhan dari Huguenots yang dipimpin oleh Gaspard de Coligny (16 February 1519 – 24 August 1572). Kekhawatiran itu semakin bertambah ketika putri Catherine, Margaret of Valois menikah dengan Henry IV pada 18 August 1572. Henry III adalah dari Protestant, dan pernikahan itu pasti akan membuat pengaruh Huguenot di Prancis semakin kuat. Charles diperintah ibunya untuk membunuh para pemimpin Huguenot. Pembunuhan massal Huguenot tersebut dikenal dengan Massacre of Saint Bartholomew’s Day. Dinamakan dengan istilah Saint Bartholomeuw Days, karena gereja Katolik untuk memberi penghormatan khusus pada orang-orang suci seperti Saint Bartholomeuw yang jatuh setiap tanggal 24 Agustus. Gaspard de Coligny adalah pemimpin Huguenot yang pertama kali dibunuh pada tanggal 24 Agustus 1572. Akhirnya bukan hanya pemimpin Huguenot, namun Huguenot itu sendiri dikejar dan dibunuh. Bukan hanya di ibukota negara, namun pembunuhan tersebut menyebar ke seluruh Prancis dan hal itulah memicu kembali Perang antara Katolik Prancis dan Protestant (Huguenot) yang sebelumnya sudah menyepakati perdamaian yang tertuang dalam Peace of Saint-Germain-en-Laye. Perjanjian perdamaian itu sendiri ditandatangani oleh Charles IX dan Gaspard de Coligny pada tahun 1570.
Lukisan François Dubois (1529–1584) "Le massacre de la Saint-Barthélemy" 
Dubois adalah saksi mata peristiwa ini

Setelah lebih 30 tahun pertikaian antara Huguenot dan Katolik, akhirnya pada tahun 1598 dikeluarkan Dekrit Nantes yang dikeluarkan oleh Raja Henry IV (13 December 1553 – 14 May 1610). Isi dekrit itu antara lain mengakui persamaan hak dan kemerdekaan antara Huguenot dan Katolik dalam hak-hak warganegara. Dekrit itu juga memisahkan antara Agama dan politik kenegaraan dan membolehkan unsur-unsur sekuler masuk dalam kehidupan bernegara. Ketika terjadi pembunuhan massal Huguenot, Henry IV dilindungi oleh istrinya, Margaret. Henry IV sendiri, pada tahun 1598 'berpindah' dari Protestan ke Katolik, karena Raja yang diakui di Prancis adalah Katolik.Dan dari pihak gereja katolik, menganulir pernikahan Henry IV dan Margaret yang dilakukan pada tahun 1572 yang lalu. Namun, kelak dekrit ini ditolak oleh cucu Henry IV, yaitu Louis XIV. Pada tahun 1685, Louis XIV mengeluarkan Dekrit Fontainebleau yang menyatakan bahwa Protestantism adalah illegal . Hal itu membuat 400,000 Huguenot meninggalkan Prancis, pindah Inggris, Prussia, Belanda, Switzerland, dan Afrika Selatan.

Ella Tournier mewakili dari abad 20, sedangkan Isabelle du Muolin mewakili dari abad 17. Kedua wanita ini diceritakan oleh Tracy yaitu  memiliki profesi yang sama: bidan, memiliki rambut merah, seorang istri, dan menjalin hubungan dengan seorang pria idaman selain suami mereka. Selain itu, Tracy membuat kesamaan mereka dalam hal perpindahan tempat tinggal. Ella, tadinya bertempat tinggal di San Fransisco, ia melakukan profesinya dengan senang, namun karena ia mengikuti kepindahan Rick, suaminya yang berprofesi sebagai seorang arsitek ke Prancis, ia pun meninggalkan pekerjaannya dan belajar bahasa Prancis dengan Maddame Sentier. Ayah Ella menyarankannya agar menghubungi saudara dari keluarga mereka yang tinggal di Moutier, sebuah kota kecil di barat laut Swiss.

Isabelle de Muolin terbiasa membantu persalinan ibu-ibu di desanya. Suatu kali ia membantu persalinan kakaknya Marie, namun sayang Marie dan anaknya tidak tertolong. Dan ketika Isabelle mengandung anak ketiga, ia berharap anaknya perempuan-setelah Petite Jean dan Jacob- dan ternyata, ia diberikan anak perempuan dan diberi nama seperti kakaknya, Marie. Sejak menikah dengan Ettiene Tournier, Isabelle ikut dengan keluarga suaminya. Ia merasakan 'penolakan' dari mertuanya, terutama ibu mertuanya, Hannah. Yang pertama karena Isabelle berasal dari keluarga yang miskin dan kedua, karena Isabelle memiliki rambut merah.

Kain Biru dan Rambut Merah
Pada abad pertengahan, lukisan yang menggambarkan Perawan Maria, diambil dari warna biru yang dimiliki oleh batu perhiasan yang dinamakan Lapis Lazuli. Lapis Lazuli ini lebih bernilai dari emas dan ditambang di daerah yang kita kenal sekarang Afganistan. Lapis, berasal dari bahasa Latin yang berarti batu. Lazuli, berasal dari bahasa Latin lazulu turunan dari bahasa Arab, "lazaward", bahasa Persia, "lazhward" yang berarti biru atau sorga. Batu ini sudah lama menjadi hiasan kalung dan perhiasan sejak abad prasejarah. Pelukis seperti Fra Angelico menggunakan bubuk batu ini sebagai pewarna biru yang disebut "Ultramarine" pada jubah Maria pada lukisan di bawah ini.

Judul: The Flight into Egypt (c.1450)
Mengapa biru?
1. menurut artikel di sini, orang mesir kuno menggunakan lapiz lazuli (yang berwarna biru) sebagai representasi sorga.
2. menurut artikel di sini karena pada abad pertengahan, warna biru adalah warna asli Byzantium dan menggambarkan warna seorang permaisuri. Mary dianggap sebagai permaisuri sorga.

'St Mary Magdalene' oleh: Piero di Cosimo 
Mengapa merah?
ada konotasi negatif dengan warna merah pada abad pertengahan. Warna merah dianggap warna yang berhubungan dengan iblis, kejahatan. Dari sumber ini diketahui:
1. dalam mitos Jerman, Dewa Thor (nama lainnya: Ása-Thór, Donar, Donner, Thór, Thunder, Tor) memiliki rambut merah
2. Wotan, ayah Thor, memiliki mata dan janggut berwarna merah.
3. Wanita berambut merah dianggap bereputasi jelek karena diasosiasikan wanita penyihir.
4. Pepatah Eropa kuno yang mendiskriminasikan orang yang berambut merah dan berjanggut merah: "Red hair, evil hair" and "Red beard - devil’s way".

Entah prasangka darimana bahwa yang berambut dan berjenggot merah diliputi kuasa jahat. Ada sedikit penjelasan-walaupun tidak berdasar- bahwa di abad pertengahan visualisasi Yudas, salah satu murid Yesus yang mengkhianatinya, dalam lukisan, berambut merah. Selain itu, St Mary Magdalene digambarkan sebagai wanita pendosa datang kepada Yesus, juga berambut merah. Dari sebuah artikel, beginilah gambaran pada orang yang berambut merah pada abad pertengahan:
"false, dangerous, tricky, shameless, over-sexed, deceitful, hot-tempered, unfaithful, foolish, war-like, crude, vulgar, low-class and unlucky for those who meet them"
Mitos dan Pengetahuan
Dari cerita yang dituliskan oleh Tracy, kita dapat membandingkan bagaimana kehidupan pada awal abad renaissance serta kehidupan di abad saat ini. Pada cerita Isabelle, semuanya serba terikat dengan tradisi dan mitos. Ia adalah 'korban' tradisi tersebut. Ia seperti tidak punya posisi tawar dengan apa yang dilakukan orang-orang yang mengolok-oloknya dengan kata La Rousse. Di keluarganya pun, Isabelle seperti tidak diperhitungkan. Ibunya meninggal karena infeksi gigitan serigala, dan ia satu-satunya perempuan di rumah, namun ayahnya lebih mempercayai saudara laki-lakinya mengurus pertanian. Isabelle juga difitnah karena seorang anak yang terkena kaca patri. Padahal kaca itu sendiri pecah karena terkena lemparan orang. Isabelle juga menerima perlakuan tidak senonoh dari Etiene Tournier yang kelak menjadi suaminya. Dan yang lebih miris, Isabelle tidak mendapatkan pembelaan dari Etiene, sebab sesungguhnya Etiene tidak mencintai Isabelle. Demikian juga ayah Isabelle, ia tidak menyetujui Etiene menjadi menantunya. Ayahnya tidak suka dengan keluarga Tournier. Perlakuan yang manis hanya diperoleh Isabelle dari Susanne, iparnya. Mungkin hanya Susanne yang waras tidak mempercayai mitos rambut merah Isabelle.

alun-alun Lisle-sur-Tarn
Pada cerita Ella Tournier, ia adalah seorang wanita yang berpendidikan dan mandiri. Ia tidak tinggal diam di rumah manakala suaminya bekerja. Ella menggambarkan suasana alun-alun Lisle-sur-Tarn seperti kota impiannya. Empat penjuru alun-alun yang dikelilingi ruko di sepanjang jalan serta sebuah air mancur di tengah-tengah alun-alun tersebut. Ia juga mengikuti kelas Bahasa Prancis bersama Madame Sentier. Ia juga berkenalan dengan seorang pustakawan yang bernama Jean-Paul yang ternyata belajar ilmu kepustakaan di Columbia University. Perkenalan dengan pustakawan tersebut membawa keuntungan bagi Ella, sebab Jean-Paul banyak mengetahui sejarah dan memiliki jejaring perpustakaan di daerah Prancis. Ella juga diberi kebebasan oleh Rick untuk melakukan perjalanan sendiri mencari kerabatnya di Moutier.

Di Moutier, bertemu kisah Isabelle dan Ella. Ella merasakan perbedaan penataan kota antara di Lisle-sur-Tarn dengan di Moutier. di Lisle-sur-Tarn lebih tertata rapi dibanding Moutier, namun orang Swiss (Moutier) lebih ramah dari pada orang Prancis (Lisle-sur-Tarn). Bertemunya Ella dengan saudaranya, Jacob Tournier membawa pada silsilah keluarga Tournier. Ella dibawa ke rumah pertanian milik leluhur. Dan disitulah mimpi-mimpi buruknya terjawab.

Terlepas dari kisah nyata dan fiksi yang diramu oleh Tracy dalam buku ini. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya ketika membaca dan menelaah kisah The Virgin Blue ini. Pertama, munculnya perubahan mendasar dalam kehidupan beragama dan politik memiliki dampak yang sangat luas. Mungkin sejarah akan bercerita dari sisi puncaknya saja, namun di tingkat rakyat bawah, perubahan tersebut sering kali tidak berpihak pada yang lemah. Kedua, pendidikan dan pengetahuan adalah peluang untuk membasmi kekerdilan berpikir. Pada akhir abad pertengahan, perempuan tidak diberikan wadah untuk sebagai mitra pengambil keputusan (kecuali ratu). Padahal, ia juga seorang manusia yang juga memberi kontribusi yang tidak kalah banyak dengan laki-laki. Selain itu, pada masa itu perempuan sering menjadi 'korban' mitos yang menyudutkan mereka. Dan mampukah (agama) membela mereka? sampai sekarang masih ditemukan perempuan yang tidak dibela hak-haknya. Ketiga, masing-masing orang memiliki spiritualitas yang berbeda, kita tidak perlu mengganggu apalagi menghakimi. Dalam sejarah seringkali yang digunakan adalah pendekatan kekuasaan bila ditemukan adanya perbedaan keyakinan.

Pesan dari Isabelle, sebuah kerinduan akan pada tempat masa lalu yang penuh dengan kelimpahan. Kita baru dapat mengerti sesuatu sangat berharga saat kita temukan bahwa kita sangat sulit memperolehnya kembali.

Ketika kita memiliki segalanya, kita menganggapnya biasa-biasa saja. Seperti air. Kita tidak berpikir tentang air sampai merasa haus dan tidak ada air. (h.163)

@hws19112011

8 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-