Thursday, December 15, 2011

Kopi Merah Putih: Obrolan Pahit Manis Indonesia


Judul: Kopi Merah Putih
Penulis: Indonesia-Anonymus
Editor: Isman H. Suryaman
Tebal: 192 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2009
ISBN13: 9789792245295

Tidak ada yang lebih menyenangkan bila menyesap secangkir kopi hangat ditemani dengan obrolan yang menarik. Tidak heran, di kedai-kedai kopi di sepanjang jalan Aceh dipenuhi dengan orang-orang yang membahas politik, ekonomi, pemilihan kepala daerah, dan sebagainya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa seluruh informasi di negeri ini tersedia di warung kopi. Demikian juga di lapo tuak yang ada di Medan dan sekitarnya. Isinya dipenuhi dengan orang-orang dengan berbagai profesi, tema pembicaraannya juga kurang lebih sama dengan dengan warung kopi di Aceh, mulai dari adat, kasus korupsi, kasus suap dan sebagainya. Namun sayang, perjudian juga marak di tempat ini, karena itu lapo tuak dianggap tempat yang tidak baik. Di Ambon, keadaannya juga mirip. Rumah kopi penuh setiap hari dengan orang-orang yang mengobrol. Perpaduan yang manis antara kopi dan kue kering menjadi teman berbincang yang mantap, Itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia suka berbagi dan apakah mungkin menjadi ajang yang subur bagi orang-orang yang suka membual dan besar bicara? entahlah....

Anda dikatakan berhasil menjadi pusat perhatian manakala topik yang Anda lontarkan di forum warung kopi adalah topik yang Anda kuasai. Entahkah itu tentang kisah 1001 malam, cerita Abunawas, kasus korupsi terkini, atau mungkin kisah cinta Angie dan perwira Polri. Karena itu mungkin Anda perlu pengetahuan yang lebih, artinya mengakses informasi yang ada di koran, majalah, atau televisi, lalu dibagikan dengan rekan-rekan pengunjung warung kopi.


Buku ini berisikan kira-kira apa topik obrolan di warung kopi tersebut. Diramu dengan ringan, sehingga obrolan tidak menjadi berat. Ada masalah mengapa Anda diperbolehkan masuk ke gedung di Jakarta dengan memakai jas mahal, berapa rupiah yang terbuang karena membiarkan DVD atau televisi Anda dalam keadaan standby, bagaimana rahasia keberhasilan Singapura dalam bidang pendidikan, atau apa perbedaan negara Venezuela dan Norwegia dalam mengelola minyak mereka?

Dari awal, penulis buku ini sudah 'mengingatkan' bahwa metode mereka bukanlah penelitian ilmiah. Mereka tidak melakukan kajian literatur ilmiah, namun menggunakan internet sebagai rujukan mereka dalam menyusun/menggali data-data. Setiap kutipan atau data yang mereka peroleh, dituliskan dalam catatan kaki. Beberapa hal yang menjadi perhatian saya dengan topik-topik yang dituliskan ini antara lain mengenai bahan bakar minyak. Seperti kita ketahui, bahwa kita termasuk penghasil minyak yang sekaligus pengimpor minyak. Hal itu dikarenakan negeri kita termasuk pengkonsumsi minyak yang besar. Dan data APBN menunjukkan bahwa subsidi untuk bahan bakar minyak kita lebih dari 100trilyun/tahun. Suatu angka yang luar biasa besar. Bila membandingkan apa yang dilakukan oleh Venezuela dan Norwegia, kita miris. Sebab, kekayaan Indonesia tidak bertambah dengan terus menerus memberikan subsidi. Venezuela hampir mirip dengan Indonesia. Venezuela termasuk penghasil minyak terbesar di Amerika Selatan, dan Venezuela juga 'membiarkan' harga minyak tetap murah agar dapat dinikmati oleh rakyatnya. Berbeda dengan Norwegia yang 'mengkonversi' subsidi tadi dengan malah menjual dengan harga yang cukup tinggi kepada rakyatnya. Alhasil kebijakan tersebut memberi dampak. Bagi Venezuela, dengan adanya minyak harga murah, rakyatnya bisa menikmati berkendara dengan murah, namun konsumsi minyak mereka semakin besar dan berakibat disamping masalah lingkungan tentu saja masalah suatu saat ketersediaan minyak akan habis dan mereka harus mengimpor dan itu bicara masalah uang yang keluar. Bagi Norwegia, harga minyak yang tinggi, tentu menekan jumlah konsumsi minyak dalam negeri, dan itu menyebabkan minyak norwegia diekspor. Keuntungan dari penjualan minyak, dikembalikan lagi ke rakyatnya dalam bentuk tabungan, jaminan sosial dan pensiun rakyatnya. Dan kekayaan tersebut semakin banyak setiap tahun, bisa dibayangkan betapa sejahteranya rakyat disana.

Bicara BBM, saya memang prihatin. Suatu hari saya mengobrolkan tentang hal ini dengan teman-teman saya. Ketika kami mengendarai mobil dan mengisi bahan bakar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Lampung, terlihat antrian panjang pengisian di jalur sepeda motor. Antrian panjang seperti itu ternyata cukup sering terjadi. Namun untuk mobil, antrian sepanjang itu tidak terjadi. Saya mengutarakan pendapat saya tentang hal itu, bahwa seharusnya mobil juga mendapat perlakuan serupa. Artinya ada penjatahan pembelian BBM bersubsidi. Jangan karena mentang-mentang tangkinya besar lalu dia bisa enak-enak beli banyak. Saya mencoba memberikan perbandingan,  penggunaan bahan bakar untuk sepeda motor adalah untuk energi gerak, sementara untuk mobil, disamping untuk energi gerak, sebagian bahan bakar adalah untuk mendinginkan kabin (AC). Artinya, ada sepersekian bagian dari BBM bersubsidi tersebut yang digunakan untuk kenyaman. Dan pertanyaan mendasarnya: Jika demikian, apakah tujuan memberikan subsidi terhadap BBM itu tepat sasaran? Mungkin hal itu juga yang menyebabkan kemacetan seperti di Jakarta ini semakin parah. BBM yang murah menyebabkan orang-orang lebih menggunakan mobil pribadi alih-alih kendaraan umum (yang memang kondisinya juga memprihatinkan).

Permasalahan kedua yang menjadi perhatian saya adalah ketidakmerataan listrik di Indonesia. Saya mengamati status teman-teman di FB maupun di twitter tentang keluhan terhadap pemadaman bergilir oleh PLN. Hal itu juga menjadikan PLN juara:

Wikipedia : "Saya tahu semuanya..."
Google : "Saya punya semuanya..."
Facebook : "Saya kenal semuanya..."
Internet : "Tanpa saya, kalian gak ada apa-apanya..."
Desktop, Laptop, netbook, smartphone : "Ah, lu semua tanpa gw juga gak bakal bisa buka Wikipedia, Google, Facebook dan internet.... "

PLN : "Ngomong aje lu pade.... Gw matiin nihhh !!!"


Suatu ketika juga saya bertanya dengan seorang penjual martabak manis di sebuah jalan protokol di Lampung, "sudah berapa lama jualan martabak pak?"
beliau menjawab: " baru sepuluh tahun" "saya biasanya buka mulai jam 8 malam sampai jam 12 atau jam 1, saya lebih suka pekerjaan saya begini daripada bekerja di siang hari, kalau malam nggak panas tapi pendapatannya beda-beda dikit dengan orang yang bekerja siang hari."
Sejenak saya melihat bangunan toko yang menjual roti yang terkenal dengan kincir angin di bagian atasnya. Dalam hati saya, mengapa makanan khas Indonesia seperti martabak manis ini tidak mampu menerobos pasar internasional? disini roti yang berasal dari negara penjajah bisa digemari? apa sih perbedaannya? kalau masalah rasa, martabak tidak kalah dengan roti kincir angin itu. Apakah karena kemasan yang kurang menarik? atau kenapa? Kapan martabak bisa membangun franchise makanan yang besar?

Kegelisahan seorang peminum kopi mungkin tidak sama dengan mereka yang harus bergelut dengan susahnya hidup setiap hari. Mungkin bagi seorang peminum kopi seperti saya tidak pernah mengetahui bagaimana nasib buruh petik di kebun kopi. Siapa saja yang diuntungkan dengan secangkir kopi yang saya teguk tiap hari, atau apakah nasib petani kopi Indonesia tidak jauh berbeda dengan penjual bakso yang diceritakan di buku ini, yang lebih bangga anaknya menjadi pegawai kantoran dibanding profesi penjual bakso (atau petani kopi). Sayangnya, di buku ini tidak ada satupun tulisan yang membahas tentang kopi dari hulu ke hilir.

Hmm....saya pun harus berterimakasih pada orang yang membawa kopi ke nusantara ini...termasuk orang yang mulai menanam, memetik, menjemur, membawa ke pabrik, dikemas, hingga hadir di cangkir saya.











 @hws15122011

12 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-