Thursday, August 18, 2011

Kuantar ke Gerbang


Judul: Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno
Penulis: Ramadhan KH
Desain Sampul: Natasa T.
Tata Letak: Rakhmat Ariansyah
Tebal: 466 halaman
Penerbit: Sinar Harapan , 1981

Bung Hatta mengutip dua bait sajak penyair tenar Rene de Clerq
"Hanya ada satu negeri yang bisa menjadi tanah airku. Yaitu negeri yang berkembang karena perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku."

Soekarno. Siapa yang mengenal orang terbesar Indonesia ini. Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Dialah tokoh sentral roman karangan Ramadhan KH ini.

Soekarno hidup jauh dari orang tuanya di Blitar sejak duduk di bangku sekolah rakyat, indekos di Surabaya sampai tamat HBS (Hoogere Burger School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, dan ia menikahi Siti Oetari, anaknya (1921). Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School), Sekolah Teknik Tinggi yang kemudian hari menjadi ITB. Semasa kuliah di Bandung, Soekarno menemukan jodoh yang lain, menikah dengan Inggit Ganarsih (1923), dan meraih gelar insinyur, 25 Mei 1926.

Tuesday, August 9, 2011

Para Pemuja Matahari


Judul: Para Pemuja Matahari
Penulis: Lutfi Retno Wahyudyanti
Desain cover & Ilustrasi: Yulia Qomariah
Lay out: Poras Sofrano
Tata cetak: Tri Rizqita
Penerbit: Kotak Permen, Yogyakarta, Juni 2011
ISBN: 9786029932607

Darimana orang membaca hidupmu? dari apa yang kau tulis. Sedikit dari kita yang menyadari bahwa meninggalkan sesuatu dari segelintir hidup lewat tulisan, itu akan bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama.

Naia adalah seorang gadis berusia 19 tahun. Ia seorang mahasiswi Antroplogi serta seorang putri tunggal dari sebuah keluarga yang cukup berada. Keadaan keluarganya yang mapan ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Pergerakannya di rumah, selalu diawasi mamanya. Praktis, ia pun menjadi anak rumahan, yang hanya mengenal rute: rumah-kampus-rumah. Muncul pemberontakan kecil dalam dirinya manakala ia menyaksikan teman-temannya yang bisa berpergian ke luar kota tanpa ada yang melarang. Naia menyusun rencana agar bisa berlibur tanpa harus didampingi mamanya. Ia ingin menerobos ke dunia luar.

Rencana disusun. Dalam rencananya, Naia ingin menyusuri Pulau Jawa dari Barat hingga ke Timur. Rute pertamanya yaitu perjalanan Yogyakarta-Jakarta dengan kereta api ekonomi. Naia termasuk gadis yang nekat. Demi keinginannya tercapai, ia rela memotong pendek rambutnya agar berpenampilan seperti laki-laki. Alasannya, demi keamanan perjalanannya. Apakah hal seperti ini pernah terjadi di dunia nyata, saya tidak tahu namun menarik juga pengalaman seperti ini.

Sunday, August 7, 2011

Hidup itu Indah


Judul Lengkap: Hidup itu Indah, Kalau Kita Tahu Cara Menikmatinya
Penulis: Ayub Yahya
Desain Sampul, Ilustrasi, Tata Letak: Zaenal Arifin
Tebal: viii+137 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011
ISBN: 9789792271812

Buku ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Ayub Yahya di blognya dan notes di account Facebooknya. Ada 2o tulisan pendek dalam buku ini. Ayub meramu tulisannya dengan bahasa yang ringan dan kocak, sehingga ada beberapa kalimat yang mungkin membuat pembaca tersenyum.

Dalam penyampaian pesan, Ayub menggunakan cerita. Dalam penilaian saya, cerita yang ia gunakan boleh jadi ada yang benar, ada yang memang rekaan. Tidak penting memang apakah itu rekaan atau tidak, tetapi cerita itu mewakili dunia nyata yang kita hadapi. Dan dunia nyata kita itu seringkali antara senang dan sedih, serius dan tertawa. Misalnya, dalam cerita "Terlalu", saya tertawa pada cerita Bu Ajib dan Bu Seno. Bu Ajib yang mengunjungi Bu Seno yang suaminya sakit. Bu Ajib berempati dengan menceritakan bahwa dulu suaminya juga sakit yang sama dengan suami Bu Seno. Bukan hanya sakit yang sama. Rumah sakit, dokter, susternya juga sama! hanya kamar yang tidak sama. Bu Seno mungkin merasa memiliki teman senasib seperasaan. Bu Seno bertanya kepada Bu Ajib bagaimana keadaan suami Bu Ajib sekarang. Bu Ajib menjawab bahwa suaminya meninggal! Antara mau menghibur dan malah membuat suasana tidak enak. Lagi-lagi kembali pada hikmat.