Tuesday, July 3, 2012

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab


Judul: Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (Kumpulan Cerpen)
Pengarang: Linda Christanty
Desain cover: Mulyono
Foto diambil Shutterstock.com
Setter: Rahayu Lestari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Juni 2012)
Tebal: 132 halaman
ISBN: 9789792284959

Ada 10 cerpen dalam buku ini. Empat diantaranya adalah karya tahun 2012, empat cerpen lagi karya tahun 2011, dan tiga lagi adalah karya di bawah tahun 2011. Kesepuluh cerpen ini merupakan buah karya Linda Christanty setelah kumpulan cerpen yang terakhir diterbitkan tahun 2010 "Rahasia Selma". Kesepuluh cerpen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ketika Makan Kepiting (2005)
2. Zakaria (2011)
3. Karunia dari Laut (2004)
4. Sihir Musim Dingin (2009)
5. Jack dan Bidadari (2012)
6. Perpisahan (2011)
7. Kisah Cinta (2012)
8. Pertemuan Atlantik (2012)
9. Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2011)
10. Catatan tentang Luta; Manusia yang hidup Abadi (2012).


Membaca beberapa cerpen karya Linda ini membutuhkan bagi saya membutuhkan pembacaan berulang, untuk mendapatkan apa makna ceritanya. Tema-tema yang disampaikan sering kali tersembunyi, namun jika kita jeli, cerpen-cerpen tersebut menggambarkan suatu fenomena. Sebagai contoh pada cerita "Ketika Makan Kepiting" saya memaknai bahwa kadangkala bentuk balas dendam pada kemiskinan adalah dengan melakukan hal-hal yang dulu tidak dapat dilakukan dikarenakan ketiadaan uang. Hal ini memang menjadi fenomena yang sangat umum di masyarakat kita dimana orang-orang yang tadinya hidup miskin dan berkekurangan, setelah ia memiliki pekerjaan dan uang, maka ia akan puaskan dengan makan makanan kesukaan, berjalan-jalan, membeli barang-barang mewah, berpesta dan sebagainya. Namun kesemuanya itupun berpulang kepada yang bersangkutan apakah ia memaknainya sebagai suatu balas dendam, atau suatu bentuk syukur karena memperoleh kesempatan menikmati sesuatu yang dulu didambakan. Namun bagaimana bila yang terjadi adalah ingin memberikan yang terbaik dari penghasilan kepada seseorang, namun tak dapat terlaksana karena seseorang itu telah tiada?

Cerita yang sederhana namun muatan lokalnya cukup kental ada dalam "Zakaria". Kenapa muatan lokalnya cukup kental? karena perkara azimat-azimat atau ilmu hilang atau sebagainya hanya muncul di daerah-daerah tertentu yang masih memercayai kekuatan-kekuatan gaib yang melindungi, terlepas tujuannya untuk hal baik atau tidak. Pada akhir membaca cerita ini saya hanya berpikir, benarkah cerita ini? dalam konteks pemulihan keamanan semasa Gerakan Aceh Merdeka (GAM), memang tidak dapat ditebak siapa memihak siapa, pun dalam keluarga, persinggungan fanatisme kerap terjadi. Dan mungkin ini menjadi pertanyaan saya selanjutnya, pernahkah ada cerita dari sudut pandang tentara atau aparat keamanan yang bertugas di Aceh melihat bagaimana keadaan Aceh pada saat itu?

Cerita yang sulit dimengerti oleh saya juga Sebagai contoh pada "Sihir Musim Dingin", saya agak kesulitan memetakan siapa tokoh-tokohnya. Dan lagi, pada awal pembuka cerpen tersebut, Linda menggunakan kata "ia" sebagai kata ganti tanpa merujuk siapa yang dimaksud. Lalu pada "Jack dan Bidadari". Walau dari awal saya bakalan menduga ini adalah hubungan cinta sesama, tetapi saya tidak habis mengerti apa maksud kalimat terakhir, dimana sang narator memunculkan tokoh Ratih dan kalimat selanjutnya pun membuat saya bertanya-tanya.

Mungkin cerita "Pertemuan Atlantik" adalah pengalaman Linda ketika bertemu dengan penulis-penulis dan aktivis dari berbagai negara (terutama dari negara Asia dan Afrika) di Casablanca, Maroko . Hal tersebut terlihat dari isi percakapan narator dengan teman-temannya yang berisikan tentang pertemuan konferensi penulis. Tentu saja bagi mereka yang tinggal di daratan Afrika akan merasa istimewa melihat Samudera terbesar kedua setelah Samudera Pasifik, namun mungkin bagi orang Indonesia, hal itu tidak terlalu istimewa.

Pada cerita utama buku ini, "Seekor Anjing Mati di Bala Murghab" menggambarkan suasana yang ditangkap oleh mata kamera dan mata fotografer yang melihat perang secara dekat. Sungguh sebenarnya perang itu tidak ada manfaatnya selain memuaskan nafsu berperang saja. Siapa yang peduli pada anak-anak yang punya daya rekam kuat menyaksikan kekerasan begitu biasa di depan mereka? Bagaimana kelak mereka menghargai sesama ciptaan seperti anjing terlebih sesama manusia? Siapa yang peduli akan pengalaman traumatik akibat perang? Tidak ada yang mampu menjawab atau pura-pura tidak mendengar pertanyaan seperti ini.

Meski saya tidak mengerti semua cerita pendek ini, namun saya menilai cerita tersebut adalah cerita berkelas dimana kita sebagai pembaca seolah ditantang kemampuannya menginterpretasikan kisah di dalamnya dalam konteks-konteks sosial saat ini maupun masa lalu. Tapi barangkali di sana kenikmatannya, membaca sebuah cerita pendek yang punya korelasi akan kehidupan nyata, seperti menonton adegan drama dalam baris-baris teks kaku.

 
Helvry Sinaga | 3 Juli 2012





6 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-