Tuesday, July 31, 2012

Ulas Cerpen Klasik: Pasien di Tempat Tidur No.29 (Guy de Maupassant)



Kapten Epivent, Seorang perwira Prancis yang sangat bangga dengan bentuk tubuhnya yang bagus. Bentuk tubuhnya langsing seperti memakai korset, dengan dada maskulin, bidang dan kokoh. Pahanya mengagumkan seperti paha pesenam, penari. Otot-ototnya tergambar pada setiap gerakan di balik celana panjang merah yang dikenakannya (h.308). Hal tersebut membuat ia sombong dan menertawakan perwira yang bertubuh pendek dan gemuk, namun terlebih lagi, ia benci pada siswa ÉCOLE POLYTECHNIQUE yang digambarkan berkacamata, kaku, dan kikuk, yang mengenakan seragam sama konyolnya seperti kelinci yang mendengarkan khotbah (h.310). Ia menjadi pusat perhatian para perempuan dan bila ada pertemuan makan malam dengan kalangan perempuan, maka ia akan mengakhirinya di tempat tidur. Karena itu, beberapa orang di kota itu tidak mau membawa istri mereka yang cantik ke pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh Kapten Epivent.


Hingga satu saat Kapten Epivent berkenalan dengan Irma, istri seorang pengusaha kaya. Mereka tampaknya tidak peduli apa yang digosipkan orang sekota tentang hubungan mereka, Epivent tampaknya bangga telah menaklukkan Irma. Keadaan perang yang memaksa mereka berpisah untuk sementara dikarenakan Epivent dikirim ke medan perang. Sebelum Epivent berangkat, mereka bersedih hati lalu saling menghibur. Setelah perang usai, Epivent kembali ke kota tersebut, namun tak menemukan Irma lagi. Ia menanyakan ke seisi kota, namun tak seorangpun tahu kemana Irma pergi.


Judul Cerita: Pasien di tempat tidur No.29
Judul Asli: Resume du Lit 29
Penulis: Guy de Maupassant
Sumber terjemahan: Kumpulan Cerita Pendek Guy de Maupassant
Penyunting: Ida Sundari Husen
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia (2004)

Sebuah surat tiba di kantornya. Surat itu berasal dari Irma yang mengatakan bahwa ia sedang sakit di rumah sakit dan meminta Epivent menjenguknya. Namun betapa terkejutnya ia ketika menemukan bahwa Irma menderita sakit sifilis. Dan keadaan Irma yang tidak lagi cantik, namun begitu kurus dan lelah sampai Epivent tak mengenalinya lagi. Menurut Irma, ketika Epivent berangkat ke medan perang, ia dipaksa tidur dengan tentara Prusia dan mengakibatkannya menderita sifilis. Karena itu, Irma ingin membalas dendam, dengan tidak mengobati penyakitnya, namun tidur dengan sebanyak mungkin tentara Prusia, dengan tujuan menulari tentara-tentara tersebut. Dan Irma meminta Epivent datang mengunjunginya terus di rumah sakit, di kamar no.29.

Sebuah cerita yang tampaknya sederhana namun memiliki makna yang dalam dimana kita mempertanyakan kembali: pertama, apa sebenarnya arti cinta dan bagaimana membuktikannya. Kedua, dibandingkan dengan Epivent yang membunuh musuh dengan pedang, dan memperoleh penghargaan, lalu bagaimana dengan Irma yang menulari tentara musuh dengan penyakit menular yang ganas, apakah ia memperoleh penghargaan yang setimpal? Ketiga, sampai batas mana cinta teruji, apakah pada tubuh yang bagus dan wajah yang rupawan, ataukah pada perasaan yang dalam?

Cerita pendek ini ingin menunjukkan bahwa jangan menganggap diri lebih tinggi daripada manusia lain. Sesuatu yang sifatnya fana tidak perlu untuk disombongkan apalagi sampai merendahkan sesama. Dan perbuatan-perbuatan heroik adalah bukan menumpas musuh, tetapi menghargai manusia sebagai sesama serta menghargai cinta dan ketulusan.


helvry sinaga | 31 Juli 2012


2 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-