Tuesday, November 6, 2012

Bordir (Embroideries)



Sebagai perempuan, kita berbeda, namun juga sama dengan laki-laki. Ada kondisi umum yang membuat perempuan sama dengan laki-laki, namun ada pula kondisi khusus yang dimiliki perempuan yang membuatnya berbeda, tetapi bukan berarti untuk dibedakan. Perbedaan dengan cara menilai positif adalah perbedaan yang melihat perempuan dengan nilai dan cara beradanya yang berbeda dengan laki-laki. Nilai dan cara berada perempuan dikonstruksikan dan dikondisikan oleh pengalaman-pengalaman perempuan yang melahirkan, menyusui, merawat, dan mempunyai tingkat kesensitifan serta kepedulian yang besar (Gadis Arivia, 2005).

Manusia dengan segala kekompleksan masalahnya berusaha agar hidupnya tidak menjadi sia-sia. Seringkali manusia belajar dari pengalaman, baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Berbagi pengalaman, adalah hal yang lumrah dalam kehidupan manusia. Seringkali kita merasa beruntung bahwa kejadian-kejadian yang kita alami, belum seberapa dibandingkan dengan pengalaman orang lain. Dan dari situlah kita belajar bersyukur. Tidak ada yang absolut dalam pembelajaran, tergantung konteks dan pemaknaan masing-masing individu akan pengalaman tersebut. Dan apa yang unik dari kondisi khusus yang dialami perempuan, itulah yang dibagikan Marjane Satrapi melalui novel grafis, Embroideries ini.

Bordir
Judul asli: Embroideries
Penulis: Marjane Satrapi
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Ilustrasi sampul: Marjane Satrapi
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Maret 2006)
ISBN: 979-22-2007-0
Tebal: 136 hlm

Buku ini menunjukkan bagaimana suasana pertemuan di antara perempuan pada keluarga Marjane Satrapi. Dari suasana gambar tersebut, terlihat bahwa keluarga Satrapi adalah keluarga yang berada, dimana suasana obrolan tersebut di tengah-tengah acara minum teh dan terlihat pakaian nenek Satrapi dan teman-temannya cukup bagus.

Percakapan setelah makan siang di keluarga Satrapi dilakukan dengan acara minum teh. Tokoh utamanya adalah perempuan dan masing-masing berkontribusi pada serunya percakapan. Namun, yang menarik adalah, content dari percakapan itu. Dari berbagai latar belakang, mereka semua sepertinya punya bahan obrolan, baik dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Permasalahan yang diungkapkan terutama adalah masalah rumah tangga, menyangkut pernikahan muda, ditinggalkan laki-laki yang dicintai, seks, cinta segi tiga, dan bahkan hal-hal yang menurut pandangan kita irrasional seperti resepsi pernikahan antara mempelai wanita dengan foto mempelai pria.

Sebuah artikel (2004) yang ditulis oleh Mehrangiz Kar, dapat diketahui bahwa terjadi transformasi peranan oleh perempuan di Iran. Revolusi Iran menyebabkan perempuan banyak memegang posisi-posisi di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Satu kutipan yang menarik dari tulisan tersebut adalah sebagai berikut:
Thus, the most powerful opponent of the human rights of women in Iran is a mentality that attacks these values in the guise of religion and in the name of religiosity. The great injuries that women suffered after the victory of the 1979 revolution can hardly be described in a few words.
Meski masih banyak artikel atau bahan yang terkait, dengan apa yang terjadi dengan perempuan Iran pra dan pascarevolusi Iran tahun 1979, saya menarik kesimpulan:
Pertama, obrolan perempuan dalam novel grafis Embroiders ini adalah cuplikan kisah-kisah nyata yang dialami oleh perempuan Iran. Kedua, mengeluarkan uneg-uneg dapat menjadi terapi pada kisah pahit yang menimpa, namun bila tak pada tempatnya terkadang dapat membuat perselisihan. Ketiga, pada dasarnya daripada dimasukkan dalam kategori tabu, pendidikan seks lewat cerita adalah cara yang efektif. Memberi edukasi pada anak-anak maupun remaja menunjukkan bahwa kita memedulikan mereka sebagai sesama manusia. Keempat, solidaritas dan ikatan antarperempuan sangat kuat. Hal ini juga dibuktikan program-program pemerintah di bidang pemberdayaan manusia lebih berjalan efektif di kalangan ibu-ibu dibanding bapak-bapak.

Meski mungkin ada yang tidak setuju dengan Marjane Satrapi dalam bercerita terutama yang dinilai cukup vulgar, namun itulah tugas pencerita. ia hanya menceritakan, tentang bagaimana penerimaan dan imajinasi adalah terserah sidang pembaca. Bagi dia barangkali perluasan pendidikan tentang kehidupan perempuan Iran lebih mudah disebarkan lewat cerita bergambar dibanding seminar-seminar atau kuliah-kuliah. Tentu saja kisah para perempuan Iran ini lebih mudah dicerna lewat gambar, dibandingkan bila dibaca dengan konsep "Oh Mama Oh Papa."


Membaca kisah ini saya sendiri merasa diperkaya.


Jkt, 6 November 2012

11 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-