Tuesday, December 3, 2013

Pasung Jiwa




Sebelum menelaah novel ini, saya mencari apa arti kata "pasung". Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) online, pengertian pasung adalah: pasung /pa·sung/ n alat untuk menghukum orang, berbentuk kayu apit atau kayu berlubang, dipasangkan pd kaki, tangan, atau leher; memasung /me·ma·sung/ v 1 membelenggu seseorang dng pasung; memasang pasung pd...; 2 memasukkan ke dl kurungan (penjara); 3 ki membatasi (menghambat) ruang gerak: peraturan itu ~ kreativitas anak-anak; pasungan /pa·sung·an/ n 1 pasung; 2 penjara; pemasungan /pe·ma·sung·an/ n proses, cara, perbuatan memasung.

Judul: Pasung Jiwa
Penulis: Okky Madasari
Sampul: Rizky Wicaksono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Mei 2013)
328 halaman
ISBN: 978-979-22-9669-3



Apa yang terpasung
melihat cover buku ini yaitu tangan yang sedang menggenggam jeruji penjara, dapatlah disimpulkan bahwa ada manusia yang terpenjara di dalamnya. Mari kita bahas, siapa yang terpenjara, dan apa yang terpenjara melalui tokoh-tokohnya:

Sasana
Sasana digambarkan seorang anak laki-laki dari keluarga yang cukup berpendidikan dan terpandang di Jakarta. Ayahnya seorang pengacara, dan ibunya seorang dokter bedah. Sedari dalam kandungan ibunya, ia sudah dikenalkan dengan karya-karya piano klasik dan setelah ia bersekolah pun, ia dimasukkan orangtuanya untuk kursus piano. Prestasinya membanggakan. Selain lancar bermain piano, ia meraih prestasi akademis di sekolahnya. Namun, terdapat gejala premanisme di sekolahnya. Sehari-hari ia menjadi korban pemerasan oleh kelompok gang di sekolah, dimana ia harus menyetor uang jajannya ke gang tersebut. Hingga suatu hari ia dipukuli sehingga menyebabkan badannya remuk dan mengenakan tongkat ke sekolah. Permasalahan selanjutnya adalah bahwa ia tidak mendapatkan pembelaan yang cukup, terutama dari orangtuanya. Bagi Sasana, ke sekolah seperti ke neraka. Selalu dibayang-bayangi ketakutan akan pemukulan dan penghinaan oleh kelompok gang tersebut. Jalan hidupnya berubah, ketika ia melanjutkan pendidikan tingginya di Malang.

Jaka Wani
 Jaka Wani adalah mitra Sasana ketika mereka mengamen di Kota Malang. Pada paruh kedua novel ini, Jaka menceritakan dirinya menjadi buruh pabrik di Batam. Kehidupan buruh pabrik sangat membosankan. Saban hari mereka harus bekerja dari pagi sampai sore. Untuk menghemat biaya kontrakan, buruh pabrik dapat tinggal di mess pabrik. Setiap hari Sabtu para buruh pabrik menerima upah mingguannya. Pada saat itulah mereka bersenang-senang. Ada yang berbelanja, ada yang menyisihkan sebagian upahnya untuk ditabung, ada yang mabuk-mabukan, dan ada yang pergi ke tempat pelacuran. Dalam perjalanan selanjutnya Jaka akhirnya 'terpenjara' dengan menjadi buruh demi bisa mengirimkan ke ibunya di kampung, sementara itu ia jatuh cinta dengan Elis, perempuan di lokalisasi yang menjadi 'langganannya'. Namun, situasi itu tidak berlangsung lama, ia pun dipecat karena dianggap melawan mandor pabrik.


Lokalitas
Unsur lokalitas sangat kental pada novel ini. Okky memberikan nama-nama kota dengan jelas: Jakarta, Malang, Batam. Dari kota-kota tersebut dapat kita imajinasikan bagaimana situasi tokoh Cak Jek yang menjadi buruh di pabrik, bagaimana situasi Nagoya dan pusat pelacuran di Batam; Sasana yang dibesarkan di Jakarta dan menjadi mahasiswa di Malang dan  Dokter Masita yang sedang berpraktek di Rumah Sakit Jiwa. Maman S. Mahayana (2012) memberikan catatan bahwa lokalitas dalam sastra bukanlah sekadar ruang (space), locus, tempat (place) atau wilayah geografi yang dibatasi atau berbatasan dengan wilayah lain yang secara fisikal yang dapat diukur, tetapi mesti dimaknai dalam ranah budaya. Secara struktural, lokalitas dalam sastra kerap dimaknai sebagai wilayah, tempat, kondisi, atau situasi dalam teks yang menggambarkan para pelaku memainkan perannya. Padahal, lokalitas dalam sastra mestinaya diperlakukan bukan sekadar latar an sich, melainkan sebuah wilayah kultural yang membawa pembacanya pada medan tafsir tentang situasi sosio-kultural yang mendekam di belakang teks.

Dari penjelasan tentang lokalitas di atas, saya menangkap beberapa hal yang berkaitan lokalitas dalam novel ini:
Pertama, musik dangdut. Dari situs wikipedia, diketahui bahwa dangdut berasal dari Arab lalu kemudian mengalami proses pengaruh melayu deli dan unsur musik barat. Istilah dangdut sendiri adalah menirukan suara gendang. Dalam perkembangan selanjutnya, dangdut mendapat pengaruh dari musik barat, sehingga alat musiknya bukan hanya gendang, tetapi alat-alat musik modern seperti gitar listrik,akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong.Dangdut juga menjadi media sosial. Dalam kampanye Golkar zaman Soeharto, dangdut kerap dijadikan pertunjukan dalam tiap kampanye. Rhoma Irama menggunakan dangdut sebagai media dakwah sekaligus mengimbangi musik rock yang kala itu cukup tenar juga dibawah grup God Bles. Perkembangan selanjutnya, dangdut menjadi populer di bawah Rhoma Irama. Dia lah tokoh dangdut Indonesia yang melarang dangdut ngebor versi Inul Daratista karena dianggap sensual.

Kedua, buruh pabrik di Batam. Pabrik-pabrik tidak hanya di Batam, tetapi Batam menjadi pilihan mayoritas pencari kerja yang tidak berketerampilan tinggi. Batam, Bintan menjadi kawasan pengembangan ekonomi terpadu untuk meningkatkan kegiatan penanaman modal di Indonesia. Bila dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang selalu sekitar 5%-6% per tahun, maka hanya Batam dalam kurun waktu 1993 – 2000 rata-rata pertumbuhannya sebesar 11,69 % pertahunnya.Kontribusi terbesarnya tentu saja dari sektor industri. Permasalahan sosial yang dihadapi Batam akibat tingginya migrasi ke Batam adalah penyediaan fasilitas sosial kurang memadai, gangguan keamanan dan ketertiban meningkat, kurangnya lahan permukiman yang layak, dan masalah sosial lainnya. Pemerintah setempat tidak menata dengan baik hal ini. Para penduduk migran yang kurang terampil dibutuhkan dalam rangka penyediaan tenaga kerja (yang murah), namun tidak didukung dengan fasilitas pemukiman yang memadai, sehingga mereka rentan untuk ditertibkan karena menghuni pemukiman liar.

Ketiga, Laskar. Meski tidak disebut dengan gamblang, umumnya pembaca langsung mengerti siapa laskar yang dimaksud. Keberadaan laskar ini cukup patut diperhitungkan oleh-oleh pengelola klub malam atau diskotek. Cabangnya ada di kota-kota besar di Indonesia. Ketika mereka beroperasi, sepertinya tidak ada berita dimana aparat keamanan menghalau mereka. Belum lama, mereka menghadapi perlawanan langsung dari masyarakat. Ini gejala yang memprihatinkan, dimana keamanan bukan lagi hak masyarakat yang patut diterima dari pemerintah, tetapi keamanan sekarang adalah keamanan swasta. Keamanan yang berbayar, keamanan yang berpihak.

Dalam novel ini, Okky ingin memberi penekanan bahwa dalam kehidupan, takut adalah persoalan yang sangat wajar dan manusiawi. Pada dasarnya rasa takut tidak mungkin dihilangkan seluruhnya, karena itu harusnya dikelola. Dokter Masita, yang takut jika penelitiannya tidak selesai dan lulus tidak tempat waktu. Elis, takut hamil karena kalau ia hamil ia disuruh pergi dari lokasi pelacuran di Batam. Para buruh pabrik, ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Polisi dan pemilik klub malam, takut akan kehilangan penghasilan dari bisnis hiburan. Benang merah yang dapat saya tarik adalah, bahwa takut bila dibedakan sumbernya ada yang bersumber dari dalam diri dan ada yang bersumber dari luar diri.

Ada yang diuntungkan oleh rasa takut yang bersumber dari luar. Dan rasa takut itu dipelihara karena menguntungkan. Contohnya ketika para kelompok gank preman di sekolah Sasana yang menerima uang setoran dari Sasana tiap hari, mandor pabrik yang mengawasi pekerjaan buruh, germo yang memiliki rumah pelacuran, Laskar yang mengobrak-abrik tempat hiburan malam, rentenir yang menagih utangnya pada masyarakat kecil.

Namun bagaimana dengan rasa takut yang dari dalam diri. Takut yang tidak dapat didefinisikan dan dijelaskan. Ia datang dan hadir tanpa penjelasan. Karena itu, sebuah gelar pahlawan patut disematkan pada mereka yang menentang/melawan rasa takut dari dalam diri, karena takut dari dalam dirilah yang paling besar. Dalam hal ini saya salut dengan tokoh Sasana. Dalam keinferiorannya ketika di sekolah, ia berani melawan kelompok gang preman, ketika pementasannya pun ia berani melawan Laskar pimpinan Jaka. Terlepas hasil akhirnya apakah menang atau kalahnya. Yang penting ada niat dan aksi nyata untuk melawan agar rasa takut berakhir, dalam hal ini Sasana berjuang untuk dan atas nama dirinya sendiri.

Menaklukkan takut dari luar dipraktekkan oleh Jaka, dengan melawan mandor pabrik. Tetapi itupun merupakan hasil refleksi dengan pengalamannya sebelumnya yang membiarkan Sasana ditangkap, Elis diboyong orang ramai-ramai. Artinya ada semacam pergulatan di dalam diri dimana Jaka tidak mau bayangan buruk atas tuduhan pembiaran mengganggu dirinya. Ia berhasil menaklukkannya, namun terlanjur sudah jatuh korban.

Dalam mengemukakan tema kebebasan, Okky juga merepresentasikan musik dangdut yang mungkin dalam benak orang adalah musik kalangan bawah, kalangan marjinal. Tetapi bila menilik dimanakah musik dangdut itu beredar? bukan di gedung-gedung opera yang besar dan megah dimana dihadiri orang-orang berjas dan bergaun anggun. Tetapi di panggung-panggung nonpermanen, di dekat pasar, di antara masyarakat tukang becak, pedagang, tukang becak dan sebagainya. Musik orang terpinggirkan. Lewat Sasa, goyangan dangdut direpresentasikan sebagai musik yang 'melawan' musik klasik yang biasanya digemari kalangan atas. Selain itu, lewat tokoh Elis, ada perlawanan dari Elis yang mewajibkan tamu prianya untuk mengenakan kondom. Hal ini demi semata-mata demi mempertahankan pekerjaannya, dan kesehatannya sendiri. Bagi Elis itu wajib. 

Novel Pasung Jiwa ini adalah nominasi finalis Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2013 kategori prosa. Karya Okky sebelumnya, Maryam, adalah pemenang KLA 2012.  Novel ini menarik karena banyak menceritakan kehidupan masyarakat bawah. Dialog-dialognya sangat 'orisinil'. Okky tidak segan-segan mengutip kalimat-kalimat langsung umpatan, makian. Pembaca dapat merasakan suasananya.

Saya rasa, jika ini dijadikan bacaan untuk anak sekolah, wajib didampingi oleh gurunya.Namun-apakah saya terlewat-saya tidak menemukan kata "pasung jiwa" ini dalam keseluruhan novel. Bagi saya, hal terpenting setelah membaca novel ini adalah apakah kita memiliki sikap peduli terhadap mereka yang terpasung? terpasung haknya, terpasung martabatnya, terpasung berpikirnya, dan sebagainya?

Bandung, 3 Desember 2013
Helvry

6 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-