Sunday, December 29, 2013

Sang Penjaga waktu by Mitch Albom



Biasanya, bila menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, lazim pada kebanyakan orang untuk membuat kaleidoskop maupun membuat resolusi tahun baru. Yang menjadi obyek kaleidoskop yaitu kejadian/peristiwa pada masa lalu, sedangkan obyek resolusi adalah suatu keinginan atau cita-cita. Lalu pertanyaannya, apakah kondisi tersebut menunjukkan bahwa manusia sangat sadar akan kefanaannya, sehingga merasa perlu dan harus membuat pengingat bahwa hidupnya sementara? 

Fenomena yang terjadi pada kaum urban adalah kebanyakan orang ingin serba cepat. Naik kendaraan harus cepat. Beli gadget harus dengan kecepatan bla bla bla bla. Internetnya harus mengunduh dengan cepat. Proses administrasi harus cepat. Demikian juga iklan-iklan perumahan ataupun properti di tengah kota, dengan memberi label: "5 menit dari exit tol!" dan sebagainya-dan sebagainya yang menawarkan kecepatan menjadi brand-nya.




The Time Keeper 
Sang Penjaga Waktu
Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Okt 2012)
Tebal: 312 hlm
ISBN: 978-979-22-8977-0

Seperti novel-novel Mitch Albom sebelumnya, ceritanya cenderung flat. Bagi para penggemar cerita yang berharap novel Albom berakhir dengan tidak terduga atau ditutup dengan klimaks yang bagus, harap maklum. Menurut saya, justru kekuataanya terletak pada dialog-dialog antara tokoh-tokohnya. Pada dialog tersebut, Albom menyisipkan ide-idenya sesuai tema besar yang diusung oleh tiap novelnya. Kali ini tentang istilah yang cukup sering kita gunakan: waktu.

Pada saat menulis review ini saya membaca catatan pinggir Gunawan Muhamad edisi 29 Desember 2013. Catatan pinggir yang berjudul "Religio" Gunawan menuliskan kata pembuka De Rerum Natura ("Tentang Kodrat Benda-benda") yang dituliskan oleh Lucretius, ketika Kerajaan Romawi berkecamuk karena revolusi dan kontrarevolusi (145-130 SM):

...di seluruh negeri,
hidup manusia rusak terlindas
di bawah beban berat agama,
yang menampakkan kepalanya,
dari lapis langit,
mengancam manusia yang fana
dengan wajah yang menakutkan.

Apa yang ditawarkan Lucretius adalah sebuah ajaran dari Epicurus. Bahwa tujuan hidup adalah kenikmatan, dalam arti yang khusus: kenikmatan yang tenang tenteram, justru dengan cara meniadakan hasrat yang berlebihan.

Seperti apakah hasrat berlebihan itu? saya menganggapnya ketika manusia mulai menyadari bahwa waktunya terbatas.
Waktunya terbatas menduduki sebuah jabatan basah.
Waktunya terbatas untuk menunjukkan kekayaannya.
Waktunya terbatas meraih impian-impiannya.
Waktunya terbatas menyadari bahwa waktunya terbatas.

Sang Penjaga Waktu dalam novel ini adalah seorang pria bernama Dor. Semasa mudanya, ia sangat terobsesi dengan waktu dan ia berhasil mengukurnya. Sesuatu hal terjadi dan ia dikurung di gua. Beribu-ribu tahun dia dikurung di sana. Ia sendiri. Tidak bertambah tua. Tugasnya hanya mendengarkan orang-orang yang berkeluh kesah tentang waktu.


Pelajari apa yang tidak kauketahui. Lelaki tua itu berkata."Pahami konsekuensi-konsekuensi dari menghitung momen-momen."
"Bagaimana caranya?" Dor bertanya.
"Dengan mendengarkan penderitaan yang ditimbulkannya." (hlm 68)

Dulu kau menandai menit-menitnya" laki-laki tua itu berkata. Tetapi apakah kau telah menggunakannya dengan bijaksna? Untuk berdiam diri saja? Untuk menikmatinya? untuk merasa bersyukur? untuk bersukacita dan memberikan suka cita? (h.116)

Dor diberi misi untuk mengajar dua orang manusia tentang arti waktu. Satu orang ingin lebih banyak waktu daripada yang seharusnya ia dapatkan, sementara satu orang lagi tidak ingin waktu bertambah. Demikianlah Dor diberikan waktu berupa jam pasir dimana dia bertemu dengan kedua orang itu. Sekali lagi, alur cerita dalam novel bisa dikatakan sangat fiksi. Tetapi kalimat-kalimat pendek maupun dialog-dialog yang dibangun membuat saya memikirkan dan merenungkan kembali bahwa apa sebenarnya arti waktu, di tengah dunia yang sangat ketat dengan jadwal-jadwal.




Jam berapa sekarang? menjadi salah satu pertanyaan umum di dunia (h.156)

Menurut saya, inilah pesan yang mau disampaikan bahwa waktu bukanlah sekedar zona-zona waktu seperti jam Indonesia bagian Barat, Tengah, Timur dan sebagainya. Bukan pada angka-angka mulai jam 00.00 s.d. 24.00 seperti yang diukur oleh Dor. Justru hal ini, yang membuat manusia tambah takut pada waktu, alih-alih menyadari keterbatasan waktunya. Mungkin Owy-anjing saya-tidak menyadari waktu, karena itu ia tetap senang menyambut kepulangan saya ke rumah. Ia tidak khawatir dunianya akan berakhir, dan tetap bersukacita.
 
why do the birds go on singin'?
Why do the stars glow above?
Don't they know-it's the end of the world?...
(h.195)

Jika demikian, mengapa Sapardi menulis:

Yang fana adalah waktu,
Kita abadi.(?)


Jakarta, 29 Desember 2013
Helvry




4 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-