Saturday, June 28, 2014

Hujan Bulan Juni by Sapardi Djoko Damono



Hujan ternyata (masih) memberikan pesona bagi sebagian besar orang dari dulu hingga sekarang. Entahkah karena jatuhnya yang tulus dan mengalir, entahkah karena memberi aroma pada tanah, entahkah karena mengingatkan pada sesuatu peristiwa, entahkah karena menjadi pemicu kemacetan (di Jakarta), entahkah membuat hati was-was karena genteng rumah bocor, dan sebagainya dan sebagainya.



Hujan Bulan Juni
Pengarang: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Grasindo (2003)




apakah keajaiban hujan?
Hujan merupakan peristiwa unik. Salah satu tahap siklus air ini menjadi objek yang masih dan terus dijadikan bahan inspirasi oleh penyair, atau pengingat momen-momen. Entahkah juga karena ketukan rintik hujan yang teratur membuat suasana di sekitar hujan menjadi kondusif untuk melakukan kontemplasi. Paradoksnya ialah, mengapa ada profesi pawang hujan yang "disewa" untuk memindahkan hujan dari satu tempat ke tempat lain. Dengan kata lain, pada saat-saat tertentu, ada pihak-pihak yang "memusuhi" hujan.

Pengalaman kecil saya mengenai hujan, suatu kali ketika saya menonton acara sinetron di televisi, saya melihat bahwa orang menggunakan pelepah pisang untuk menudungi kepala mereka dari hujan. Suatu kali saya kehujanan, saya meniru di televisi dan memotong pelepah pisang di pinggir jalan. Namun, seluruh tubuh saya tak ada yang luput dari hujan. Selain itu, saya iri dengan teman-teman yang diperbolehkan orangtuanya bermain di kala hujan. Ibu saya melarang anak-anaknya ke luar rumah di kala hujan. Suatu kenangan indah bagi saya manakala ibu saya membuat pisang goreng atau bakwan goreng, sembari di luar sedang hujan.

Setelah di usia saya yang sudah tidak kanak-kanak lagi, saya memaknai hujan sebagai peristiwa yang tulus. Air yang menguap, menjadi awan, lalu jatuh sebagai hujan, menjadi air yang mengalir di permukaan tanah maupun meresap ke dalam bumi. Demikian siklus selanjutnya. Saya melihat jika kondisi itu terus-menerus terjadi, terlihat bahwa air adalah benda "abadi"nya bumi. Jadi, air-lah yang memelihara bumi dengan segala isinya. Air yang menjadi awan merupakan simbol transformasi sifat dan bentuk air yang ringan tapi berposisi tinggi, sedangkan Hujan merupakan "keikhlasan" air untuk turun memberi kehidupan.

Kumpulan puisi Sapardi yang mengambil puisi "Hujan Bulan Juni" sebagai judul bukunya, memberi tahu kita apa yang menjadi benang merah bukunya ini. Dari hasil pembacaan, saya menyimpulkan beberapa tema yang diusung.

Pertama, Hujan itu sendiri yang menggambarkan ketulusan dan kerinduan, seperti pada puisi "Aku Ingin", "Dalam Doaku", "Sihir Hujan", "Di Beranda Waktu Hujan", "Hujan Turun Sepanjang Jalan", "Hujan, Jalak, dan Daun Jambu",  "Hujan dalam Komposisi 1,2, dan 3", "Percakapan Malam Hujan", "Kuhentikan Hujan", "Sonet: Hei! Jangan Kau Patahkan". Dari syair-syairnya tergambar 'kehalusan jiwa' seorang Sapardi. Kata-kata pada puisinya sederhana dan dapat dengan mudah dimengerti. Puisi favorit saya dalam penemaan ini adalah "Dalam doaku", dan saya sendiri berusaha menemukan syair puisi ini dengan hasil foto saya.
Berikut isi lengkapnya puisi "Dalam Doaku"

DALAM DOAKU
dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah
dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang
hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga
jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap
di dahan mangga itu

maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun
sangat pelahan dari nun di sana, bersinjingkat di jalan
kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang
entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi
rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi
kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
keselamatanmu

Ananda Sukarlan berhasil menggubah puisi ini menjadi karya musikalisasi puisi yang apik. Bernadeta Astari, sebagai soprano dan Joseph Kristanto sebagai baritone. Dan saya sangat suka.
 
    



Saya sendiri baru "berhasil mewujudkan" dalam dua karya foto, yaitu pada bagian siang dan magrib, seperti pada gambar berikut.


ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah
dari mana


maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun
sangat pelahan dari nun di sana, bersinjingkat di jalan
kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku


Kedua, tentang Fana dan abadi. Tema ini terlihat dalam puisi "Cahaya Bulan Tengah Malam", "Yang Fana adalah Waktu", "Pada Suatu Hari Nanti", "Dalam Sakit",  dan "Terbangnya Burung".
Dalam "Cahaya Bulan Tengah Malam", Sapardi menggambarkan sebuah koran yang terjatuh ketika sinar bulan mengenai wajah. Koran (mungkin) sebagai perlambang berita/peristiwa hari itu, yang segera usang esok harinya dan mungkin tidak akan berguna lagi lusa. Pada puisi "Yang fana adalah Waktu", saya menyimpulkan bahwa waktu seperti detik-detik yang monoton, membosankan, teratur, dan sudah ada sejak dulu. Ketika kita memberi makna pada waktu itu (disimbolkan dengan kata-kata: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga). Maka terlihat ketika pada manusia yang fana, namun atas waktu diberikan karya, maka karya bermakna sebagai "perlawanan" atas kefanaan. Pada puisi " Pada Suatu Hari Nanti", digambarkan bahwa penyair akan abadi dalam syair-syairnya meski jasadnya tak ada lagi. Pada puisi "Dalam Sakit", suatu kepasrahan akan sebuah kematian, yang dianggap sebuah "jalur" yang niscaya dilewati setiap insan. Percakapan antara yang meninggalkan dan ditinggalkan seolah bukan perpisahan, namun hanya pemberangkatan kepada waktu dan tempat yang berbeda.

Pada puisi "Terbangnya Burung", menurut saya ini puisi ini bagus sekali sebagai penutup kumpulan puisi ini. Puisi ini menggambarkan kekaguman pada keluarbiasaan alam ciptaan yang digambarkan oleh nyanyian burung. Dimana intinya adalah dibalik semua keindahan (fana) yang dapat dilihat manusia, ada sesuatu yang abadi yang bekerja di belakangnya:


terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari makna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali

Hujan dengan segala pesona, sifat, dan wujudnya telah dan akan menjadi ladang inspirasi bagi orang untuk melahirkan karya-karya. Terakhir, saya sendiri coba-coba membuat puisi sekaligus dengan visualisasi tentang hujan, sebagai berikut.


Datang tanpa nada,
Namun menyanyikan bait-bait rindu.
Pergi tanpa tanda,
Namun menyisakan aroma kenangan lalu

Jakarta, 28 Juni 2014
helvry

4 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-