Monday, April 14, 2014

BBI 3th Giveaway Hop 2014 The Winners


Thursday, April 10, 2014

Orang Asing - L'Étranger by Albert Camus



Filsafat dan sastra pada umumnya membicarakan hal yang sama, yaitu manusia. Sastra menceritakannya, filsafat mempertanyakannya. Novel ini merupakan novel pertama Albert Camus. Ia sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan dibanding sebagai seorang filsuf. Saya mengenal tokoh Albert Camus ketika Institute Francais Indonesia (IFI) Bandung bersama Universitas Katolik Indonesia Parahyangan Bandung menyelenggarakan acara 100 tahun pemikiran Albert Camus. Saat itu saya berkesempatan juga mengikuti ceramah dari Gunawan Muhammad tentang pemikiran Albert Camus, dan juga GM menulis dua halaman catatan pinggir yang berjudul "Dari Djemila ke Sela-sela Sejarah" yaitu materi ceramah tersebut di Majalah Tempo.

Sunday, April 6, 2014

Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas by Katrin Bandel



Pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah itu kolonialitas dan apa itu pascakolonialitas. Hal penting yang patut diingat adalah bahwa ketika Indonesia merdeka dari penjajah, bukan berarti negara Indonesia mulai dari nol seperti bayi yang baru lahir, melainkan sebagian besar masih melanjutkan tradisi, budaya serta warisan pemerintah penjajah sebelumnya. Hal penting dalam kajian kolonialitas adalah bagaimana bangsa penjajah (dalam hal ini bangsa berkulit putih) melihat bangsa jajahannya? Peristilahan Timur dan Barat, Dunia pertama dan Dunia Ketiga, merupakan pengklasifikasian/pembedaan bangsa dari sudut pandang orang kulit putih.

Lalu apa yang salah dengan hal itu? cara pandang orang Barat terhadap Timur adalah memandang bahwa Orang Timur adalah orang yang tertinggal, eksotis, patut diberi pencerahan, dan lain sebagainya. Persoalan mendasarnya adalah menganggap manusia Barat dan Timur tidak setara. Tidak hanya di dunia politik, tetapi juga di dunia ekonomi, militer, dan juga sastra-yang menjadi objek kajian Katrin Bandel, Doktor Sastra Indonesia dari Universitas Hamburg, Jerman. Situasi Orang Barat memandang dengan kacamata ketidaksetaraan terhadap Dunia Timur, menjadi kegelisahan tersendiri bagi Katrin. Dalam banyak situasi, orang Barat diuntungkan, tetapi Katrin mengambil sikap dengan tidak berdiri di posisi menguntungkan tersebut. Ia mengistilahkannya situasi tersebut dengan ambivalensi, yang diuraikan oleh Ahda Imran dalam Peluncuran buku ini di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, dengan :"simpati pada mereka yang tersisihkan oleh sistem yang mendominasi sambil menikmati posisinya yang sejuk nyaman yang disediakan oleh sistem itu."