Wednesday, July 23, 2014

Seri Buku TEMPO: Prahara Orde Baru WIJI THUKUL




“Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan” (Wiji Thukul).

Inilah kekuatan kata-kata. Ia mencipta sekaligus memberi kehidupan. Betapa sebuah bedil pun tak kuasa melawan kata-kata. Karena itu, si penghasil kata-kata tersebutlah yang harus dihentikan. Wiji Thukul, seorang penyair pada masa hidupnya “melawan” pemerintah orde baru dengan bait-bait puisinya. Ia termasuk orang hilang yang tidak tahu dimana rimbanya hingga saat ini. Tim Mawar Kopassus yang melakukan penculikan aktivis seperti Wiji Thukul dan bersama 12 orang lainnya, sudah dihukum. Namun, tidak ada penjelasan, dimana Wiji Thukul (saat ini)? Sejak 1998, mereka sudah hilang selama 16 tahun.


Judul :Seri Buku TEMPO: Prahara Orde Baru WIJI THUKUL
Pengarang :TEMPO
ISBN :9789799105929
Ukuran :230 x 160 mm
Halaman :172 halaman
Penerbit :KPG

Thursday, July 17, 2014

Cerita Calon Arang by Pramoedya Ananta Toer




Setelah membaca dan mereview cerita Calon Arang dengan versi Femmy Syahrani, kali ini saya ingin mengupas cerita Calon Arang versi Pramoedya Ananta Toer. Inilah kekayaan sastra Nusantara. Saya berimajinasi bahwa cerita Calon Arang ini sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Meski ada versi yang berbeda, tersembunyi pesan kemanusiaan yang luhur.

Pada pengantar buku ini, Pram sedikit mengulas bagaimana sejarah cerita Calon Arang. Cerita ini lahir ketika masa pemerintahan Prabu Airlangga sekitar abad 11. Dua tokoh besar saat itu adalah Prabu Airlangga dan Empu Bharadah. Dan menurut Pram, cerita ini dituliskan kembali untuk mengingatkan anak-anak zaman sekarang agar membangkitkan cerita lama bagi mereka, serta sebagai sumber informasi sejarah, agar lebih mengkaji isi dibanding menghafal nama tokoh dan tempat.