Thursday, February 12, 2015

Rumah Bambu oleh Y.B.Mangunwijaya



 Buku Kumpulan Cerpen Rumah Bambu ini merupakan karya Romo Mangun yang dikumpulkan oleh Joko Pinurbo dkk dari dokumentasi yang masih tertinggal di rumah Romo Mangun. Kondisi awalnya tidak semua dalam naskah yang utuh siap cetak. Ada yang tidak terbaca, ada yang tidak jelas tahun penerbitannya. Dari 20 cerpen dalam buku ini, hanya tiga cerpen yang dimuat di media. Usaha mengumpulkan, mengetik ulang, serta menyunting cerpen ini patut diapresiasi tinggi, sebab inilah karya manusia yang dapat dinikmati generasi selanjutnya dalam rupa cerita yang reflektif. Kadang kala kita melihat kehidupan kita di dalamnya. Kehidupan yang sepertinya biasa-biasa saja, namun dimaknai luar biasa ketika dituliskan serta dibaca kembali. Ada kalanya kita merasa sebuah peristiwa atau kejadian sepertinya berlalu tanpa makna, namun sadarkan kita bahwa peristiwa atau kejadian tersebut bagi orang lain mempunyai maknanya tersendiri?

Ilustrasi Rumah Bambu (sumber: http://gomarketonline.com/2014/08/08/gambar-desain-rumah-bambu-sederhana.html)



Rumah Bambu
Karangan: Y.B. Mangunwijaya
Penyunting: Joko Pinurbo dan Th. Kushardini
xii + 200 hlm
ISBN: 978-979-9-0462-5
Kepustakaan Populer Gramedia, 2012


Tak ada jalan lain. Sebuah cerita problema kehidupan, antara memperjuangkan kehidupan dan persoalan bagaimana memandang sesama. Seringkali prasangka pada seseorang membuat kita buta pada hal baik apa yang ia kerjakan bagi kita.

Cat Kaleng. Apa hanya di buku saya ini? cerita pendek ini sepertinya tidak selesai di halaman 15, seharusnya ada lanjutannya tapi langsung ke halaman 16 dengan judul baru.

Sungai Batu. Sepertinya ini kejadian yang dialami oleh Tomo mangun sendiri, bahwa masuk sekolah biara haruslah dibutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Namun, lewat cerita Basuki yang gagal masuk sekolah Biara, narator kagum melihat kehidupan sederhana Basuki yang mengikut jejak ayahnya sebagai pemecah batu. Sering manusia membuat ukuran-ukuran sendiri bagi sesamanya, sementara Tuhan sendiri tidak pernah menggunakan ukuran apapun bagi setiap yang datang kepadaNya.

Hadiah Abang. Cerita sederhana abang dan adik perempuannya. Abangnya bernama Gondek, sudah dua hari tidak pulang. Ketika hari ketiga, Gondek datang dimana Bluluk sedang mencuci piring. Betapa sebuah kehidupan keras sebenarnya. Sang Abang menghilang karena bekerja sebagai kernet. Dan Bluluk terkagum mendengar kisah abangnya. Dari dua hari itu abangnya memberi hadiah. tetapi di balik kekaguman Bluluk akan hadiah dan cerita abangnya itu, muncul kekhawatiran.

Colt Kemarau. Bahwa di dunia ini masih ada orang yang tega memperdaya sesamanya itu sepertinya lumrah. Kasirin sangat suka membaca buku.Namun kewaspadaannya turun pada pengemudi Colt, kala ia ditugasi menjaga ternak milik keluarganya.

Malam Basah. Apakah arti sebuah rahasia? Apakah dalam diri orang dewasa mengetahui ketidakjujuran dan menunggu waktu untuk pengakuan atau terbongkar sendiri?

Pahlawan Kami. Kehidupan dapat dimaknai dengan tertawa atau tangis setelah kita melaluinya. Dalam hidup kita ada pahlawan-pahlawan yang berjasa bagi kelangsungan hidup kita. Pahlawan bicara masalah mental dan hasil. Bu Sendok dan Mas Rus dalam sosok pandang narator, menjadi pahlawan dari sudut pandang perjuangan yang berbeda.

Pagi Itu. Mbok Ranu penjual kue cucur, tidak mengerti dan tidak perlu mempertanyakan kepada pria yang menumpang di gubuknya. Dari kecukupan - kalau tidak usah dibilang kekurangan - hasil jualan cucurnya, ia berbagi kesusahan dengan pria (yang bukan suaminya) itu. Sulit membayangkan bagaimana hal itu dapat terjadi saat ini. Tanpa mempersoalkan masa lalu, Mbok Ranu tetap berusaha menolong, sampai pada suatu pagi itu..

Rheinstein. Cerpen ini cukup panjang. Dibutuhkan pengetahuan khusus tentang tempat-tempat dan nama tokoh-tokoh yang diceritakan oleh narator seperti Puri Benteng Rheinstein, Puri Drachenburg, Kota Koeln, Stephan von Sarter, Marsekal Bluecher. Cerita tentang istri seorang diplomat yang sangat tertarik pada dunia mikrobiologi. Perihal cinta, kesetiaan, keharmonisan, serta produktivitas kekaryaan apakah menjadi satu ukuran nilai yang selalu selaras, menjadi persoalan dalam cerita ini.  Mengambil setting di Eropa, menambah wawasan kita tentang cerita dan tempat-tempat menarik di sana.

Rumah Bambu. Apa makna sebuah rumah bagi manusia? Sebagai seorang arsitek, Romo Mangun tentu sangat memahami filosofi di baliknya. Namun, bagi Parji, serorang pegawai motel, rumah dipandang sebagai bentuk kemandirian, tanggung jawab, kebanggan serta suatu zona yang nyaman untuk dihidupi. Sebuah rumah sehat tentu prasyarat baik untuk keberlangsungan hidup. Namun "rumah" sesungguhnya adalah penghargaan dan keberterimaan.

Romo Mangun sepertinya wawasannya sangat luas. Setelah tadi lewat cerita Rheinstein, ia bercerita tentang seluk beluk dunia sains mikrobiologi dan antropologi, pada cerita ini, ia mengulas tentang keadaan alam dan pulau-pulau di seputaran Ternate, Halmahera atau yang kita kenal sekarang pada Provinsi Maluku Utara. Selanjutnya ia menceritakan tentang Gabi, narator yang sangat bahagia diberikan hadiah ulang tahun ke-32 oleh suaminya yaitu berkeliling angkasa di wilayah Halmahera, Morotai dengan menggunakan pesawat militer jenis Hawk. Dalam permenungannya, Gabi sangat bahagia bersuamikan Yulian, ia mensyukuri atas apa yang diberikan semesta kepadanya. Meski di dalamnya ada kekhawatiran, bahwa penderitaan tengah mengintai, karena begitulah keseimbangan alam. Pilot.

Sepertinya ini bahan kuliah ataulah makalah, dengan pembuka kisah Mbah Kariobenguk yang mengasuh dua cucunya. Bahwa apa sebenarnya makna seorang ibu bagi setiap manusia. Ibu bisa hadir sebagai sosok ibu yang saleh dalam Alkitab seperti Ruth dan Maria, namun bisa juga pada sosok penghancur seperti Durga atau Nyi Roro Kidul. Itu realita, namun apakah semata-mata perempuan secara fisik biologis itulah ibu?. Mbah Benguk.

Sebuah khayalan gila dari seorang mahasiswa sipil. Mungkin karena "kesialan" yang menimpanya, maka ia berkhayal bahwa ia bukanlah pecundang. Dalam khayalannya, ia menjadi orang penting di kampus, menjadi tokoh pergerakan, mendapatkan gadis idaman kampus, serta mahasiswa yang berprestasi. Salutnya, khayalannya ini sangat cerdas. Melihat tahun penerbitan cerpen ini di tahun 1985, boleh jadi masa masa dimana tentara sangat campur tangan dalam kehidupan kampus. Bahkan semua kegiatan sangat diawaasi oleh tentara. Dalam khayalan mahasiswa ini, keadaannya justru terbalik dengan kenyataan. Bahwa tentara berdamai dengan mahasiswa, bahwa tentara membawa perdamaaian. Lebih dari itu, mahasiswa didorong sebagai pengusul perubahan politik, bukan lagi tentara (kenyataannya tentara sangat dominan pada masa Orba). Renungan Pop.
  
Bicara mental pejuang. Romo Mangun mengistilahkannya dengan gerilyawan. Gerilyawan pertama dengan alasan sudah purnawirawan dan untuk menyambung hidupnya berjualan, maka ditugaskan seseorang untuk berjualan barang-barang tertentu dimana hasil penjualannya nanti untuk purnawirawan tersebut. Gerilyawan kedua. Dari desa ke desa, berburu sarang semut rangrang. Nantinya sarang semut tersebut dijual, dan hasilnya untuk keluarganya. Berjuang itu hakikatnya apa? Dua Gerilyawan.

Pembicaraan antara tukang becak dan langganannya tentang bagaimana membesarkan anak. Dari perbincangan ini diketahui bagaimana sudut pandang orang-orang seperti Ngadri  dan Yu Imah memandang seperti apa posisi anak dalam keluarga. Pernahkah kita merenungkan dari sudut pandang profesi seperti tukang becak atau pemilik warung makan seperti apa mereka merencanakan apa yang terbaik bagi anak mereka. Begitulah hidup, ketidakberdayaan itu memang menekan, tapi tiap insan memiliki harapan. Lampu Warisan.

Ada ibu biologis, ada ibu logis. Bagaimana memaknai bahwa seorang kakak lebih berperan sebagai ibu daripada ibunya sendiri. Winarti merasakan bahwa kehadiran kakaknya, Purwati dalam kehidupannya lebih realistis sebagai ibu.Mbak Pung  

Saya kurang mengerti cerita ini, barangkali karena ceritanya berupa legenda. Sekelebat saya menangkap nama-nama seperti Batara Kala dan Durga, serta Roro Mendut. Roro Mendut yang diserahkan ke Wiroguno. Versi lengkapnya akan saya cari. Puyuk Gonggong.

Cerita tentang sekelompok tentara (pelajar) pada masa pendudukan NICA. Tentang bagaimana seusia mereka (masih bersekolah setingkat SMP-SMA) harus merasakan kerasnya perang. Tidak mengerti untukdan demi apa mereka berperang. Terjadi paradoks. Satu sisi mereka sepertinya bangga sebagai tentara (karena disegani), namun sisi lain mereka takut, ketika dalam perang mereka mati. Mereka masih punya cita-cita. Pada saat mereka ditugasi mengantar jenazah dalam mobil dinas, dalam kemanusiawiaan, mereka
menyadari bahwa harapanlah yang menghidupkan. Natal 1945

Kumpulan cerpen ini sepertinya merupakan cuplikan kehidupan-kehidupan yang dikutip Romo Mangun baik dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain. Kumpulan cerpen ini bukan disusun oleh Romo Mangun sendiri menjadi sebuah buku, melainkan oleh orang-orang yang mengapresiasi karyanya serta mewariskannya kepada kita. Karena itu, saya melihat bahwa cerita-cerita ini tidak ada karakter tokoh yang sama, hal ini mengindikasikan bahwa Romo Mangun tidak menyematkan satu karakter kuat dalam tokoh ceritanya, sehingga dapat kita nilai pada cerita-cerita yang lain. Barangkali yang dipotret adalah kehidupan warganya, orang-orang binaanya, mahasiswanya, atau siapapun itu. Kegiatan mengamati, mendengarkan lalu memberikan refleksi atas pemandangan tersebut merupakan cara khas orang bijaksana. Selalu berusaha menemukan makna atas tiap peristiwa.

3 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-