Monday, April 13, 2015

Saya, Perubahan dan BBI (suatu tinjauan)



Judul di atas seolah-olah judul paper yang akan bikin pusing dengan kalimat-kalimat yang bereferensi pada teori-teori. Padahal setiap teori haruslah ada pembuktian empiris, agar teori tersebut langgeng, sebelum ada pembuktian baru yang menyanggah. Kok jadi ribet gini yak, hahaha

Tulisan ini merupakan hasil quick idea di grup pengurus BBI yang ingin memeriahkan ulang tahun Blogger Buku Indonesia di blog, dengan cepat dilontarkan, dibahas dan diramu oleh divisi event BBI menjadi postingan bareng.

Apa yang berubah?
Sebelum bergabung dengan BBI, saya biasa menulis review di goodreads.com, setelah punya blog dan terlebih blog buku, saya lebih cenderung mengurusi blog. Perubahan mendasar yang saya alami adalah, saya menghidupi dua dunia, yaitu dunia membaca dan dunia blogging. Hal ini sebenarnya saling berkaitan bahkan saling bergantung. Namun entah kenapa, saya masih belum dapat menyeimbangkannya dengan baik. Kadang kala tuntutan pekerjaan yang mengharuskan menulis (laporan) mengakibatkan energi untuk menulis resensi buku menjadi terkuras. Saya merasa kehilangan waktu atas kenikmatan berselancar mencari informasi buku di mesin pencari, mendatangi tempat-tempat di buku, bahkan mencari buku-buku terkait di perpustakaan dan menonton film hasil adaptasi dari buku demi mencari tahu/memahami buku-buku yang saya baca.

Hal kedua,  pertemanan (absolutely!). Saya berbangga bisa mendapat banyak teman dari berbagai daerah, dimana setiap saya punya kesempatan berkunjung ke suatu daerah, saya berusaha menemui teman-teman BBI disana. Saya memaknai pertemanan tersebut sebagai wadah berbagi hidup. Sebab saya menyadari, bahwa saya banyak terbantu dengan kehadiran mereka, bukan hanya dalam hal buku dan ngeblog, tetapi jejaring persahabatan dan berbagi hal-hal lainnya. Coba bayangkan, hidup ini sendiri...aduh sepi banget, haha

Ketiga, keterampilan mengolah informasi. Di dunia media sosial, seperti twitter, facebook, whatsapp, dan macam lainnya, kita terhubung secara maya dengan banyak orang. Informasi sangatlah banyak berseliweran di area tersebut. Bagi saya, hal yang cukup menyenangkan adalah berburu buku di toko buku bekas di suatu kota, dengan kata kunci pada message teman BBI; "eh disini toko buku bekas di mana ya?" (ini mah bukan mengolah informasi).

Keempat, jadi tukang ngobrol. Bergabung di kepengurusan BBI, mau nggak mau jadi banyak ngobrolnya daripada ngeblognya (boong banget). Saya akui, meski ini merupakan komunitas dunia maya, obrolan secara offline lebih berkesan dan banyak memberikan ide-ide. Selain itu saya beruntung punya teman-teman BBI yang hebat-hebat dimana saya bisa berdiskusi banyak hal di luar buku tentu saja. Keberadaan anggota BBI lintas profesi ini semakin memperkaya khasanah pengetahuan saya.

Kelima, saya keberatan disebut penimbun buku. Sebab buku yang belum dibaca saya susun seperti di lapak, jadinya kan nggak nimbun. Suka nggak suka ini penyakit, tapi menyenangkan (loh). Sebenarnya ini adalah masalah sistemik dimana pemerintah tidak dapat menghadirkan perpustakaan yang lengkap, murah dan mudah terjangkau, yang mengakibatkan orang-orang (termasuk saya) membuat perpustakaan timbunan pribadi.

Apa lagi?
Saya mimpinya bisa bertemu semua anggota blogger buku Indonesia

Dirgahayu BBI keempat.

salam
Helvry

13 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-