Hari Buku Nasional, Quo Vadis?

Sunday, May 17, 2015

Sejarah lahirnya Hari Buku Nasional dilatari dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980 di Jakarta. Apa pemaknaan atas peringatan Hari Buku Nasional saat ini?


Saya pernah mengunjungi perpustakaan nasional di Jalan Salemba Jakarta ini, bertepatan ketika saya mengikuti training di Kampus Universitas Indonesia, pada Tahun 2007 yang lalu.
Saat itu, saya juga mengurus keanggotaan di sana dengan membayar iuran tahun pertama sebesar Rp15.000. Prosesnya cukup cepat dan hanya mengisi form serta fotokopi KTP. Tidak seperti Perpustakaan Provinsi Sumut yang harus ada rekomendasi dari Kepala Sekolah (saat saya masih SMA). Selanjutnya saya tidak pernah menggunakan kartu anggota tersebut untuk meminjam buku dari sana. Alasan pertama karena tempatnya yg kurang strategis dari tempat tinggal saya. Alasan kedua, yaitu saya tidak merasa benar benar nyaman sebab petugas perpustakaannya menurut saya tidak ramah. Disana ada istilah jabatan fungsional pustakawan/wati yaitu profesinya menyediakan layanan pustaka. Namun, sepertinya ini kelemahan sistem, bahwa mereka harus mencapai angka kredit tertentu untuk kenaikan pangkatnya. Angka kredit ini berupa kegiatan kegiatan yang dilakukan pustakawan dengan bobot tertentu. Mungkin mereka lebih mendahulukan kegiatan kepustakaan alih alih pelayanan pada pengunjung perpustakaan itu sendiri. Dari pengalaman saya yang sulit meminjam buku dari sana membuat saya malas kesana. Sepertinya yang cocok kesana adalah mahasiswa atau peneliti atau penulis. Bukan seperti saya (pada saat itu) yang masih amatir sekali mengenal dunia buku. Saya yakin pengalaman saya juga dialami banyak orang, dimana perpustakaan tidak menjadi tempat yang ramah untuk berkumpul, berdiskusi, mencari sesuatu dari buku, maupun penyebarluasan cinta baca.

Hal kedua setelah perpustakaan adalah pengertian buku itu sendiri. Dalam banyak perbincangan baik secara langsung maupun tidak langsung (media sosial) sering makna buku adalah novel, dalam hal ini biasanya buku fiksi. Sangat jarang buku yang dibicarakan merupakan buku nonfiksi. Pun dalam bazar-bazar, yang lebih sering orang bicarakan adalah novel, komik, atau buku fiksi lainnya. Saya bukan termasuk pembaca nonfiksi kelas berat, tetapi apakah saya yg memang antimainstream atau tidak bisa move on bahwa kadangkala membicarakan sesuatu yang ilmiah berdasarkan buku, itu juga menarik.

Hal ketiga yaitu aksesibilitas terhadap perpustakaan dan buku. Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa perpustakaan masih berada di menara gading. Banyak perpustakaan yang masih kehilangan semangat untuk mencerdaskan pikiran manusia. Saya pernah diskusi dengan pengurus perpustakaan kantor saya dahulu bahwa kendala mereka adalah tidak pedulinya atasan dengan pengadaan buku-buku. Para pemangku kepentingan belum melihat manfaat stratejik adanya perpustakaan di kantor-kantor, sekolah, kompleks perumahan. Pada dasarnya perpustakaan menjadi ruang publik bagi orang-orang di sekitarnya agar dapat terus berkreasi dan berinovasi sesuai kebutuhan zaman. Perpustakaanlah alternatif wadah ruang publik sebagai ladang ide dan kreasi, namun kondisinya perpustakaan tetap sulit diakses baik dari keberadaannya, jam operasionalnya, apalagi koleksinya. Perpustakaan seperti hanya simbol peradaban tapi tak ada kehidupan yang berdenyut di dalam. Buku, masih diakses oleh penduduk, namun belum merata, masih di sentra-sentra kota besar di Pulau Jawa. Masih mahalnya ongkos transportasi berimbas pada masih mahalnya buku di luar Pulau Jawa.

Inilah sebagian kecil potret buku nasional. Solusinya sebenarnya dapat dimulai dari diri sendiri, yaitu bersedia menjadi jawaban atas problem itu, yaitu menyediakan koleksi buku kita untuk dibaca dipinjam orang lain. Gampang-gampang susah memang, tetapi tidak ada suatu hal besar tanpa dimulai hal kecil. Lagi, bila dilakukan dengam senang, semoga semuanya bisa berjalan lancar bahkan berjalan lebih jauh.

Semoga.
Jakarta, 17 Mei 2015,
Dari atas kereta Argo Parahyangan.



You Might Also Like

24 comments

  1. Perpustakaan di kotaku cukup terawat tapi nggak begitu update dengan judul-judul baru. Ngurus keanggotaan nggak susah. Aku pertama kali punya kartu anggota di pers daerah tahun 2000an kali ya... Lama banget, Hehehe...
    Sekarang jarang ke sana lagi. Pas mau pinjem selalu ngurusi perpanjangan dan iuran rapel berapa bulan. Hahaha..

    Aku juga berpartisipasi menyambut hari buku. Aku list 5 judul buku favorit menurut versiku, mampir yuk, siapa tahu jadi referensi barumu. ^^
    Lima Judul Buku yang Membuatku Jatuh Cinta ^^

    ReplyDelete
  2. trimakasih infonya,,,
    sangat bermanfaat,,
    mantap,,

    ReplyDelete
  3. Begitulah, Mas, atasan gak peduli pengadaan buku karena gak melihat apa perlunya. Menkominfo sebelumnya pernah bilang internet cepet itu apa perlunya. Saya bosen sih dengan keadaan bangsa yang selalu gagal melihat. Hari ini orang sedunia sangat mengedepankan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi, dan kita masih saja gagal melihat hal-hal yang diperlukan untuk itu. Mungkin kita ini gak bener-bener paham bahwa kita adalah bagian dari dunia, gak terisolasi, jadi mesti berdaya saing.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Terimakasih kakak, keep inspiring ^^

    ReplyDelete
  6. This information is very helpful thank me :D :D

    visit back my website ^_^
    biro jasa stnk
    biro jasa sim
    biro jasa bpkb
    biro jasa perizinan

    ReplyDelete
  7. Perpustakaan kantor saya tergolong bagus dan lengkap, baik buku2 yang berkaitan dengan pekerjaan (ekonomi dan bank) maupun buku2 bacaan biasa. Bisa diakses secara online dari komputer kantor, buku2 baru diinfokan secara berkala via email, kadang ada bedah buku, dan pegawai bisa menyumbang buku atau memberi saran buku yang sebaiknya dikoleksi perpustakaan.....tapi perpustakaan tetap sangat sepi dan tampaknya nyaris tidak ada pegawai yang suka meminjam atau membaca buku kecuali mungkin untuk kepeluan pekerjaan. Di meja para pegawai, jika ada buku paling2 yang tampak adalah kitab suci.... Saya juga pernah meminjamkan buku untuk dibaca staf saya yang saya lihat pernah membawa novel, tapi sudah bertahun2 tidak dibaca dan dikembalikan...kebanyakan alasannya adalah tidak ada waktu untuk membaca... Jadi bukan hanya perpustakaan yang salah, masyarakat kita memang kurang hobi membaca juga....

    ReplyDelete
  8. perpustakaan yang ada di kota ku gk seperti ini gan..
    ini kren gan...
    maksih gan atas infonya..

    ReplyDelete
  9. Soal buku = fiksi itu sptnya yg kelihatan saja. Ada orang2 yg suka baca nonfiksi tp memang jarang menampakkannya di medsos manapun. Bahkan mereka menganggap nonfiksi = buku, dan fiksi = novel. Ada juga yg hanya baca sesuatu yg 'berguna' bagi mereka, dalam artian aplikatif, spt buku masak dan buku kerajinan.

    ReplyDelete
  10. kalo boleh tau siapa ya gan pendiri Perpustakaan Nasional...?
    makasih infonya gan sangat bermanfaat...

    ReplyDelete
  11. very2 nice for information boss..
    thanks.

    ReplyDelete
  12. makasih banyak atas informasinya gan.,.benar2 sangat meanrik dan bermanfaat sekali..mantap. :n

    ReplyDelete
  13. makasih banyak atas informasinya gan.,.benar2 sangat meanrik dan bermanfaat sekali..mantap. :q :a :d :n

    ReplyDelete
  14. perpustakaan sekarang udah banyak dilupakan, untuk baca buku sekarang udah ada ebook.

    ReplyDelete
  15. Bertaruh dan memenangkan ribuan hadiah dan strategi untuk bermain permainan taruhan sangat penting.
    Agen Bola Terpercaya

    ReplyDelete
  16. Hallo,
    Boleh minta review untuk sistem digital book library kita ?
    kita dari Asiaread Indonesia.
    Kita memiliki banyak digital book yang jumlah nya akan terus bertambah
    yuk check website kita di http://asiaread.lib.overdrive.com

    Kontak kita yaa di olivia@celexmedia.com or line id : olipelipio

    ReplyDelete
  17. hari buku nasionao yangs angat mengesankan bagi saya

    ReplyDelete
  18. Perpustakaan di Indonesia memang sangat menyedihkan. Minat baca juga rendah. Bahkan dari tahun ke tahun, tidak ada perkembangan yang signifkan untuk perpustakaan di Indonesia.

    Saya menulis di blog Booktiin, beberapa perpustakaan dunia yang bukan hanya ramai oleh pengunjung, namun juga menjadi jantungnya peradaban. Di Indonesia, bisakah perpustakaan jadi jantungnya peradaban negeri ini?

    ReplyDelete
  19. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete
  20. I saw your post all over the web and it looks great to many people comment your post because they are impress on the content which is unique and undestandable. Keep it up and more power
    Taruhan Bola Online

    ReplyDelete

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-

Like us on Facebook

Flickr Images