Thursday, February 12, 2015

Rumah Bambu oleh Y.B.Mangunwijaya



 Buku Kumpulan Cerpen Rumah Bambu ini merupakan karya Romo Mangun yang dikumpulkan oleh Joko Pinurbo dkk dari dokumentasi yang masih tertinggal di rumah Romo Mangun. Kondisi awalnya tidak semua dalam naskah yang utuh siap cetak. Ada yang tidak terbaca, ada yang tidak jelas tahun penerbitannya. Dari 20 cerpen dalam buku ini, hanya tiga cerpen yang dimuat di media. Usaha mengumpulkan, mengetik ulang, serta menyunting cerpen ini patut diapresiasi tinggi, sebab inilah karya manusia yang dapat dinikmati generasi selanjutnya dalam rupa cerita yang reflektif. Kadang kala kita melihat kehidupan kita di dalamnya. Kehidupan yang sepertinya biasa-biasa saja, namun dimaknai luar biasa ketika dituliskan serta dibaca kembali. Ada kalanya kita merasa sebuah peristiwa atau kejadian sepertinya berlalu tanpa makna, namun sadarkan kita bahwa peristiwa atau kejadian tersebut bagi orang lain mempunyai maknanya tersendiri?

Ilustrasi Rumah Bambu (sumber: http://gomarketonline.com/2014/08/08/gambar-desain-rumah-bambu-sederhana.html)


Monday, February 9, 2015

Malaikat Lereng Tidar by Remy Sylado


Saya tidak menyangka novel ini akan setebal lebih dari 500 halaman. Kesalahan saya adalah tidak mencicil membacanya dari awal. Dan beberapa kali dalam perjalanan saya naik kereta dimana waktu luang dalam perjalanan cukup longgar, saya tidak membawa novel tebal ini. Akhirnya saya cukup terlambat menyelesaikannya, sekaligus terlambat memposting review buku hadiah dari Santa saya.

Monday, February 2, 2015

Opini: Menemukan Ekspektasi



Tema opini bulan ini adalah ekspekstasi. Lebih jelasnya dapat diuraikan, apa ekspekstasimu terhadap sebuah buku (yang akan dibaca).

Bicara masalah ekspekstasi, menurut saya, kita seharusnya mengalamatkannya pada penulisnya. Bukan pada bukunya. Artinya sejauh apa kita mengenal penulisnya, sejauh itu ekspektasi kita pada karya-karyanya. Jadi, kalau kita tidak mengenal penulisnya, barangkali ekspektasi kita kurang berdasar kuat.

Pengalaman saya dalam menimbang sebuah buku bertitik pada jenis bukunya, apakah sifatnya novel, kumpulan cerpen, biografi, buku sejenis literature, buku terbitan lawas, dan sebagainya. Intinya, saya meletakkan dulu jenis buku apa yang ingin saya baca, lalu menyerahkan sepenuhnya pada buku itu seperti apa isi/ceritanya, saya akan coba mengupas satu-satu sebagai berikut:

Novel. Untuk novel, ada dua sumber yang sayagunakan sebagai referensi. Pertama, review teman-teman BBI. Dari proses pembacaan itu saya dapat membayangkan bagaimana isinya. Kedua, penulis novel yang sudah saya dengar sebelumnya. Untuk novel-novel Indonesia, saya lebih menyukai penulis yang pernah saya baca karangannya. Dengan demikian, saya memahami gaya penulisan ceritanya.

Kumpulan cerpen. Bagi saya, membaca kumpulan cerpen merupakan salah satu cara untuk menerobos kebuntuan membaca. Satu cerita pendek dapat dilahap dengan cepat, dan tidak perlu ada keterkaitan dengan cerita-cerita lainnya. Saya tidak memusingkan siapa yang menulis, apakah terkenal atau tidak. Bagi saya, setiap penulis cerita pendek memiliki kekhasannya masing-masing. Cerita-cerita pendek karangan Romo Mangun lebih menceritakan kehidupan sehari-hari, Eka Kurniawan, suka mengejutkan, Gustf Sakai banyak menceritakan daerahnya Sumatra Barat. Demikian juga cerita-cerita pendek klasik, tidak terlalu beban untuk dibaca. Namun kesulitan menulis review cerpen ini adalah ketika kumpulan cerpen untuk pengarang yang berbeda-beda yang serring juga temanya tidak sama. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam mereviewnya.

Buku Sejarah, Politik. Tidak banyak ekspekstasi dari jenis ini sebab misi saya adalah mencari informasi. Karena itu saya teliti betul apakah buku jenis ini sudah berisikan informasi yang saya butuhkan. Pada umumnya, jika sudah cocok pada satu penerbit, pertimbangan saya lebih kepada kredibilitas penerbit buku tersebut. Dari pengamatan saya, peminat buku jenis ini sudah tersegmentasi. Jadi, para penggemar bukunya akan selalu mencari jika ada edisi/judul terbaru. Penerbit yang cukup terkenal memproduksi buku ini antara lain: Komunitas Bambu, Yayasan Obor Indonesia, Marjin Kiri, Kepustakaan Gramedia.

Kumpulan tulisan (essay). Hampir mirip dengan kumpulan cerpen, kumpulan tulisan ini ada yang satu buku terdiri dari beberapa penulis atau satu buku hanya oleh satu penulis. Dari kumpulan tulisan (essay) ini saya mempelajari isinya serta belajar bagaimana menuangkan ide-ide dalam suatu penulisan yang terstruktur.

Kumpulan puisi. Sebenarnya puisi ini yang sulit. Sebab membaca satu bait puisi sama sulitnya membaca puisi satu halaman. Sulit dalam arti mencoba menemukan arti/makna kalimat-kalimat yang menyusunnya. Karena itu, saya tidak melihat siapa penulisnya. Semua buku kumpulan puisi saya coba lahap. Terkadang dari satu buku kumpulan tersebut, hanya satu atau dua saja yang saya suka. Barangkali hanya itu yang sesuai dengan harapan saya, dan saya mengerti.

Buku-buku terbitan lawas. Salah satu "hobi" saya yang baru adalah menelusuri buku-buku terbitan Indonesia lama yang masih menggunakan ejaan oe, tj, dj, j. Intinya buku-buku yang masih berejaan sebelum EYD. Entah kenapa saya merasa di abad berbeda pada saat membaca buku-buku tersebut. Bagi saya, suatu keasyikan tersendiri menemukan Bahasa Indonesia sekarang bersumber dari bahasa Melayu yang boleh dibilang masih orisinil, tanpa pengaruh istilah asing yang diindonesiakan.

Sekali lagi, menurut saya ekspektasi terhadap buku sebenarnya merupakan proses pencarian. Bila pada satu buku tidak memuaskan, maka cari lagi. Menurut saya, buku yang sesuai ekspektasi pada dasarnya adalah hasil komunikasi yang baik antara kita sebagai pembaca dengan penulisnya. Dan mungkin itu juga seninya, dimana tidak semua buku sesuai harapan, agar kita menyadari tidak semua keinginan itu tercapai.



Bandung-Depok, 2 Februari 2015

Sunday, February 1, 2015

Tebak Secret Santa 2014


Sesungguhnya ini postingan yang terlambat. Setelah saya menerima riddle yang diberikan oleh Santa saya, saya hanya melakukan penelusuran di google. Dan lewat postingan ini, saya menyatakan untuk dan atas nama sendiri bahwa saya tidak melakukan praktek curang dengan blogwalking ke peserta Secret Santa 2014 sebelum postingan ini di buat untuk mencari siapa Santa saya.

Keterlambatan ini murni karena banyak faktor. Pertama, saya belum selesai membaca novel pemberiannya yang tebalnya lebih 500 halaman (tebal banget ah). Kedua, saya tidak begitu yakin dengan tebakan saya, sebab clue yang diberikannya saya tidak dapat jawaban yang memuaskan. Ketiga, persoalan teknis pada minggu ini dimana saya tidak dapat berkutat dengan laptop karena sedang mengikuti kelas diklat yang tidak ada mejanya serta diasramanya tidak ada colokan listrik. Ditambah jadwal diklatnya yg cukup padat dari suobuh sampai malam. Alhasil weekend ini saya sukses tepar.

Tapi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya karena memberikan saya Novel Malaikat Lereng Tidar ini, sebab isinya sangat kaya dengan muatan sejarah. Selain iti yang sukai dari novel tersebut adalah pada tiap judul selalu diakhiri satu bait puisi. Review lengkapnya pasti saya kerjakan dengan senang hati.

Satu lagi saya ucapkan terimakasih pada Santa saya yang lain-yang tidak secret-yang memberikan novel remy sylado juga yang berjudul Perempuan Bernama Arjuna. Ah tahun 2014 kemarin sepertinya menjadi Tahun Remy Sylado. Big gracias..

Saya mencoba menebak dari clue yang diberikan, dan apakah benar atau salah biarlah Santa yang mengkonfirmasinya disini. Tebakan saya yang menjadi Santa saya di tahun 2014 adalah YULIANA PERMATA SARI.

Itu saja dari saya...kalau salah saya mohon maaf :)
Buat Divisi Event, saya minta maaf juga atas keterlambatannya ya..Good job!


Sampai jumpa lagi tahun depan.