Tuesday, May 31, 2016

Hari Buku Nasional, munculnya Kota Literasi baru


Setahun setelah menulis tentang Hari Buku Nasional pada setiap 17 Mei, saya kembali menulis dengan topik yang sama. Kalau tulisan yang lalu lebih mempersoalkan aksesibilitas terhadap buku di Indonesia, kali ini saya ingin mengulas dari sudut pandang berbeda. Mari sejenak kita simak data-data  tentang literasi di Indonesia.

Pada 2012, menurut Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca.

Menurut Perpusnas,  Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Bila dibandingkan dengan masyarakat Amerika Serikat, terbiasa membaca 10-20 buku per tahun dan masyarakat Jepang membaca 10-15 buku setahun.




Kota Literasi
Hal menarik bagi saya saat ini adalah munculnya julukan baru bagi Kota Makassar, yaitu sebagai Kota Literasi. Dhani Rhamadani berkenan membagi pengalamannya sebagai volunteer pada acara Makassar International Writer Festival (MIWF). Rasanya, stigma kota yang sering masuk pemberitaan karena peristiwa demo mahasiswa, lebih adem dengan adanya event literasi kelas internasional ini.Anda bisa membayangkan bahwa sebelum acara ini ada pre-event yang mengundang seluruh komunitas, kelompok literasi terutama di daerah Sulawesi Selatan.

Saya sudah lama sekali menginjak kota Makassar. Seingat saya terakhir tahun 2010, dan belum ada terdengar adanya gerakan literasi yang mencuat di Makassar. Beberapa artikel yang saya baca, saat ini di Makassar ada "Kedai Buku Jenny... Almost Book Shop". Kedai Buku Jenny (KBJ) didirikan oleh Harnita Rahman bersama suaminya, Zukhair Burhan, serta dua sahabatnya, Asyari Mukrim dan Aswin Baharudin, pada tahun 2011. Konsepnya adalah perpustakaan dengan toko buku. KBJ sudah lima kali pindah tempat karena menaari biaya sewa tempat yang paling murah. KBJ telah berpindah dari perumahan Wesabbe, Panakukkang, perumahan Budidaya Permai, kompleks Asal Mula, dan kembali ke Wessabe.

Selain KBJ, muncul rumah-rumah literasi lainnya di Makassar, antara lain Kata kerja dan Kafe Dialektika, Kampung Buku, Komunitas Literasi Makassar, Rumah Baca Philosophia, Cara Baca, Taman Baca Anak Bangsa, Rumata, Pecandu Buku, Pondok Baca, Makassar Indie Book, Kelas Menulis Kepo, Malam Puisi Makassar, Ruang Baca Antara, dan Dino Pustaka.

Kaum Muda
Sebagian besar rumah literasi ini menjangkau masyarakat yang cukup luas seperti di kompleks perumahan, dan berada di dekat kampus-kampus yang cukup besar di Makassar, seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, dan Universitas Muslim Indonesia (UMI). Menariknya, komunitas ini digerakkan oleh kaum muda, terutama mahasiswa.

Penyair muda yang namanya cukup meroket karena film Ada Apa dengan Cinta, M. Aan Mansyur turut terlibat dengan gerakan literasi dengan mengasuh pustaka Kata Kerja. Terkait dengan banyaknya komunitas literasi di Makassar ia menyatakan bahwa hal itu lahir karena kegelisahan pascareformasi 1998. Masyarakat butuh ruang untuk kembali membaca dan berdiskusi.

Tantangan
Ditengah keterbatasan jumlah buku dan jumlah tempat yang dapat menghadirkan buku, apa yang dapat kita lakukan? ada satu hal yang simpel namun memberikan dampak yaitu kita aktif memperkenalkan buku dan mendorong minat baca di dekat kompleks tinggal kita. Misalnya dengan menghubungi pengurus RT/RW agar menyediakan ruangan kecil 3x4 meter di kompleks perumahan, lalu kita membuat program pengumpulan buku untuk mengisi taman bacaan tersebut

Kedua, perlu 'memprovokasi' para rekan jejaring yang dekat dengan media sosial seperti Twitter, Path, Instagram atau Facebook untuk memposting hal-hal yang berkaitan dengan hal membaca, menulis, pembacaan puisi, teater, dan seni lainnya. Seperti kegelisahan Aan Mansyur, kita patut gelisah dengan kurangnya bacaan bermutu, dan tontonan bermutu. Mempromosikan lewat media sosial barangkali satu cara agar kita dan bangsa kita merdeka secara gagasan dan kecerdasan.

Ketiga, mendorong kaum muda untuk menulis. Di tengah era digital dengan informasi yang berlimpah (namun dangkal), adalah sebuah terobosan mengisi sumber-sumber bacaan di web,blog, atau media online dengan tulisan bergizi. Tentu ini tidak mudah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi generasi selanjutnya. Dan lewat BBI, semoga dapat terwujud. Kapan? Entah. Kita hanya berusaha.

Selamat hari buku Nasional. Selamat mewujudkan kota literasi.

Bandung, 31 Mei 2016
Helvry Sinaga

3 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-