Wednesday, December 15, 2010

Superfreakonomics Pendinginan Global, Pelacur Patriotik dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa


Superfreakonomics Pendinginan Global, Pelacur Patriotik dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa
Terbayang dulu pelajaran ekonomi adalah pelajaran IPS. Pelajaran ini termasuk pelajaran yang kurang sukses dibawakan oleh guru-guru saya, sehingga saya tidak dapat menyukainya dengan sepenuh hati. Teringat juga pada joke seorang teman yang menceritakan neneknya yang bertanya padanya.
Nenek: "kamu jurusan apa tho kuliahnya?"
Cucu: "Jurusan ekonomi nek"
Nenek: "Lha kok ekonomi toh? ndak eksekutif aja, kamu nanti capek nggak duduk."
Cucu:???




Saya memperoleh buku ini tidak sengaja di toko buku Rumah Buku, di Bandung. Tadinya mau sekalian beli dengan buku 1 nya, tapi karena saya belum baca reviewnya dari teman-teman GRI, saya putuskan untuk membeli buku 2 nya saja. Hasilnya? Wow..Steven D. Levit dan Stephen J. Dubner berhasil memukau dengan cara penulisan ringan namun asyik. Kira-kira semacam tulisan populer ekonomi.

Mengapa dikatakan Freakonomics? istilah itu sebenarnya mengaplikasikan apa yang dikatakan oleh ekonom Gary Becker, ekonom dari University of Chicago. Dalam penyampaian pidato penganugerahan penghargaan Nobel ekonomi pada dirinya di tahun 1992, Ia menyatakan bahwa pendekatan ekonomi tidak mengandaikan bahwa manusia hanya termotivasi oleh kepentingan atau keuntungan bagi diri sendiri. Pendekatan ekonomi menggunakan metode analisis. Ia menambahkn bahwa suatu perilaku digerakkan oleh seperangkat nilai dan preferensi yang jauh lebih baik. karena itu dengan pendekatan ekonomi menjadi salah satu cara untuk menelaah dunia dengan cara yang agak berbeda. Pendekatan ekonomi menganalisis bagaimana orang membuat keputusan-keputusan dan bagaimana orang berubah pikiran; bagaimana mereka memilih seseorang untuk dicintai dan dinikahi. Keputusan-keputusan tersebut disimpulkan dengan cara melakukan analisa atas data yang telah dikumpulkan sebanyak-banyaknya.

Seperti buku sebelumnya, Steven Levitt dan Stephen Dubner membagi buku ini dalam 5 bab. Bab tersebut terdiri lagi dari beberapa bagian yang disusun secara sistematis, sehingga seandainya kita membacanya tidak berurutan, tidak perlu khawatir kita akan kehilangan jalan cerita mengasyikkan. Kelima bab tersebut adalah sebagai berikut.

Bab I : Mengapa Pelacur Jalanan seperti Sinterklas di Pusat Perbelanjaan?
Bab II : Mengapa Pelaku Bom Bunuh Diri Seharusnya Ikut Asuransi Jiwa?
Bab III : Kisah-kisah sulit Dipercaya tentang Ketakacuhan dan Kepedulian Kepada Sesama
Bab IV : Solusi Sudah Ada -Murah dan Sederhana
Bab V : Apa Kesamaan antara Al Gore dan Gunung Pinatubo?

Kembali penulis buku ini menegaskan bahwa mereka sedang memperlihatkan perilaku manusia yang berkaitan baik langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan ekonomi. Pembaca disodorkan suatu pernyataan jika Anda memahami mengapa seorang guru atau seorang pegulat sumo melakukan kecurangan, Anda dapat memahami bagaimana hiruk pikuk yang diawali dengan kredit pemilikan rumah yang macet akhirnya berlalu. Sebelumnya penulis buku ini menuliskan bahwa kebanyakan kita ingin membetulkan atau mengubah dunia dengan cara tertentu. Akan tetapi untuk mengubah dunia, Anda harus memahaminya terlebih dahulu. (Hlm 19).

Bab I, Mengapa Pelacur Jalanan seperti Sinterklas di Pusat Perbelanjaan? Bab ini menuliskan tentang Perempuan, Sejarah usia dan harapan hidup perempuan, kemajuan perempuan di pendidikan tinggi, prostitusi sebelum perang dunia kedua, perempuan yang memilih profesi di prostitusi. Yang menarik pada bab ini ialah Levit menuliskan tentang pertemanan dengan Allie (bukan nama sebenarnya), seorang wanita panggilan kelas atas di Chicago. Dilema, satu sisi profesi ini rentan akan pelanggaran asusila, namun secara ekonomi, bayaran akan profesi ini sangat menggiurkan. Allie menceritakan bagaimana seluk beluk dunia yang digelutinya, termasuk bagaimana strategi Allie untuk mengakhiri profesinya. Allie bahkan diundang sebagai pembicara dalam kelas kuliah Levitt "The Economics of Crime".

Bab II, Mengapa Pelaku Bom Bunuh Diri Seharusnya Ikut Asuransi Jiwa?. Bab ini menuliskan tentang puasa bagi perempuan yang mengandung, tanggal lahir yang bertumpuk dan pengaruh usia relatif, mengapa terorisme begitu murah dan mudah, kedokteran gawat darurat sebagai spesialisasi, cognitive drift, siapa dokter terbaik dan terburuk di gawat darurat, berbagai cara menunda kematian, kebenaran seputar kemoterapi, hidup lebih lama untuk mati karena kanker. Yang menarik pada bab ini ialah tulisan tentang bagaimana cara menangkap teroris dengan menggunakan banking data. Steve Levitt menuliskan bagian ini melalui wawancara dengan Ian Hosley (nama samaran) dan makalahnya: Identifying Terrorists Using Banking Data. Sekilas dipaparkan bagaimana menganalisis data transaksi di bank yang membentuk suatu pola yang dianggap mencurigakan membiayai aksi terorisme.

Bab III, Kisah-kisah sulit Dipercaya tentang Ketakacuhan dan Kepedulian Kepada Sesama menuliskan tentang kisah Kitty Genovese dan "38 saksi". Kisah ini adalah kasus pembunuhan seorang wanita bernama Kitty Genovese oleh seorang pria di New York City pada tahun 1964. Kasus tersebut cukup menyita perhatian karena menurut New York Times, "pembunuhan itu disaksikan oleh 38 saksi mata". Stephen Levitt mencoba menguraikan kasus ini dengan memetakan artikel, termasuk mencoba menelaah apa yang menjadi penyebab timbulnya kekerasan pada warga Amerika. Pada kasus di atas, yang disebut dengan "ekonom pemberontak" seperti Gary Becker mencoba menyertakan sentimen-sentimen yang terkait dengan tindakan perilaku altruisme. Altruisme adalah prinsip atau praktek tidak mementingkan diri sendiri untuk/atau pengabdian kepada kesejahteraan orang lain (lawan dari egoisme). Pada kasus di atas, dianggap 38 orang saksi mata tersebut tidak mempraktekkan perilaku altruisme. Ekonom seperti Gary Becker mengkaji kasus tersebut dengan analisis bagaimana hubungan seseorang yang mementingkan dirinya sendiri terhadap kondisi-kondisi tertentu.

Bab IV, Solusi Sudah Ada -Murah dan Sederhana, pada pembuka bab ini disajikan data-data angka kematian ibu melahirkan di Eropa yang disusun secara cermat oleh Ignatz Semmelweis, dokter muda kelahiran Hungaria, ketika ia bertugas di Rumah Sakit Umum di Wina. Berangkat dari keprihatinannya karena tingginya kematian ibu bersalin sehingga ia terobsesi untuk menghentikannya. Dari analisis data yang ia lakukan, ia menemukan beberapa fakta yang menyebabkan banyaknya infeksi yang terjadi di ruang bersalin. Apa fakta yang paling heboh? yakni: dokter maupun mahasiswa kedokteran mencuci tangan sekedarnya saja sehabis dari ruang otopsi ke ruang bersalin. Temuan yang sederhana tampaknya, namun berakibat fatal. Pada bab ini juga dituliskan beberapa kisah lain yang menggunakan solusi-solusi sederhana untuk menjawab masalah-masalah yang kelihatannya sulit ditangani. Seringkali masalah baru muncul karena solusi yang diterapkan tidak berhasil mengidentifikasi penyebab permasalahan dengan akurat.

Bab terakhir, Apa Kesamaan antara Al Gore dan Gunung Pinatubo?Pemanasan global menjadi isu yang hangat di seluruh belahan dunia. Seruan untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil penyebab gas karbondioksida digaungkan ke seluruh dunia. Tentu saja dunia ketiga keberatan. Bagi mereka, dunia barat dianggap egois. Ketika dunia barat menggunakan bahan bakar fosil secara besar-besaran, negara berkembang masih membangun perekonomiannya. Apa fakta menarik tentang efek rumah kaca? Benarkah gas karbondioksida penyumbang gas rumah kaca? Temuan dari ilmuwan iklim tidak seperti itu. Hasil penelitian Ken Celdeira dari Carnegie Institute for Science menyimpulkan bahwa Hewan memamah biak menghasilkan gas metana yang berpuluh kali lipat menyumbangkan gas rumah kaca dibanding karbondioksida yang dilepaskan oleh kendaraan bermotor. Apa kaitannya dengan Al GOre? Al Gore, penerima Nobel Perdamaian yang juga mantan wakil presiden AS, menjadi penggiat usaha-usaha memerangi perubahan iklim global. Ia mendirikan lembaga The Alliance for Climate Protection pada tahun 2006. Organisasi ini berkomitmen untuk memberi pendidikan pada masyarakat global tentang bagaimana usaha pencegahan krisis iklim global secara komphrehensif. Gunung Pinatubo adalah Gunung di Pulau Luzon, Filipina. Meletus pada tahun 1991. Gunung tersebut memuntahkan abu vulkanik dan melontarkan lebih dari 20 juta ton belerang oksida ke atmosfir. Hampir sama dengan abu vulkanik dari Gunung Merapi, di Jawa, belerang oksida tersebut ternyata mengurangi tingkat radiasi matahari ke bumi. Justru sebaliknya, terjadi "pendinginan global" bukan? Dalam ilmu ekonomi, berbagai aktivitas membuat eksternalitas. Eksternalitas dapat diartikan efek samping dari suatu tindakan. Ada eksternalitas positif dan ada eksternalitas negatif. Misalnya, penjual bunga di tepi jalan memberikan eksternalitas positif, karena "efek samping" dagangan bunganya memberikan pemandangan segar dan membuat mata menjadi rileks. Sementara, membeli es batu memberi eksternalitas negatif, dimana kulkas yang membuat es tersebut berasal dari listrik yang diproses oleh pembangkit listrik bertenaga batu bara yang menyebabkan pencemaran udara. Masalah intinya adalah bagaimana mengubah perilaku untuk mengurangi dampak pemanasan global, adalah dengan cara memberikan insentif atas eksternalitas yang dihasilkan. Seandainya saja para pengguna kendaraan bermotor dikenakan insentif tambahan karena mencemari udara, akan berpengaruh pada perilaku untuk menggunakan bahan bakar secara efisien. Jadi apa persamaan dan perbedaan antara Al Gore dan Pinatubo, sama-sama menurunkan temperatur bumi. Perbedaannya? tentu saja masalah biaya.

Kembali ke buku ini, diperkenalkan cara memandang permasalahan di dunia dengan cara pandang yang berbeda. Terlepas dari berbagai kritikan dari ekonom yang sudah mapan, penyajian ekonomi dalam keperilakuan manusia menjadi suatu hal yang berbeda. Penulis juga menjauhkan berbagai macam rumus ekonomi maupun metode-metode penelitian yang njelimet yang bisa membuat pembaca awam melemparkan buku ini.

Satu hal yang dapat saya simpulkan yaitu, berbagai solusi maupun alternatif pemecahan masalah hendaknya diikuti dengan data yang akurat. Mendasarkan saran atau rekomendasi dengan tidak memedulikan data-data adalah prosedur yang kurang lengkap dalam mengenali permasalahan. Selain itu, saya melihat bahwa penulis buku ini dengan sangat cermat mengumpulkan membaca, menelaah, mendiskusikan bahan-bahan artikel, jurnal ilmiah, kliping, buku, wawancara, untuk "menjawab" pertanyaan-pertanyaan "gila" seperti judul bab di buku ini. Kekuatan buku ini menurut saya terletak pada penyajian fakta dari hasil penelitian yang terkesan rumit dan mengemasnya seperti membuka ensiklopedi. Tidak ada gambar sama sekali. Jumlah Tabel juga tidak lebih dari lima. Saya membayangkan, jika saya yang membaca jurnal-jurnal penelitian tersebut, maka yang saya baca adalah bagian tujuan penulisan serta simpulan. Saya sendiri pusing dengan segala macam rumus dan metode-metode pengolahan data. Dan hebatnya, (saya yakin) database mereka cukup bagus. Dari daftar kepustakaan, untuk menghasilkan satu bab buku ini, paling tidak sepuluh atau lebih sumber bacaan (tentu saja bukan sekelas Wikipedia).



Published April 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2009)
ISBN139789792254860




Saya tidak tahu apakah Goodreads juga menjadi tempat laboratorium untuk mengamati para pembaca di seluruh dunia (atau Indonesia) dengan memerhatikan perilaku pembaca yang terdaftar di Goodreads dengan melihat, misalnya?
* Berapa % member Goodreads yang sukanya update status
* Berapa % member Goodreads yang sukanya "nyampah" di review atau profile atau thread
* Mengapa member Goodreads Indonesia aktif sekali memberikan komen?
* Apakah Goodreads Indonesia efektif meningkatkan minat baca di Indonesia?

atau bagi para penerbit
* Berapa persen market share untuk terbitan buku yang bergenre fiksi fantasi?
* Bagaimana selera pembaca Indonesia terhadap karya sastra Jawa?

eh..saya bukan peneliti yaa..

Jadi, empat bintang dari saya. Sorry kali ini reviewnya tidak menampilkan biografi singkat Penulis. *lagi males*


----------
Itu adalah review saya kurang lebih lima tahun yang lalu (2010). Pertanyaan yang sama masih relevan dengan situasi sekarang, yaitu:
1. sejauh apa komunitas pembaca (atau blogger buku) di Indonesia dapat berpengaruh dengan minat baca? 
2. Apakah dengan hadirnya banyak tulisan mengenai resensi atau katakanlah sinopsis dapat membuat (calon) pembaca akan tertarik?
3. Dengan adanya media sosial, orang lebih terpaku dengan berita pada lini masa, apa permasalahan utama orang malas membaca?
4. Apakah kuat korelasi antara harga buku dengan minat membaca?

Semoga ada yang meneliti dan membagi hasilnya.

Bandung, 6 Januari 2016
Helvry

0 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-