Sunday, April 17, 2011

Garis Perempuan


Garis Perempuan
by Sanie B. Kuncoro
Paperback, 375 pages
Published January 2010 by Bentang Pustaka
ISBN13: 9789791227728
Perempuan dengan segala keunikannya memiliki segala sesuatu yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk dipelajari dan dibahas. Pujangga-pujangga ternama pun tidak melewatkan sifat wanita dalam karya sastra mereka.

Novel ini bercerita tentang persahabatan empat orang perempuan yang bernama Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey. Mereka bersahabat sejak usia anak-anak. Permainan favorit yang mereka senangi adalah main pasar-pasaran. Mereka berempat melakukan persiapan untuk permainan pasar-pasaran. Antara lain menyiapkan kereweng (dari bekas pecahan genting) untuk dijadikan uang-uangan. Selain itu mereka mengumpulakn bunga-buga sepert bunga kenanga, bunga bougenvil, dan bunga melati sebagai barang dagangan dalam pasar-pasaran mereka. Dalam cerita pada bab awal ini disebutkan bahwa yang berperan menjadi pembeli adalah Ranting dan Gendhing, sedangkan Tawangsri dan Zhang Mey menjadi penjualnya. Namun, akhirnya banyak anak-anak lain yang datang. Ranting dan Gendhing akhirnya mengambil peran sebagai penjual. Dagangan mereka laku keras. Tumpukan kereweng menjadi buktinya.



Disinilah imajinasi anak-anak mengalahkan realitas dunia orang dewasa. Mereka terutama Ranting tidak perlu merasa takut akan tidak ada uang untuk berbelanja. Baginya, kehidupan ia dan mboknya yang pas-pasan tentunya tidak akan dapat leluasa berbelanja di dunia nyata.

Permainan pasar-pasaran mereka baru saja berhenti ketika seorang ibu berteriak mengucapkan "Bancaan..bancaan...kemari." Bancaan ini biasanya dibagikan khusus buat anak kecil, dalam rangka kelahiran bayi, ulang tahun, kehamilan, pernikahan atau acara syukuran lainnya. Namun kali adalah Bancaannya Ajeng, karena ia sudah perawan. Keempat gadis cilik saling melirik, Zhang May bertanya, "Apa artinya menjadi perawan?"
Gendhing menjawab, " Mbuh, ora weruh"
Ranting dan Tawangsri,"Podo, aku yo ora mudeng"


Selanjutnya adalah untaian cerita dari masa kanak-kanak menuju usia akil baliq yang terjadi pada diri Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey. Ranting tinggal bersama dengan Mboknya yang berjualan karak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Tawangsri tinggal bersama ayahnya yang seorang tukang becak pada keluarga Zhang May dan ibu yang berprofesi sebagai buruh cuci. Tawangsri memiliki ibu yang berprofesi
sebagai pedagang kain batik di pasar, sedangkan Zhang May adalah anak dari pengusaha yang menyewakan becak kepada orang.

Dari latar belakang keluarga yang berbeda, mereka tumbuh dalam keluarga
masing-masing yang membesarkan mereka. Ranting harus terbiasa membantu ibunya berjualan karak, sementara ibunya sendiri sudah tua dan menderita tumor. Tawangsri yang sering membantu ibunya untuk mencuci untuk mendapat tambahan buat uang sekolah dan kebutuhan sehari-harinya. Tawangsri dan Zhang May lebih beruntung dari kedua
temannya, karena orangtua mereka lebih mampu secara ekonomi untuk menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.

Persoalan yang dialami oleh keempat gadis ini adalah persoalan yang juga dialami oleh gadis-gadis di seluruh negeri ini. kadangkala keinginan yang begitu menggebu-gebu tidak harus berakhir dengan indah seperti cerita negeri dongeng atau cerita pengantar sebelum tidur. Setiap menit setiap jam adalah perjuangan, membuat keputusan di tengah situasi yang sulit adalah tantangan terberat bagi para gadis belia ini.

Bagaimana Ranting harus membiayai biaya operasi tumor ibunya?
Bagaimana gendhing memikul utang bapa ibunya?
Bagaimana tawangsri menemukan sosok ayah dalam diri Jenggala yang memikatnya pada suatu sore?
Bagaimana Zhang Mey harus menentukan siapa pria yang menjadi bagian hidupnya, pillihannya kah atau pilihan orangtuanya?

Mungkin memang kehidupan seperti garis, yang tidak akan pernah kembali lagi. garis akan mulai dari titik satu dan tidak akan pernah kembali lagi. Sanie Kuncoro sangat apik dalam mengemas permasalahan realitas perempuan dalam sebuah novel. Tidak disebutkan di daerah mana novel ini bersetting, namun dari beberapa kosakata bahasa jawa yang sangat banyak di bagian cerita Ranting dan Gendhing, saya berkesimpulan
ini bercerita di daerah Jawa Tengah, karena disamping itu saya menemukan ada nama kota Wonosobo disebut. Selain itu, Sanie Kuncoro adalah alumni Universitas Diponegoro, jadi saya semakin kuat berkesimpulan novel ini berkisah di sebuah kota di Jawa Tengah.

Banyak sekali kosa kata Jawa yang ditulis disini, dan bagusnya lagi ada glossarinya di halaman akhir sehingga bagi yang nggak ngerti bisa ngintip dulu.Sanie sangat pintar meramu kata-kata menjadi untaian kalimat yang indah, saya sangat suka dengan pilihan-pilihan kata-katanya.

Tidak salah saya memberi 4 bintang, karena buku ini memanglah bagus.

@hws220310

7 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-