Thursday, June 16, 2011

Krakatoa: Saat Dunia Meledak: 27 Agustus 1883


Judul: Krakatoa: Saat Dunia Meledak: 27 Agustus 1883
Judul asli: Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883
Penulis: Simon Winchester
Penerjemah: Prisca Delima
Editor: -
Penerbit: PT Elexmedia Komputindo, 2010
ISBN: 9789792781243

Apakah suatu kebanggaan bila sebuah bencana pernah menjadi buah bibir internasional. Belum hilang di benak kita bencana tsunami di Banda Aceh dan sekitarnya yang menelan korban jiwa lebih dari 100.000 jiwa. Oktober 2010 lalu, erupsi Merapi turut menambah catatan bencana terbesar bagi negeri kita ini. Letusan Gunung vulkanik telah lama menjadi langganan bagi wilayah negeri kita. Rekor yang tidak terkalahkan adalah letusan Gunung Toba yang membentuk caldera Danau Toba, serta letusan Gunung Tambora di Sumbawa, letusan Gunung Agung di Bali (1963), serta letusan Krakatau (1883).

Sebuah gunung dengan puncak lancip. Gunung tersebut mengeluarkan asap. Di sekelilingnya ada es. Itulah gambar pada cover buku ini. Lukisan tersebut berjudul "Sunset over the Ice on Chaumont Bay, Lake Ontario" yang dilukis oleh pelukis Amerika, Frederic Edwin Church yang terinspirasi oleh letusan krakatau.

Simon Winchester membagi buku ini dalam beberapa bagian. Bagian pertama mendeksripsikan nusantara secara umum, bagaimana awalnya Eropa berkenalan dengan Hindia Timur lewat komoditas lada dan kopi. Termasuk pula kedatangan ilmuwan yang terkenal dengan garis maya Wallace, yaitu Albert Russel Wallace. Bagian Kedua mengenai saat-saat terjadinya ledakan. Winchester merangkum semua laporan dari seluruh dunia yang menceritakan peristiwa 27 Agustus 1883 tersebut. Bagian ketiga tentang lahirnya putra Krakatau, yang sekarang biasa dinamakan Anak Krakatau. Fenomena ini menarik perhatian para ilmuwan dari seluruh dunia, termasuk minat Winchester sendiri terhadap kawasan ini. Pada bagian akhir dituliskan juga pengalaman Winchester ketika mengunjungi kawasan krakatau serta merekomendasikan bacaan-bacaan lanjutan bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Krakatau.


Batavia dan sekitarnya
Pada bagian awal, Winchester menuliskan tentang bagaimana awalnya Bangsa Eropa mengenal nusantara, hingga Belanda membangun bentengnya di tempat yang dinamakan Batavia. Cornelis de Houtman membangun jalur awal perdagangan antara nusantara dan Amsterdam. Perdagangan lada hitam Jawa yang menggiurkan Belanda yang sekaligus menjadi amunisi baru untuk mematahkan perdagangan rempah-rempah yang selama ini dicengkeram oleh Portugis.

Ada peristiwa menarik bagaimana ketika Jan Pieterszoon Coen menjabat Gubernur Jenderal pada tahun 1618. JP Coen bermaksud untuk membuat benteng pertahanan untuk melindungi pedagang-pedagangnya dari ancaman Inggris yang sudah lama di sana. JP Coen memperkirakan bahwa imperialis lokal akan terjadi. Namun ia menyadari bahwa kekuatan militernya kalah jauh dibandingkan Inggris. Ia meminta bantuan ke Amsterdam agar kekuatan ditambah, namun permintaan tersebut ditolak. JP Coen berlayar ke Ambon dengan maksud memperoleh kekuatan tambahan di sana.Pasukan Inggris mengepung benteng kecil Belanda itu. Hal itu membuat jengkel penjaga Gudang Belanda, Tn. Van den Broecke, ia mengeluarkan gulungan kain sutra yang bernilai mahal dari gudangnya untuk dijadikan tameng. Lalu Inggris dan sultan muda setempat bertengkar mengenai hasil rampasan itu. Kemudian Sultan Banten datang memerangi Inggris dan sultan muda setempat untuk memastikan bahwa tidak satupun yang mendapat barang rampasan Belanda. Namun, tiba-tiba Inggris meninggalkan tempat itu dan Sultan Banten menggulingkan sultan muda itu. Tempat itu kosong, dan ketika JP Coen kembali, ia heran tidak ada lagi pihak musuh.

Jan Pieterszoon Coen, pendiri Hindia Timur Belanda, bisa mendapatkan penghargaan untuk itu. Sedangkan penamaan ibu kota yang didirikan tersebut sebenarnya merupakan kehormatan yang harus ditujukan kepada para tentara yang tak pernah disebut-sebut dan bahkan hampir dilupakan, serta pastinya bukan hak Coen (h.48).

Keberadaan Batavia selanjutnya menjadi penting, sebab di kota inilah banyak ahli ilmu pengetahuan berdatangan dan menjadi jembatan informasi ke dunia luar mengabarkan kejadian dahsyat letusan Krakatau.

Penemuan terkait
Pada tahun 1858, Philip Sclater menerbitkan makalah "On The General Geographical Distribution of The Members of The Class Aves" yang menyimpulkan bahwa ada enam wilayah zoology yang ia namakan Palaearctic, Aethiopian, Indian, Australasian, Nearctic and Neotropical. Ia mengkhususkan penelitiannya pada jenis-jenis burung. Ia menemukan bahwa jarang sekali ada burung beo di Jawa, tetapi ada banyak burung beo di Sulawesi, Papua, dan Timor; tidak kakatua dan nuri di bagian barat, tetapi banyak di bagian timur; tidak ada Burung Murai di Bali. Hal ini menyimpulkan bahwa geografi punya pengaruh utama dalam zoologi dan botani, tidak terbatas pada zona iklim tertentu saja.

Alfred Russel Wallace mempelajari gejala tersebut dan meneliti lebih lanjut. Ia menyimpulkan tidak hanya burung-burung yang menempati wilayah geografis tertentu, tetapi juga berbagai jenis tumbuhan dan hewan lainnya.Winchester menceritakan sedikit biografi Wallace di buku ini. Wallace dianggap "satelit"nya Charles Darwin yang lebih dahulu tenar dengan teori evolusinya. Kesimpulan Wallace mengenai keberadaan spesies di muka bumi ini didapatkannya di sebuah tempat di negeri ini, di kepulauan rempah-rempah, Maluku. Ia berkesimpulan bahwa individu-individu yang tersingkirkan dari kehidupan ini, pasti secara keseluruhan, jauh lebih lemah daripada individu yang selamat (h.83). Ia mengirimkan hasil penelitiannya di nusantara kepada kediaman Charles Darwin untuk diteruskan ke pakar Geologi yang juga sahabat dekat Charles Darwin, Charles Lyell. Namun, malah Darwin yang terpesona dengan makalah Wallace tersebut. Ia mempelajarinya dan menemukan bahwa makalah Wallace inilah kunci misteri teori evolusinya. Dan dengan bangganya, Darwin menerbitkan buku "On The Origin of Species" yang terkenal itu. Wallace sendiri tidak terkenal di negerinya (Inggris). Charles Lyell sudah menyarankan pada Darwin agar menyatakan sejumlah pujian pada Wallace, namun Darwin tidak mau mengakuinya. Ia beranggapan idenya dan ide Wallace sama. Sayangnya, bukti yang paling mendasar tentang evolusi ada di tangan Wallace.

Penemuan Wallace kedua yaitu gagasan tentang adanya evolusi bumi. Hal itu disampaikannya di depan Linnean Society, 1859. Ia menjelaskan fakta yang ditemukannya, sebagai contoh ketika melintas dari Pulau Bali ke Lombok. Di Bali, ia menemukan Burung Murai pemakan buah dan burung pelatuk, sementara di Lombok, burung itu tidak ada lagi. Padahal laut yang memisahkannya hanya 24 km. Perbedaan mencolok apabila membandingkan hewan-hewan dan tumbuhan antara Sumatra dengan pulau pulau seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua. "Fakta-fakta seperti ini hanya dapat dijelaskan dengan penerimaan luas atas perubahan cepat di permukaan bumi." (h.90)

Ia memisahkan Indonesia berdasarkan jenis hewan dan tumbuhan yang ditemuinya menjadi dua bagian. Dari bagian utara yaitu perbatasan Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan hingga ke Selatan ke Selat Lombok yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Lombok. Atas hal tersebut, garis tersebut diberikan nama Garis Wallace (Wallace's Line)


 Penemuan Wallace ini dilanjutkan dengan penelitian mengenai apa yang terjadi di bawah bumi. Alfred Lothar Wegener menyatakan bahwa dulu bumi terdiri dari benua tunggal, yang kemudian terbagi dua yang dinamakan benua Laurasia dan Gondwananland. Kemudian dua bagian benua itu pecah hingga menjadi 7 benua sekarang ini. Felix Vening Meinesz melanjutkan penelitian ini. Penelitiannya di Laut Jawa menunjukkan adanya penurunan dramatis dalam kekuatan bidang gravitasional di tempat tersebut. Penemuannya ini dilanjutkan dengan pengembangan teori lempeng tektonik.

Teori lempeng tektonik diperkenalkan oleh Geologist asal Kanada, John Tuzo Wilson. Ia menyatakan bahwa Kepulauan Hawai berasal dari pergerakan di bawah laut Samudra Pasifik. Wilson menegaskan apa yang menjadi teori Wagener dan pendahulunya, bahwa Bumi ini bergerak. Lempeng tektonik, pada intinya, adalah cara bumi berlaku dengan kehilangan panasnya yang tetap. Sejumlah besar panas terakumulasi selama formasi planet lebih dari 4.500 juta tahun lalu, dan radioaktivitas alami (h.143). Lempeng-lempeng ini bergerak jauh di bawah permukaan laut dengan arah-arah tertentu. Di beberapa tempat, seperti di kawasan Krakatau lempengan ini turun dengan elevasi tertentu ke arah inti bumi (subduksi/penunjaman). Pertumbukan antarlempeng inilah yang menyebabkan terjadinya gempa.



Serangkaian fakta-fakta ilmiah yang diungkapkan oleh Ahli ilmu pengetahuan di atas, menjadi 'pembuka' yang mau tidak mau membosankan bagi sebagian pembaca seperti saya. Mungkin Winchester juga turut 'memamerkan' ilmu geologinya. Ia bisa menulis tentang geologi dengan dengan fakta-fakta yang berkaitan. Jadi, tidak heran mengapa Indonesia sering terjadi gempa tektonik, sebab Indonesia adalah pertemuan lempeng daratan Eurasia dan Australia serta lempeng samudra Pasifik dan Hindia. Satu-satunya wilayah yang tidak terkena pengaruh lempeng ini di Pulau Kalimantan (terutama Kalimantan Tengah).



Apa yang terjadi di Krakatau sesungguhnya adalah peristiwa alamiah yang terjadi di dalam perut bumi. Lempeng samudra bertumbukan dengan lempeng benua, hanya itulah yang penting, lebih detilnya kita perlu sesi tersendiri untuk diberikan pencerahan oleh ahlinya atau membaca halaman 149-152.

Anggapan lama bagaimana terbentuk Kepulauan Krakatau adalah awalnya ada Gunung setinggi 152 meter yang dinamakan Krakatau kuno. Karena ada letusan raksasa, selanjutnya menjadi pulau-pulau kecil yang terlihat stabil. Pulau-pulau tersebut adalah Rakatta, Danan, dan Perboewatan.

Evolusi Gunung Api Krakatau, menurut Francis (1985) dan Self & Rampino (1981).


Diperkirakan ada tiga letusan sebelum 1883. Letusan sebelumnya diduga pada Anno Domini (AD) 416, 535, dan 1680. Sebelum letusan Agustus 1883, letusan sudah mulai terjadi sejak Bulan Mei 1883. Letusan tersebut merupakan pembuka bagi letusan dahsyat di tanggal 27 Agustus 1883. Dari tanggal 1 sampai 26 Agustus, letusan-letusan menjadi semakin sering dan gunung mengeluarkan asap hitam. Letusan dahsyat tersebut menenggelamkan dua pertiga Pulau, dan memunculkan anak Krakatau.



Selanjutnya, yang menjadi fokus pembahasan buku ini adalah letusan tahun 1883. Keberadaan telegraf yang ditemukan oleh Samuel Morse turut berperan penting dalam penyiaran berita Krakatau ke seluruh dunia. Bukan kantor berita yang pertama kali mendapatkan berita ini, tetapi dari perusahaan pelayaran Lloyd's di Inggris. Winchester menuliskan sejarah lahirnya telegraf di dunia perdagangan dan pemberitaan termasuk teknologi kabel bergetah perca yang digunakan untuk membentangkan kabel telegraf di bawah laut. Berikut gambar jaringan telegraf pada waktu itu.



Dampak Letusan Krakatau
Berbagai catatan dan rekaman ditulis untuk melaporkan peristiwa ini. Winchester menyarikan beberapa catatan yang dianggap memiliki nilai informatif. Ada 3 kapal Eropa yang berada di selat itu ketika peristiwa letusan terjadi. Kapal Loudon dengan Kapten Lindeman; Kapal pengangkut Garam dari Denmark, Marie; Kapal pengangkut barang bernama Charles Bal dengan Kapten W.J. Watson. Catatan Kapten W.J tergolong lengkap. Ia menuliskan:
...kami terlingkupi dalam kegelapan yang mungkin bisa dirasakan, dan kemudian turun hujan lebat campuran lumpur, pasir, dan saya tidak tahu apa lagi...(h.288)
Gambar berikut menunjukkan rute pelayaran yang dilakukan oleh Kapten W.J. Wilson (lihat garis merah)


Pada tahun 2006, BBC membuat dokudrama "Krakatoa: The Last Days", dokudrama tersebut dibuat berdasarkan catatan saksi mata, salah satunya adalah Kapten W.J. Watson. Cuplikan film tersebut dapat dilihat di sini. Letusan Krakatau yang berdampak besar adalah pada bencana setelah gempa yaitu tsunami. Untuk ukuran tahun 1883, dimana penduduk belum begitu banyak, jumlah 36.000 jiwa tewas adalah jumlah yang besar.

Apa saja dampak letusan Krakatau?
  1. Getaran keras yang terdengar pada kecepatan suara kira-kira 1.085 dan 1.168 km/jam, terdengar di 1/3 permukaan bumi. Terdengar di Australia (3.540 km) dan Rodriguez Island  (4,653 km)
  2. Kegelapan di Selat Sunda  
  3. Tsunami setinggi kurang lebih 36 meter membunuh kira-kira  36.000 jiwa.
  4. Hujan batu apung dan hujan abu di sekitar Krakatau yang mematikan vegetasi dan hewan-hewan.
  5. Seorang wanita tersapu arus air tsunami di Panama (3.219 km dari Krakatau)
  6. Gelombang laut menghancurkan sebuah tambang kapal di Port Louis, Mauritus
  7. 9 juta kilometer kubik abu vulkanik menyebar ke seluruh dunia
  8. Fenomena optis yang tidak biasa di atmosfer, langit diwarnai merah, kuning, lembayung oleh partikel abu vulkanik
  9. Debu vulkanik menutupi sinar matahari berakibat menyaring radiasi matahari ke bumi dan menyebabkan pendinginan global. Temperatur bumi normal kembali setelah 5 tahun (1888). 
  10. Berita utama The New York Times: “Terrific detonations were heard yesterday evening from the volcanic island of Krakatoa. They were audible at Soerkrata, on the island of Java. The ashes from the volcano fell as far as Cheribon, and the flashes proceeding from it were visible in Batavia.”

Dampak lain yang patut mendapat perhatian adalah dampak sosial. Bencana kemanusiaan tersebut meninggalkan trauma serta kehilangan harta benda bagi masyarakat. Namun, di daerah Anyer, orang-orang tidak memedulikan bantuan pemerintah kolonial Belanda. Ada semacam spiritualisme saat itu bahwa letusan krakatau adalah perlambang datangnya Ratu Adil. Selama ini, masyarakat khususnya di daerah Banten tidak bersimpati pada pemerintah Belanda. Muncul gerakan antibelanda pada akhir abad 19. Faktor-faktor kemiskinan, tirani kolonial, imperialisme turut memicu gerakan tersebut. Multatuli dengan Max Havelaar-nya sudah 'menyindir' pemimpin Belanda agar awas terhadap isu-isu di atas. Namun, bukannya sadar, para pemimpin tersebut semakin mabuk kekayaan yang diperas dari keringat rakyat Banten. Letusan Krakatau menjadi pemicu perlawanan di Serang, di Cilegon, dan di tempat-tempat lain terhadap kantor-kantor pemerintah kolonial. Dengan menyatakan perang Sahid, pasukan pemberontak maju melawan pasukan bersenjata modern. Winchester mencatat: letusan Krakatau sunguh-sungguh membantu memicu gerakan politis dan religius yang membara dengan singkat dan ganas di Jawa, dan yang meninggalkan tanda yang tak terhapuskan dalam pemerintahan Hindia Timur (h.442).

Percakapan mengenai bencana alam tidak habis-habisnya. Ada yang memang sudah demikian siklusnya, ada yang disebabkan ulah manusia. Krakatau menyisakan banyak cerita bagi generasi sekarang. Will Durant berfilosofi seperti ini: "Peradaban ada karena persetujuan geologis, bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu."  Bagaimana dengan kita? apakah hanya pada kisah Krakatau ini saja?

Buku ini disusun dengan riset panjang. Walau mungkin tidak memenuhi kualifikasi buku akademis, namun Winchester meramu berbagai buku-buku referensi termasuk pengamatan fisik menjadi buku yang komprehensif. Mulai dari sejarah, geologi, ornitologi, klimatologi, telegrafi, politik, sosial, serta fakta-fakta historis disajikan dengan baik. Winchester beruntung memiliki banyak rekan yang memberi banyak masukan dan bantuan dalam penulisan buku ini. Adanya buku ini, turut menambah cara berpikir logis kita untuk menjawab: "Seandainya letusan seabad lalu terulang lagi, kemana dan bagaimana  mengevakuasi penduduk yang padat di kawasan tersebut?"

@hws16062011



9 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-