Wednesday, June 27, 2012

Supernova Episode: Partikel



Supernova Episode: Partikel
Penulis: Dewi Lestari (Dee)
Penyunting: Hermawan Aksan & Dhewiberta
Penata Aksara: Irevitari
Ilustrator: Motulz
Penerbit: PT Bentang Pustaka (2012)
ISBN: 9786028811743

Buku Partikel ini seolah menjadi pemuas dahaga dari penggemar Dewi Lestari. Seperti yang disampaikan oleh Dee pada akhir buku ini, bahwa delapan tahun ide dan penulisan buku ini sudah digodok namun setahun terakhir baru digarap serius oleh Dee. Ketersediaan literatur dan fasilitas teknologi berperan besar dalam proses penulisan yang sarat dengan ilmu pengetahuan.

Buku ini adalah karya Dee yang pertama kali saya baca. Butuh beberapa trik agar saya memahami apa yang ditulis Dee dengan baik. Pada dasarnya, tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh Dee tidak terlalu rumit memahaminya. Narator yang bertindak sebagai pemeran utama adalah Zarah, yang berarti partikel. Ia memiliki adik perempuan yang bernama Hara dari kedua orang tua yang bernama Firas (ayah) dan Aisyah (ibu). Firas berprofesi sebagai dosen yang memfokuskan mengajarkan mikologi di Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Aisyah berperan sebagai ibu rumah tangga. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis, sehingga pada suatu ketika Firas  meninggalkan istri dan kedua anaknya, tanpa ada penjelasan lebih lanjut.


Saya mencoba membedah buku ini berdasarkan beberapa klasifikasi. Berdasarkan klasifikasi waktu dan tempat, maka diperoleh data sebagai berikut:
a. Bogor (1979-1996) : 169 halaman (hlm 9-178);
b. Tanjung Puting (1996-1999) :102 halaman (hlm 178-210); dan
c. London dan Afrika (1999-2001) : 194 halaman (hlm 280-474).
Dari data di atas dapat diketahui bahwa kehidupan di London dan negara sekitar (2 tahun) mengambil porsi terbesar buku ini.

Dari klasifikasi di atas, dapat diketahui juga bahwa masing-masing waktu dan tempat membawa tema-tema tersendiri. Mari kita lihat satu-persatu.
a. Pendidikan dan akhlak, apakah hanya di sekolah formal?
   Apakah guru selalu menggunakan pendekatan kekuasaan untuk mendidik?
   Apakah lingkungan keluarga terlalu mapan dengan konsep-konsep keagamaan selama ini, sehingga tidak perlu melakukan kritisi?
 
b. Dimanakah Eden itu?
   Apa kesamaan orangutan dengan manusia?
  Pelajaran Dasar Fotografi

c. Menjadi wildlife fotografer
   Mengenal meditasi
   mengenal Spirit of Iboga
   Bertemu dengan sponsor kamera
   Menemukan cinta dan pengkhianatan

Dee meramu topik-topik di atas dengan bahasa yang mudah dicerna. Ia memang banyak memasukkan istilah-istilah sains di dalamnya. Dee memang menunjukkan ketertarikannya pada bidang-bidang seperti bahwa fungi atau jamur adalah media komunikasi antara manusia dan alam, evolusi manusia dari kera, fotografi (mungkin ini lebih karena suaminya), antariksa dan unidentified flyng object (UFO), meditasi, reiki, gerakan zaman baru (new age), spirit of Ibuga, batu-batu dari perut bumi yang memiliki khasiat, dan masih banyak lagi. Kelebihannya adalah kita sebagai pembaca banyak dikenalkan dengan suatu fenomena yang mungkin selama ini hanya orang-orang terbatas yang bisa mengaksesnya. Tohpun kalau ada yang menggemarinya jumlahnya relatif tidak banyak.

Beberapa yang saya garis bawahi dari buku Partikel ini, bila memandang cerita ini secara parsial tanpa mempertimbangkan bagaimana Dee akan menggabungkannya dengan Akar, Petir, dan seterusnya adalah sebagai berikut:
Pertama, berkaitan dengan pilihan Firas yang mengajar langsung Zarah di rumah maupun di kebun permakulturnya, terlihat dominasi Firas di sini, yang tidak ada komunikasi baik-baik dengan istrinya mengenai pilihan yang diambil Firas. Memang benar, kelemahan sekolah formal seringkali menciptakan robot-robot penghafal alih-alih mengembangkan apa yang menjadi minat siswa. Selain itu, Firas menunjukkan teladan yang tidak baik dengan membedakan perlakuan terhadap Hara, adik Zarah. Tidak ada penjelasan mengapa Hara tidak diikutkan dalam gaya mendidik Firas.

Kedua, menurut Firas, bahwa manusia adalah spesies yang paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka (h.71). Firas melanjutkan bahwa manusia yang tidak sadar akan melihat Bukit Jambul sebagai tempat untuk menanam sayur, atau seperti Abah dan masyarakat yang melihat Bukit Jambul sebagai sarang setan, dst. Hal ini mungkin perlu diperjelas, bukankah masyarakat kita sering menggunakan takhyul atau mengeramatkan sesuatu tempat seperti hutan dengan alasan bahwa ada penunggunya? bukankah hal-hal seperti itu justru menunjukkan kearifan yang bertujuan untuk menjaga kelestarian sebuah hutan?

Ketiga, kamera jenis apakah yang digunakan Zarah untuk menghasilkan foto-foto bagus itu? pada halaman 239 dijelaskan bahwa zarah menggunakan kamera Nikon FM2/T (T menunjukkan titanium yang menjadi bagian dari bodi kamera ini.. Tipe ini adalah jenis Nikon klasik dari keluarga FM. Kamera ini memang terbilang langka dan mahal pada zamannya, diproduksi pada tahun 1997 dan diskontinu pada tahun 2011 dengan harga $1120. Kamera manual SLR ini dapat bekerja tanpa baterai (kecuali untuk light), dan kemampuannya disetarakan dengan semiproffesional camera, dapat bekerja pada temperatur ekstrim dari mulai suhu minus 40 derajat celcius sampai 50 derajat celcius. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah betapa hebatnya sebuah keberuntungan Zarah yang memenangkan lomba foto di sebuah majalah. Hampir tidak ada dituliskan pengalaman Zarah dalam menggunakan fitur-fitur canggih kamera ini dalam mengambil sebuah foto. Ada sekali, ketika mengambil foto singa, itupun cuma menekan shutter berulang-ulang (h.298).

Psilocybe coprophilia (sumber: https://mycotopia.net/)
Keempat, tentang peristilahan inner space travel. Pak Simon mengatakan bahwa untuk mengarungi antariksa dapat dilakukan melakukan perjalanan ke dalam. Tubuh manusia dapat melakukan perjalanan tersebut dengan media enteogen, berasal dari akar kata: entheost (yang dipenuhi inspirasi) dan genesthai (datang dan tinggal). Jadi dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang memungkinkan/menyebabkan seseorang dipenuhi spirit/semangat/inspirasi. yaitu sebuah istilah yang dipopulerkan oleh sebuah tim etnobotanist, yang berarti seseorang yang dipenuhi hal spiritual (terjemahan bebas). Dari tradisi maupun praktik yang sudah berlangsung, untuk mencapai ke keadaan tersebut, ada zat psikoaktif yang terdapat pada suatu jenis binatang atau jamur (fungi). Daftar apa saja yang merupakan enteogens dapat dilihat di sini. Bagi yang memakan zat tersebut (dalam cerita ini adalah suatu jenis jamur jenis Psilocybe) akan mengalami halusinasi, atau mengalami suatu 'dunia lain'. Dari situ kemudian manusia dapat melakukan perjalanan dengan dunia spirit. Pengalaman ke dunia sana dilakukan Zarah dengan makan Iboga sebuah tanaman enteogen yang berasal dari Afrika. Konsep inner space travel ini secara sederhana dapat dibahasakan yaitu melakukan perjalanan ke dalam diri dengan meditasi, berefleksi, berkontemplasi mencari apa pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dan pemaknaan akan kehidupan. Praktek ini dilakukan oleh para sufi maupun para spiritualis zaman dulu. Sementara mengkonsumsi Iboga adalah sebuah tradisi terapi kuno Bwiti yang dilakukan oleh orang Gabon, Afrika terhadap orang yang mengalami sakit. Iboga masih merupakan daftar makanan yang dibatasi penggunaannya oleh undang-undang di Amerika maupun Eropa, karena dianggap dapat menyebabkan ketergantungan seperti narkoba. Untuk bagian ini, sepertinya kita perlu banyak menggali lebih dalam apakah cara melakukan inner space travel haruskah mengkonsumsi iboga, jamur guru, atau apalah namanya?

Sebenarnya masih ada lagi 'temuan' saya setelah membaca buku ini, namun saya pikir itu tidak material dibanding keuntungan yang saya peroleh. Pertama saya akhirnya mengenal Dee lewat karyanya yang selama ini kerap diceritakan orang. Saya pikir sebenarnya ide ceritanya sebenarnya tidak istimewa, namun  ia berhasil mengenalkan sesuatu yang mungkin selama ini belum terceritakan kepada pembaca awam seperti tentang jejamuran, evolusi, fotografi, sifat orangutan, London dengan cerita circle crop-nya, iboga, meditasi, reiki dan sebagainya. Tak urung hal itu membuat saya harus banyak menelusuri di google, wikipedia, sampai membaca satu dua jurnal tentang iboga. Kedua, membaca Partikel sebenarnya adalah amanah dalam acara diskusi buku bersama Kak Lita (@wahanakecil), dan Mbak Feby (@febyindirani). Suatu acara yang mendadak dan hal itu mengharuskan saya untuk menghabiskan buku ini dalam waktu singkat.  Diskusi dengan beberapa teman sekantor yang sudah membaca buku ini juga turut membantu pemahaman saya tentang apa garis besar buku ini. Seperti yang dituliskan Dee, mungkin saya sedang dipertemukan dengan inspirasi untuk menulis salah satu review ini.

Menurut saya, buku ini sangat bagus untuk dibaca dan didiskusikan, serta mempertanyakan kembali agar kita jangan kehilangan kekritisan..Luar biasa bagi Dee yang membuat saya akhirnya banyak menggali keingintahuan.

 
Helvry Sinaga | 27 Juni 2012

19 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-