Friday, October 5, 2012

Tragedi dan Rekonsiliasi 1965


Kalau ditanya tentang apa dan bagaimana perjuangan para pahlawan, mungkin kita akan dapat menjawab: Cut Nyak Dien menentang penjajah di Aceh, Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda selama lima tahun di Jawa, Pattimura di Ambon dan seterusnya. Tetapi, ketika kita ditanya, siapa itu Tan Malaka? apa ide pemikiran-pemikirannya. Itu juga barangkali masih bisa kita jawab, dikarenakan masih ada orang yang benar-benar berniat menulis tentang beliau seperti peneliti KITLV, Harry Poeze.

Namun, ketika ditanyakan apa itu Partai Komunis Indonesia? apa garis-garis besar pemikirannya? Sebagian besar dari kita kurang mau mengkritisinya namun cenderung menghakimi bahwa itu adalah partai terlarang pada masa orde baru, dan menyebutkannya saja haram, apalagi menjadi anggotanya. Tetapi taukah Anda, bahwa peristiwa terbesar di bumi nusantara ini menghabiskan nyawa penduduk Indonesia bukanlah peristiwa letusan Krakatau 1883 maupun tsunami Aceh 2004?


Sebab
Begitulah, negeri yang dipuja karena keramahannya orang-orangnya ternyata pernah (ataukah masih?) mengalami suatu masalah sosial terbesar, yaitu menghabisi saudara sebangsanya sendiri. Tentu di benak kita masih tidak lupa dengan keadaan DOM di Aceh, konflik bersenjata di Ambon, Palu, Sampit, Banyuwangi. Hal itu sepertinya menandakan bahwa kita sebenarnya memiliki potensi yang mengerikan untuk saling membunuh. Sepertinya hal itulah yang akan menyelesaikan permasalahan. Lalu seharusnya apa yang kita lakukan? Pertama, menyadari bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bisa belajar dari pengalaman. Peristiwa pembunuhan terbesar pada abad 20 adalah pemusnahan etnis Yahudi oleh tentara Nazi, dan pembantaian anggota PKI di Indonesia. Untuk hal pertama sudah cukup banyak karya-karya tercipta baik berupa tulisan, novel, serta film. Untuk hal kedua, ini masih minim. Sangat-sangat minim.

Dua buku yang saya miliki masih belum bercerita banyak tentang apa dan bagaimana cerita pembantaian PKI itu. Kedua buku ini masih berkutat di dua hari yang naas itu, 30 September dan 1 Oktober 1965. Hal-hal yang diduga melatarbelakangi adalah adanya isu Dewan Jenderal di tubuh TNI AD. Sukarno yang mendapat dukungan dari Beijing dan Moskow yang membuat Amerika ketar-ketir akan kekuatan komunis di dunia. Dan hal yang mengejutkan adalah kemunculan Mayor Jenderal Soeharto bak pahlawan.



Dampak yang muncul bukan saja adalah pembunuhan jenderal-jenderal TNI AD pada dini hari 1 Oktober 1965 itu. Tetapi jutaan rakyat Indonesia yang baru saja 20 tahun merdeka (1945-1965). Di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari barat hingga ke timur Indonesia, pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap anggota, simpatisan PKI adalah perbuatan direstui negara tentara. Akibatnya apakah kita tahu? Apakah kita tau berbagai ormas anti-PKI turut menebaskan goloknya kepada sesamanya? Apakah kita menyadari bahwa bibit kekerasan sebenarnya ada dalam karakter bangsa yang kita cintai ini?

Ulasan Majalah Tempo minggu ini (terbit 1 Oktober 2012) mengetengahkan liputan tentang pengakuan algojo-algojo yang membunuh puluhan bahkan ratusan manusia, baik karena perintah tentara maupun nasionalisme semu. Tempo juga mengunjungi beberapa lokasi-lokasi yang dulunya adalah kamp konsentrasi yang didirikan militer terhadap tahanan PKI. Temuan Komnas HAM cukup mengejutkan. Mereka menyimpulkan bahwa ada suatu gerakan dari militer secara sistematis dalam pembantaian ini. Pembunuhan oleh militer langsung maupun sipil yang terlatih. Selanjutnya adalah pemenjaraan yang diikuti penyiksaan dan pemerkosaan terhadap tahanannya. Komnas HAM juga telah merekomendasikan agar kasus ini disidik oleh Kejaksaan Agung. Namun ulasan Tempo ini pun belum memberikan pemahaman yang memuaskan akan apa penyebab utama peristiwa berdarah ini. Dan tidak ada narasumber dari pihak tentara.

Sikap

Sebagai generasi penerus, apakah sikap kita? Apa pelajaran yang dapat kita maknai? Pertama, kita jangan menutup mata dan menulikan telinga dengan peristiwa ini. Bersikap kritis atas kejadian masa lalu tidak harus ditumpahkan dalam bentuk demonstrasi dan berteriak. Kita bisa memulai dengan mengetahui sejarah kelam bangsa kita dari buku-buku maupun artikel. Untuk apa? untuk diceritakan dan didiskusikan. Itu saja cukup, sudah terlalu banyak kita dininabobokan dengan cerita-cerita palsu dan propaganda melalui film yang ditayangkan tiap malam 30 September. Saya sendiri masih mencoba mengumpulkan buku-buku terkait G30S dan turunannya, agar saya juga memperoleh pemahaman.

Bagi yang berminat dengan liputan khusus Tempo di atas, saya siapkan di link berikut, silakan dibaca untuk menambah wawasan. Hal ini semata-mata supaya mata kita terbuka seraya membayangkan betapa mengerikannya malam tiap malam pada saat pembunuhan dilakukan. Supaya apa? supaya kita mengerti betapa berharganya hidup dan seharusnya kita menghargai hidup sesama. Selain itu, di dalamnya juga ada wawancara dengan sutradara film dokumenter The Act of Killing, Joseph Oppenheimer serta Ariel Heryanto, Associate Professor Australian National University.

Selamat membaca.


Jakarta, 5 Oktober 2012
Ps. Ditulis dalam rangka bukan memperingati hari TNI






3 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-