Sunday, August 18, 2013

Hari hari Terakhir Soekarno



Dapatkah kita mengetahui masa depan? Jika menyadari betul bahwa masa depan bersumber dari masa kini, dan masa kini bersumber dari masa lalu, maka masa kini dan masa depan seharusnya bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, sebab bersama waktu, di dalamnya ada usaha dan perjuangan. Hari-hari terakhir dapat bermakna berakhirnya kerja, atau hari menjelang habisnya suatu masa atau periode. Hari-hari terakhir dapat juga dimaknai bahwa yang fana tidak mampu melawan Sang Waktu, pada saat tertentu yang fana harus menyerah bertarung pada Sang Waktu.

Buku ini menceritakan waktu-waktu terakhir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, Panglima tertinggi Tentara Nasional Indonesia, dan sebutan-sebutan lainnya yang menunjukkan Soekarno sebagai orang nomor satu di Republik ini. Banyak catatan-catatan kaki yang membantu pembaca memahami situasi tersebut serta memberikan bacaan lain sebagai referensi.


Judul: Hari-hari Terakhir Sukarno
Penyusun: Peter Kasenda
Penyunting: Agus Saryadi
Desain sampul: Hartanto "Kebo" Utomo
Desain isi: Sarifudin
Cetakan I Komunitas Bambu, 2012

Kenapa Sukarno mempertahankan PKI?
Di bawah Demokrasi Terpemimpin (1959-1965), Soekarno memanfaatkan massa PKI untuk mempopulerkan agendanya sejak tahun 1920-an yaitu Nasakom, Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Nasakom baru berupa ide pada tahun 1926, dan baru terimplementasi pada tahun 1960-an seiring dengan berjalannya Demokrasi Terpimpin. Sebenarnya Komunisme yang dimaksudkan Soekarno bukanlah Komunis seperti di Cina atau Uni Sovyet tetapi Marxisme. Sejak muda, Soekarno banyak sekali membaca karangan-karangan Karl Marx.

Situasi politik pada detik-detik menjelang G30S sebenarnya sudah memanas. Di antara partai politik lainnya, PKI sudah tidak disukai. Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) dalam kongres PKI di Jakarta satu hari sebelum Gerakan 30 September 1965 bahkan menyerukan agar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) agar dibubarkan. Dalam pidatonya, DN Aidit mengatakan bahwa "kalau tidak dapat membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung." Suatu kalimat yang terdengar terlalu berani di depan pemimpin negeri dan terkesan tidak etis secara politis.

PKI tampaknya terlalu percaya diri dengan dukungan Sukarno di kancah politik Indonesia. Di berbagai daerah, isu-isu akan pecahnya peristiwa politik besar mulai terindikasi. Sulastomo dalam bukunya, Hari-hari yang panjang transisi Orde Lama ke Orde Baru: sebuah memoar, mengatakan bahwa di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Utara pecah  aksi-aksi sepihak yang dimotori oleh PKI. Aksi tersebut antara lain perebutan hak atas tanah terutama tanah wakaf yang dimiliki pesantren yang ujungnya muncul konflik dengan kalangan umat Islam. Selain itu, PKI menuduh kontrarevolusi, kapitalis birokrat, setan desa, dan antek nekolim pada lawan-lawan politiknya. Di surat kabar Bintang Timur pada tanggal 21 Maret 1965, seniman Lekra telah mengindikasikan peristiwa besar melalui sajak-sajaknya-meski mendapat sanggahan dari penulisnya bahwa aslinya puisi ini diterbitkan tahun 1964-seperti sajak berikut:

Kunanti Bumi yang Memerah Darah
oleh Mawie

Bulan arit di langit
Napas terkatung di Ciliwung
Anak kecil nangis di pangkuan
Seorang perempuan
Wajahnya hanyut ke laut
Sejak ia datang dari pinggiran kota
Dibawa sungai kehidupan

Malam itu ia petik kecapi
Bersama nyanyi
Ciliwung airnya memerah
Walaupun merah hidup tampaknya
Kunanti bumi memerah darah
Kuserahkan engkau kepadanya

Diciumnya si kecil dalam badungan
Dinantinya si kecil dalam kandungan

Tidurlah anak, jangan menangis
Kecapi dan nyanyi sudah berhenti
Kalau kau lihat malam menipis
Angin dingin datang menari

Bulan arit di langit
Cinta dan kasih
Bergelimpangan di jalanan
Mawar dan wajah
Menanti bumi merah
Ciliwung mengalir
Kesayangan mencair
Derita dan sengsara
Bertengkar sejak lama

Malam ini dia petik kecapi
Bersama nyanyi
Ciliwung airnya memerah
Walaupun merah hidup nampaknya
Kunanti bumi memerah darah
Kuserahkan engkau kepadanya

Terjadinya peristiwa penculikan dan pembunuhan para Jenderal Angkatan Darat pada malam 1 Oktober 1965 tidak henti-hentinya menarik untuk dibahas. Bila ditelusuri lebih jauh, ini merupakan puncak perseteruan antara PKI dan Angkatan Darat. Kedua kelompok besar kekuatan politik ini sebelumnya pernah melakukan pemberontakan. Tahun 1948 di Madiun merupakan pemberontakan oleh PKI dan tahun 1958, merupakan pemberontakan PRRI/Permesta yang dikomando oleh tentara Angkatan Darat. Di tataran elit politik, hanya Sukarno yang bisa mengimbangi perseteruan ini. Namun, masing-masing kelompok sepertinya tinggal menunggu tabuhan genderang untuk melakukan perang secara terbuka. Dan kudeta itupun terjadi di malam 1 Oktober 1965.

Kudeta itu menunjukkan bahwa terjadi kekhawatiran akan keberadaan Dewan Jenderal yang mengancam kabinet revolusi-nya Soekarno. Mungkin Letkol Untung menganggap inisiatif penculikan para Jenderal Angkatan Darat adalah prestasi luar biasa. Namun, justru keadaan itu tidak menguntungkan Soekarno. Ia dituduh berperan dalam usaha penculikan tersebut. Kondisi makin runyam ditambah bahwa Soekarno tidak menganggap penting peristiwa 1 Oktober 1965 itu. Ia mengatakan bahwa hal itu biasa dalam revolusi. Inilah yang membuat citra Sukarno di depan rakyat Indonesia sangat merosot ditambah lagi dengan bibit-bibit kebencian kepada PKI di berbagai daerah. Di minggu-minggu awal Oktober setelah peristiwa penculikan Jenderal itu, Sukarno menyadari bahwa dampak yang terjadi di daerah luar biasa. Gantian TNI yang ingin 'membalas' kekalahan politik akibat peristiwa tersebut dengan 'membasmi' pengikut PKI hingga ke daerah-daerah. Mereka mengeksploitasi kesemaptan yang teredia oleh percobaan kudeta itu untuk melenyapkan kepemimpinan PKI, baik di Jakarta maupun di tingkat-tingkat propinsi dan kabupaten (h.109).

Menurut Malcolm Caldwell dan Ernst Utrecht, Sukarno menolak usulan-usulan untuk melarang PKI dengan jutaan petani di dalamnya karena tidak ada hubungannya dengan peristiwa G30S. Menurut Onghokkam, ketika terjadi kudeta 30 September, Pemimpin Besar Revolusi itu sudah sadar bahwa ia telah tamat riwayat politiknya.

Analisis Kesalahan PKI
Tan Swie Ling dalam bukunya, G30S 1965, Perang Dingin dan Kehancuran Nasionalisme menyatakan kesalahan-kesalahan PKI sebagai penyebab kehancuran revolusi Indonesia adalah pertama, PKI tidak berhasil merumuskan teori revolusi Indonesia dengan baik. PKI cenderung mengibarkan panji-panji kelas buruh alih-alih bangsa Indonesia dalam mendukung revolusi. PKI terkesan bersemangat mencari nama, "inilah jasa kelasku, kelas buruh, pelopor revolusi!". Kedua, terkait dengan penolakan kapitalisme, itu bukanlah semata-mata monopoli pendirian PKI, tetapi sudah tergambar sangat kuat dalam pemikiran-pemikiran pendiri bangsa Indonesia. Hal itu terlihat dalam pidato-pidato dan sidang-sidang BPUPKI pada tahun 1945. Ketiga, PKI tidak mengkritisi teori yang yang diterima dari negara asal komunis itu sendiri, melainkan beranggapan tidak perlu ada penyesuaian apapun dalam penerapannya di Indonesia. Padahal, revolusinya rakyat Tiongkok sudah melalui tahap pengalaman praktik, pimpinan PKI gagal mengerti bahwa keberhasilan revolusi di Tiongkok sepenuhnya sangat tergantung pada apakah kelas buruh telah mempunyai kemampuan untuk berani menanggung risiko akibat mengikuti pimpinan kelas buruh maupun mempunyai kemampuan di atas kelompok-kelompok lain. Keempat, PKI tidak memahami makna ganas,buas, dan kejamnya perjuangan kelas (buruh/petani) tersebut dari pengalaman pemberontakan tani 1926 dan Madiun 1948 yang berakibat massa menjadi korban. Karena itu tidak boleh disikapi secara sembarangan dan gampangan.

Selanjutnya Tan Swie Ling menambahkan bahwa PKI gagal mengetahui secara tepat mengenai seberapa besar kekuatan dirinya sendiri dan seberapa besar kekuatan musuhnya. Musuh revolusi yang dianggap adalah kapitalisme dan imperialisme, namun tidak dapat didefinisikan dengan jelas kongkritnya seperti apa, cara kerjanya seperti apa dan seberapa hebat kekuatannya. Hal inilah yang berakibat tidak tercapainya perjuangan revolusi serta memakan korban hingga jutaan jiwa.

Menunggu waktu
Seluruh media informasi dikuasai tentara. Media yang digunakan sebagai corong informasi hanya "Berita Yudha". Sukarno mengundang wartawan dan perwira militer di istana Bogor yang intinya meminta agar wartawan tak hanya menuliskan keadaan yang sebenarnya dan selalu ingat kepada peranan mereka dalam membangun bangsa. Namun permintaan Sang Orator ulung  itu hanya berdengung di telinga-telinga tuli (h.121). Situasi ekonomi semakin parah dengan inflasi yang tinggi dan Sukarno mengeluarkan Keppres No.27 Desember 1965 dimana diberlakukan pemberlakuan mata uang baru dengan perbandingan nilai Rp1 sama dengan Rp1.000. Gelombang demonstrasi dan unjuk rasa terus-menerus mengerogoti popularitas Sukarno. Puncaknya di 11 Januari 1966, mahasiswa menyerukan Tritura, dimana salah satunya adalah meminta pemerintah membubarkan PKI.

Demonstrasi (yang didukung tentara) mahasiswa semakin meningkat. Meski ada larangan dari Brigjen Amir Machmud, pimpinan AD yang radikal memberi lampu hijau pada mahasiswa untuk berdemonstrasi. Pada 23 Februari 1966, Ketika mahasiswa sedang berdemonstrasi di depan Kedubes Amerika, di Gambir, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menerobos gedung Setneg, memecahkan kaca gedung dan melemparkan mebel ke jalan. Esoknya ketika Sukarno hendak melantik kabinetnya, pawai dari mahasiswa UI mendekat ke istana. Situasi ricuh, mahasiswa berhasil menembus ke istana-atau dibiarkan pasukan AD yang diantara Tjakrabirawa dan mahasiswa-dan sebuah tembakan dari dilepaskan dari  pasukan Tjakrawibawa yang menewaskan Arif Rahman Hakim, mahasiswa kedokteran UI. Sebuah fakta (baru) muncul dari Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa bahwa ARH ditembak oleh pasukan POM DAM V di lapangan banteng (h.133).

Bibit kudeta terhadap Sukarno telah diperlihatkan dari awal oleh Suharto. Sejak peristiwa 1 Oktober 1965, Suharto tidak membolehkan Pangdam Jaya, Mayjen Umar Wirahadikusumah untuk menghadap Sukarno dengan alasan semua instruksi Angkatan Darat harus disampaikan melalui Suharto sebagai Pangkostrad (h.79). Selanjutnya Suharto memerintahkan kepada Kemal Idris yang meneruskan perintah itu kepada Kolonel Sarwo Edhie untuk menurunkan 'pasukan tidak dikenal' ke Istana Merdeka pada Maret 1966 (h.140). Hal itu membuat Sukarno panik dan pergi ke Istana Bogor dengan helikopter. Tiga Jenderal yang menyusul ke Bogor "untuk memberi penjelasan" kepada Sukarno terkait hal tersebut. Namun agenda utamanya adalah menyampaikan pesan dari Suharto kepada Sukarno bahwa apabila diberi kepercayaan, maka ia (Suharto) bisa mengatasi keadaan (h.141).

Entahkah desakan tiga jenderal yang begitu kuat, ataukah karena Sukarno tidak punya teman diskusi yang memadai, atau Sukarno tidak punya (atau tidak diberikan) waktu yang cukup untuk menimbang-nimbang, terbitlah Surat yang ditandatangani Sukarno sendiri. Inti surat itu adalah memerintahkan kepada Suharto untuk mengambil langkah untuk memulihkan stabilitas.  Proses penerbitan surat itu sendiri mempunyai banyak versi, serta tidak adanya pertemuan secara tatap muka antara yang memberi perintah dan yang diberi perintah. Akibat situasi di atas, surat perintah itu dimaknai berbeda oleh penerima perintah. Suharto memaknai stabilitas keamanan dapat dipenuhi dengan memberantas habis PKI hingga ke akar-akarnya, termasuk Sukarno sendiri menjadi 'korban' surat itu. Inilah bibit kudeta yang telah matang berbuah.

Perjalanan terakhir
Inilah pentas bangsa Indonesia yang ditulis kembali untuk mengingat serta memaknai peristiwa kelam Indonesia. Sukarno yang dulu digambarkan gagah, tak takut dengan penjara manapun, akhirnya takluk di rumahnya sendiri. Penjara Sukamiskin, di Flores, Bengkulu telah dilaluinya dengan berhasil, namun ia tidak berhasil menaklukkan kesendirian, kesepian, kesedihan, dan ketidakadilan. Pada dasarnya yang ia butuhkan adalah teman bicara, namun hal itu sangatlah mahal. Dari yang tadi dielu-elukan dan selalu melambaikan tangan ke kumpulan orang, menjadi orang yang rapuh, tergolek lemah, kesepian. Catatan medis menunjukkan bahwa Sukarno bahwa fisiknya tidak stabil. Tensinya tinggi, jalan sempoyongan, gangguan pencernaan, dan berbagai gangguan fisik lainnya.

Dua hari sebelum Sukarno berpulang ke Sang Khalik, sahabat perjuangannya menyapa dalam pedih. Meutia Hatta menuliskan suasana di dalam ruangan itu:

Hatta, kau disini?
....bagaimana keadaanmu, No?
Hatta memegang lembut tangan Sukarno. Sukarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Air matanya juga tumpah. Hatta ikut menangis, Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah.
"No....."
Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang (h.229).

Pada saat bertemu Hatta-lah menurut saya hari terakhir itu. Pada hari itu, ia merasa puas sebagai seorang manusia yang membutuhkan sesamanya yang mengerti. Bagi saya, situasi saat itu memperlihatkan kepasrahan dan kerinduan yang terbalas. Tidak banyak kata-kata, hanya mata dan hati.

Setelah Orde Baru berhasil dengan Sejarah satu sumbernya. Sudah sepatutnya kita memperkaya khasanah wawasan kita dengan mencari dan membaca serta mengkritisi masa lalu sebagai pelajaran yang berharga di masa depan. Kadangkala pertanyaan-pertanyaan misteri mengenai peristiwa lalu tak perlu dijawab, agar kita tetap bergairah mencari tahu dan siapa tahu tertarik menulis ulang sejarah bangsa ini, setelah sedemikian lama pelajaran sejarah (Indonesia) didominasi oleh negara.

Helvry | 15 Agustus 2013


7 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-