Thursday, April 10, 2014

Orang Asing - L'Étranger by Albert Camus



Filsafat dan sastra pada umumnya membicarakan hal yang sama, yaitu manusia. Sastra menceritakannya, filsafat mempertanyakannya. Novel ini merupakan novel pertama Albert Camus. Ia sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan dibanding sebagai seorang filsuf. Saya mengenal tokoh Albert Camus ketika Institute Francais Indonesia (IFI) Bandung bersama Universitas Katolik Indonesia Parahyangan Bandung menyelenggarakan acara 100 tahun pemikiran Albert Camus. Saat itu saya berkesempatan juga mengikuti ceramah dari Gunawan Muhammad tentang pemikiran Albert Camus, dan juga GM menulis dua halaman catatan pinggir yang berjudul "Dari Djemila ke Sela-sela Sejarah" yaitu materi ceramah tersebut di Majalah Tempo.


Orang Asing
Judul asli: L'Étranger
Pengarang: Albert Camus
Penerjemah: Apsanti Djokosusanto
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia (2013)
x + 124 hlm
ISBN: 978-979-461-862-2


Albert Camus lahir di Aljazair. Berasal dari keluarga miskin. Ibunya adalah babu cuci dan ayahnya buruh tani yang tak sempat dikenalnya karena tewas saat ia kecil. Bagi Camus, sulit meyakini bahwa hidup bersifat rasional. Sebuah lanskap, bernama Djemila, menginspirasi Camus membuat puisi:

sumber: http://www.algeriadz.com/sites_under.php?site=12

...di tempat ini, para penakluk telah menandainya dengan peradaban para opsir rendahan.
Mereka rumuskan ide yang menggelikan tentang "keagungan"; mereka ukur keagungan sebuah imperium berdasar luasnya permukaan bumi yang direngkuh.
Yang ajaib adalah bahwa puing-puing peradaban itu justru yang menampik ideal mereka.

Di kota yang tinggal rangka ini, bila kita lihat dari atas ketika malam mendekat dan sayap-sayap putih merpati mengitari sisa gerbang kemenangan, tak ada tanda apa pun yang ditatah di langit, tak ada tanda apapun tentang ambisi dan penaklukan.

Pada akhirnya, dunia mengalahkan sejarah. Batu-batu Djemila berseru ke selangkang gunung, antara langit dan kesunyian: aku kenal puisi itu, cerah, acuh tak acuh, tanda-tanda sebenarnya dari keindahan atau tiadanya harapan...

--
Tokoh Utama Orang Asing yaitu laki-laki bernama Meursault (tanpa nama depan). Ia adalah seorang keturunan Prancis yang tinggal di Aljazair. Pada masa cerita ini, Aljazair masih merupakan daerah koloni Prancis. Meursault mendapat berita bahwa ibunya meninggal dunia. Meursault merencanakan pulang untuk melihat ibunya dan meminta izin kepada majikannya untuk libur dua hari, namun terlihat majikannya tidak menunjukkan rasa senang dan berbela sungkawa-hal ini diketahui kemudian oleh Mersault bahwa majikannya tidak senang Mersault libur hari Kamis dan Jumat, karena dengan demikian Mersault libur empat hari. Namun demikian Meursault tidak menunjukkan kesedihan hingga pemakaman ibunya. Hal ini dinilai oleh orang lain sebagai suatu tindakan yang aneh.  Alur selanjutnya, Meursault berkencan dengan seorang perempuan bernama Marie Cardona. Kencan tersebut hanya berselang sehari setelah pemakaman ibunya. Pada saat kencan, Mersault mengenakan dasi hitam yang dipertanyakan oleh Marie apakah Mersault dalam keadaan berduka, namun Mersault mengatakan bahwa ibunya baru meninggal kemarin dengan ekspresi datar. Mersault menganggap bahwa ibunya meninggal di hari jumat atau hari apapun itu, itu bukanlah "salah"nya, atau keinginannya, tetapi orang-orang sepertinya menganggap dia aneh.

Ia berkenalan dengan Raymond Sintes, yaitu tetangganya seorang pria yang tidak diketahui apa pekerjaannya namun selalu berpakaian rapi. Sikap Mersault baik kepada Marie dan Raymond dianggap tidak biasa. Karena baik Marie maupun Raymond ingin bersahabat dekat dengan Meursault, tapi respons Mersault tidak menunjukkan bahwa ia sangat antusias atau senang, ia menganggap biasa saja.

Pada sore hari Marie datang menemui aku, dan bertanya apakah aku mau menikah dengannya. Aku berkata, bagiku hal itu sama saja, dan bahwa  kami dapat melakukannya jika dia menghendakinya. (h.43)

Demikian juga ketika ia ditawari oleh majikannya untuk menangani cabang usaha baru di Paris, Meursault tidak menanggapinya sebagai suatu kesempatan dan tantangan, tetapi ia biasa saja.

Ia (majikannya) lalu bertanya apakah aku tidak tertarik mengubah hidupku. Aku menjawab bahwa kita tidak akan pernah mengubah hidup kita, bahwa bagaimanapun semua sama nilainya, dan bahwa aku menyukai benar hidupku di sini. Ia tampak tidak senang, ia berkata bahwa aku selalu memberikan jawaban yang menyimpang, bahwa aku tidak mempunyai ambisi, dan semua itu amat mengecewakan dalam dunia usaha. (h.43).


Suatu kali dalam perjalanan antara Mersault, Raymond, dan Marrie ke pantai, mereka bertemu dengan Masson dan istrinya. Perjalanan yang awalnya merupakan acara berlibur menjadi terganggu karena Raymond dicederai oleh orang Arab yang bermusuhan dengan Raymond. Mersault sebenarnya tidak ada urusan dengan orang Arab tersebut. Ia hanya memegang pistol Raymond ketika Raymond berkelahi. Bersama Masson dan Mersault, Raymond kembali ke pesanggrahan Masson untuk beristirahat karena luka sayatan dari pisau orang Arab tersebut. Mersault yang sebenarnya ingin memperoleh ketenangan, kembali ke tempat perkelahian tersebut, karena disana ada mata air. Namun, orang Arab tersebut ada di sana. Situasi hawa panas yang menggigit kulit serta peluh yang sangat deras mengucuri dahi dan pelipis Mersault. Ketika Mersault mendekat, orang Arab tersebut terancam dan mengeluarkan kembali pisaunya. Hanya karena pisau tersebut berkilai dan menyilaukan mata Mersault ditambah hawa panas dan keringat yang bercucur deras mengakibatkan Mersault kehilangan kendali. Pistol yang tadinya dititipkan di sakunya, tak sengaja tertarik pemicunya dan orang Arab tersebut tertembak. Anehnya, Mersault tidak merasa panik. Ia masih menembak tubuh tak bergerak itu empat kali lagi.

Dari serangkaian keanehan Mersault ini, kemudian Albert Camus membawa cerita Mersault ke babak ke dua yaitu pascapembunuhan orang Arab. Mersault ditangkap dan diperiksa berkali-kali. Menurut undang-undang, Mersault didampingi oleh pembela hukum. Namun, alih-alih memberi bantuan hukum, pembela ini malah lebih mendengarkan "gosip" tentang pribadi Mersault yang dianggap "tidak berperasaan" ketika ibunya meninggal. Proses selanjutnya Mersault mengikuti persidangan. Dalam persidangan tersebut, baik pembela, jaksa, saksi, dan hakim, mempersoalkan tindakan Mersault dianggap "tidak biasa" ketika ibunya meninggal. Hal (mirip) demikian terjadi di depan pengadilan. Mersault ditanyakan apakah menyesal dengan perbuatannya atau percaya kepada Tuhan? dengan datar Mersault menjawab tidak. Sikap dan tindakan Mersault sungguh membuat orang lain bingung, namun bagi Mersault sendiri, orang lain tidak mengerti apa yang ia maksudkan. Bagaimana kisah akhirnya? silakan Anda membacanya sampai selesai.

sumber: youtube.com
Pada masa novel ini diterbitkan (1942), baru saja terjadi perang dunia pertama. Saat itu, sedang berkembang pemikiran eksistensialisme di Eropa. Eksistensialisme berpandangan bahwa kehidupan ditentukan manusia itu sendiri, berbeda dengan Plato yang menganut bahwa kehidupan hakiki ada di dunia ide. Camus pada dasarnya bukanlah seorang yang berpaham eksistensialisme, namun absurdisme. Absurd dapat diterjemahkan secara bebas bahwa dalam hidup tidak ada makna, tidak ada yang terlalu baik, tidak ada yang terlalu buruk. Absurdisme itu menganggap hidup itu bukan tanpa tujuan, tapi hari demi hari. Camus muda berangkat dari keluarga yang miskin. Aljazair sebagai negara koloni Prancis tidak memberikan jaminan kesehatan yang memadai bagi ia dan keluarganya. Ketika masih muda, ia terserang Tuberkulosis (TBC) dan saat itu menderita TBC berarti dekat dengan kematian. Ia drop out dari sekolah karena mengidap TBC.  Hidup, bersahabat, menikmati perjalanan, ketakutan, mati memang seperti itu adanya. Situasi yang terjadi pada Mersault sepertinya simpel. Datang ke pantai, berjalan-jalan, lalu karena silau oleh pisau orang Arab serta keringat yang menetesi dahinya membuat dia tak sengaja menarik pistolnya, itu biasa saja. Biasa seperti ia mengatakan iya menikahi Marie. Bahwa ia tidak memiliki alasan mencintai Marrie dan menembak orang Arab itu adalah alasan rasional.

Pada masa penjajahan Prancis atas Aljazair, Orang Arab menjadi warga negara kelas dua. Seperti puisinya di atas, Camus menentang peperangan/penjajahan. Saat itu, orang Arab di Aljazair dianggap seperti orang yang ditaklukkan (Prancis). Camus juga menentang hukuman mati, sebab hukuman mati berarti manusia mencabut kebebasan hidup seseorang.

Inilah absurd. Inilah keterasingan. Lewat Mersault, Camus menyuarakan keterasingannya. Keterasingan hidup akibat pilihan-pilihannya. Tidak hanya manusia yang ikut "mencampuri" hidupnya, tapi juga alam. Lewat matahari yang panas serta cuaca yang terikpun turut "memberi" andil akan nasib hidup Mersault. Di tengah absurditas ini pula, mungkin untuk memahami (atau tidak) tentang pemikiran Camus, apakah saya harus memiliki alasan rasional untuk membaca karyanya yang lain? biasa saja :)
             
referensi:
http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/eksistensialisme-albert-camus-dalam-orang-asing/
http://ismoyojessy.blogspot.com/2013/04/orang-asing-sebuah-kajian-pendek.html
teacherweb.com:The-Stranger-background-notes-final.doc

@helvrySINAGA
Semarang, 10 April 2014



5 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-