Wednesday, January 13, 2016

Saling Silang Indonesia-Eropa by Joss Wibisono




Bila kita melihat manusia terkotak oleh suku bangsa dan bahasa, dapat disimpulkan bahwa sejarah suatu bangsa ditulis oleh pihak yang berkepentingan dalam hal ini tentu saja kepentingan suku bangsa tersebut (terlebih penguasanya). Penulisan sejarah tersebut menjadi warisan generasi selanjutnya. Namun bila melihat manusia sebagai suatu komunitas bumi, maka manusia dipengaruhi oleh manusia lainnya, dari suku bangsa dan bahasa di sekitarnya. Karena itu Sejarah tidak pernah berdiri sendiri. Dan dalam penulisannya, sejarah merupakan bagian kecil dari suatu kehidupan (manusia) yang secara simultan berjalan melintasi urutan waktu. Di dalam kehidupan tersebut banyak hal saling mempengaruhi yang tidak terkotak oleh identitas suku, bangsa, dan bahasa.

Saling Silang Indonesia - Eropa dari diktator, musik, hingga bahasa
Penulis: Joss Wibisono
Penerbit: Marjin Kiri, 2012
xiv + 228 hlm
ISBN: 9789791260169

Pada buku ini, Joss Wibisono, menuliskan empat kelompok perjumpaan kebudayaan Eropa - Indonesia: musik, bahasa, sejarah dan politik. Walau dalam tiga kelompok besar, namun semuanya dilihat dalam bingkai asal muasal, riwayat, perjumpaan tersebut dengan kata lain kembali ke sejarah.



Bagian pertama buku ini dibuka dengan memaparkan pengaruh gamelan dalam musik klasik Kenapa gamelan bisa menerobos panggung musik klasik tentunya kita menelusuri siapa yang memperkenalkan gamelan ke Eropa. Salah satu komponis yang diuraikan dalam bab ini adalah Claude De Bussy, komponis asal Prancis. Ia mengenal gamelan tanpa harus ke Indonesia. Ia terkesan pada nada pentatonis khas gamelan. Saat itu diadakan Pameran Semesta memperingati 100 tahun revolusi Prancis, dimana dipentaskan pagelaran gamelan sunda Sari Oneng dari Desa Parakan, Salak, dekat Sukabumi. Penjelasan selanjutnya tentang gamelan bali yang banyak mempengaruhi karya komponis seperti Francis Poulenc, Colin McPhee. Bicara tentang musik, apalagi musik klasik, saya tidak punya banyak referensi. Saya pernah menonton  konser piano yang dipengaruhi musik gamelan, namun telinga saya kurang peka mendengar sentuhan gamelan di denting piano tersebut :) Hal menarik yang diceritakan bahwa Menara Eiffel yang turut diresmikan pada Festival Semesta di Prancis itu, telah dilihat para penabuh gamelan Sari Oneng.

Pada bagian kedua, Joss membukanya dengan mempertanyakan apa jenis kelamin toean pada lagu "Juwita Malam" karya Ismail Marzuki. Kata toean mengalami perubahan makna dari yang tadinya bermakna "Anda" menjadi "pendampingnya nyonya". Hal itu ternyata merupakan hasil pekerjaan Van Ophusyen, yang bertugas membakukan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi bagi daerah-daerah jajahan Belanda di nusantara. Menurut analisis Joss, bahwa dampak pembakuan itu adalah pengubahan makna toean oleh Ophusyen untuk mencari padanan Meener.

Pada bagian ketiga, dibahas mengenai Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat: Paralel Dua Sepupu. Mereka adalah sepupuan dari Pakualaman, mereka berdua adalah cucu Paku Alam V.. Nasib sebagai priyayi membuat mereka dapat mengakses pendidikan tinggi hingga sampai ke negeri Belanda. Apa yang membuat mereka berbeda adalah terkait pilihan politik mereka yang berbeda. Soewardi berkecimpung di Indische Partij, sementara Noto berkecimpung di de Indische Vereeniging (Perhimpunan India). Noto berpendapat bahwa jika Belanda mengakhiri kolonialisme di Hindia, harus mengusahakan kebersamaan kedudukan antara Pihak Belanda dengan rakyat yang dijajah. Menurutnya, Bangsa Eropa memiliki kecerdasan, sedangkan Hindia memiliki hati. Seharusnya suatu perpaduan yang harmonis. Pada Tahun 1913, bersama-sama dengan Douwes Dekker dan Dr. Tjipto membentuk Indische Partij. Tujuan partai politik itu jelas yaitu mengkritik penguasa kolonial Belanda. Tulisan Soewardi yang terkenal adalah "Als ik een Nederlander wa" (sekiranya saya seorang Belanda). Tulisan yang cukup menarik pada bagian ketiga ini adalah pada "Bisanya Cuma Menyebut 350 Tahun". Adalah sebuah sesat pikir apabila kita tetap menyatakan bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Kenyataannya, setiap daerah di Nusantara, berjuang untuk daerah masing-masing, bukan atas suatu negara bernama Indonesia. Namun sayangnya, dalam tulisan ini tidak dikemukakan, siapa yang pertama kali mencetuskan suatu pemahaman "sesat" bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun?

Pada bagian keempat, tema tulisannya adalah bidang politik dimana Penulis mencoba menggali apakah ada keterkaitan tokoh pemimpin Indonesia B.J Habibie dengan tokoh Jerman, Albert Speer dan Soeharto dengan tokoh Nazi, Adolf Hitler. Barangkali karena ini merupakan suatu analisis politik-yang boleh jadi subyektif- tidak begitu kuat dilandasi dengan fakta-fakta sejarah. Namun satu hal yang menarik saya adalah tulisan mengenai Westerling yang termuat dalam judul "Hiruk Pikuk Masa Lampau Kolonial: dari Hueting sampai Westerling" bahwa kekerasan sudah terjadi dari sejak zaman kolonial Belanda di Indonesia, dan menyisakan persoalan.

Saya salut dengan referensi yang digunakan oleh Penulis dalam penulisan esai ini. Kebanyakan merupakan arsip-arsip yang dikoleksi oleh Universitas Leiden. Ini menunjukkan pelajaran masa lalu masih tetap dipelihara dan menjadi pengetahuan berharga di kemudian hari.

Kesimpulan saya dari membaca buku ini adalah bahwa dalam setiap bangsa sangat dipengaruhi interaksi dengan peristiwa yang terjadi pada saat itu, terutama oleh bangsa lain. Sayang sekali, tentang makanan dan model fashion tidak dibahas dalam buku ini. Padahal, dua komoditi ini menurut saya sangat kental pengaruhnya dari orang Belanda ketika di Indonesia. Barangkali akan kita temukan di edisi berikutnya. 

Bandung, 13 Januari 2016
Helvry Sinaga

5 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-