Thursday, June 2, 2016

Sastra, Perempuan, dan Seks oleh Katrin Bandel


Buku ini merupakan kumpulan esei sastra oleh Katrin Bandel tentang sastra di Indonesia. St. Sunardi menyatakan bahwa buku ini hadir sebagai respon atas ketidakadilan para pengamat dan penikmat sastra di Indonesia atas karya-karya yang ditulis oleh pengarang perempuan. St. Sunardi menambahkan bahwa kekuatan tulisan Katrin adalah bobot kritik yang cukup kuat, bahkan mendekati polemik. Tentu kita sebagai penikmat sastra, perlu belajar kritik sastra untuk berdiri pada argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, agar kita berlatih untuk adil berpendapat.


Judul: Sastra, Perempuan, dan Seks oleh Katrin Bandel
Pengantar: St Sunardi (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Penerbit Jalasutra, 2006
tebal xxii+146 hlm

Politik Sastra
Politik sastra sudah ada sejak zaman dahulu. Adanya komisi untuk Bacaan Sekolah dan Rakyat Pribumi (Commissie voor de Inlandsche Acholl-en Volkslectuur) yang menjadi cikal bakal Balai Pustaka, memilih dan memilah jenis bacaan untuk masyarakat eliti yang jumlahnya terbatas. Pada saat itu sudah bermunculan penerbit swasta milik peranakan Tionghoa, antara 1903-1928 yang telah menerbitkan seratusan novel. Bandingkan dengan Balai Pustaka hanya menerbitkan 20an novel dalam periode yang sama.Sebut saja sastra seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Belenggu, Nyanyi Sunyi. Novel-novel seperti itu dianggap berkelas sastra tinggi untuk dibaca. Direktur Balai Pustaka saat itu, Dr. D.A. Rinkes telah menyadari 'bahaya' bacaaan yang mencerdaskan masyarakat, mengultimatum bahwa bacaan diluar Balai Pustaka adalah bacaan liar. Ini merupakan politik sastra Indonesia dari zaman dulu, dengan pendekatan kekuasaan membatasi masuk dan beredarnya bacaan-bacaan di luar paham/ideologi penguasa.


Pramoedya Ananta Toer telah menggugat kemapanan angkatan-angkatan pujangga seperti Angkatan Pujangga Baru, Angkatan Balai Pustaka. Menurutnya, aliran sastra yang lebih realis adalah aliran sastra seperti yang ia majukan pada saat itu. Namun, kompilasi karya ‘tandingan’ Pramoedya baru muncul setelah ia dibebaskan dari Pulau Buru. Sebut saja karangan Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia serta kumpulan Cerita Dari Digul. Selain itu barubelakangan dikenal Student Hidjo karangan Mas Marco Kartodikromo, dan novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen.

Hal ini senada dengan apa yang ditulis oleh Savitri dalam buku Pramoedya Ananta Toer: Luruh Dalam Ideologi, bahwa ada 'pertentangan' antara kelompok kritikus sastra yang menamakan dirinya Gelanggang serta lembaga kebudayaan bentukan PKI: Lekra. Kelompok Gelanggang umumnya terdiri dari orang-orang berpendidikan tinggi dan pemikirannya berorientasi ke barat, sementara Lekra sebaliknya, terdiri dari orang yang tidak berkecukupan dan tulisan-tulisannya mencerminkan kebudayaan lokal. Dalam buku ini, Katrin membandingkan penceritaan tentang Nyai berdasarkan buku Novel Nyai Dasima karangan G. Francis dan Nyai Ontosoroh berdasarkan Bumi Manusia dan lanjutannya. Peran Nyai dalam kedua novel tersebut sangat berbeda. Bahwa berdasarkan Pramoedya, pengalaman hidup Nyai Ontosoroh yang keras, ia memanfaatkan hal-hal baru untuk mencerdaskan kehidupan dan masa depannya. serta sebagai simbol perlawanan konstruksi sosial masyarakat kolonial. sementara berdasarkan G. Francis, Nyai Dasima memiliki stigma sebagai orang yang terpinggirkan dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat kolonial.

Sastra Koran
Sastra koran merupakan fenomena yang dilihat oleh Katrin sebagai suatu ajang apresiasi seni sastra di koran minggu nasional. Seperti ada kesepakatan bersama, banyak koran nasional yang menyiapkan rubrik sastra pada media koran cetak setiap hari minggu secara serentak. Persoalannya adalah terlihat esei-esei sastra dalam koran minggu tersebut ditujukan pada komunitas sastra, bukan pada pembaca umum. Katrin membandingkan dengan situasi di Jerman. Koran Jerman umumnya tetap menampilkan rubrik sastra, namun dikemas dalam tulisan menarik dan perlu dibaca, sementara bacaan sastra sendiri tetap berlangsung. Persoalan lain yang diutarakan Katrin adalah bahwa redaktur halaman sastra di koran umumnya tidak memiliki kriteria yang jelas dan baku untuk 'meloloskan' karya yang diterbitkan di koran. Tidak ada kemampuan khusus menjadi seorang redaktur untuk menyeleksi banyaknya karya yang masuk untuk diterbitkan di koran.

Bila ditelusuri ke sejarah penerbitan di Indonesia, terbitnya surat kabar pada zaman kolonial merupakan kebutuhan penduduk golongan Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang. Mereka membutuhkan informasi seperti daftar harga komoditas, jadwal kedatangan dan keberangkatan dalam rangka memperlancar usaha mereka. Selanjutnya, perkembangan bahasa Melayu yang cukup signifikan menuntut tersedianya bahan bacaan untuk memperlancar kemahiran berbahasa Melayu. Muncullah surat kabar, majalah yang dikelola oleh golongan peranakan Tionghoa dan mendorong munculnya perkembangan sastra yang didominasi para pengarang Tionghoa, dan salah satu media penulisannya melalui surat kabar.

Situasi tersebut berlangsung hingga saat ini, sepertinya tinggal melanjutkan tradisi. Namun, bila dahulu yang disasar adalah pembaca umum (yang dianggap tidak berkelas tinggi), sekarang pembacanya adalah masyarakat umum. Persoalannya adalah saat ini teknologi digital sepertinya belum menjadi wadah alternatif bagi sastrawan untuk berkreasi lewat tulisannya, koran masih menjadi pilihan favorit. Hal ini sesungguhnya dapat diwadahi dengan membuat suatu portal sastra, dimana tulisan-tulisan dapat diposting dalam website atau forum yang dapat dibaca semua orang dan didiskusikan. Memang, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bila suatu cerpen, puisi, atau esei dapat dimuat di koran. Hal itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa koran lebih 'terkenal' daripada jurnal sastra, dan lagi jalur pembacanya adalah pembaca umum. Namun, keterbatasan halaman koran membuat banyak tulisanyang 'tidak layak terbit' tidak perlu menjadi 'tidak layak baca'. Dengan adanya media teknologi alternatif, semua karya patut diketahui banyak orang, dan didiskusikan. Persoalan ini seperti masih dan terus berlangsung. Saya sendiri mengamati, bahwa tulisan/esei sastra di koran seperti Kompas dan Pikiran Rakyat, tidak dibuat dalam suatu wadah khusus secara bersama-sama, sepertinya benar apa yang dikatakan Katrin, bahwa pembacanya adalah komunitas tertentu saja, bukan pembaca awam-yang patut diedukasi.

Pascakolonialitas
Persoalan pascakolonialitas turut mempengaruhi pengarang Indonesia. Kesimpulan Katrin bahwa pengarang perempuan Indonesia tidak tertarik pada isu pascakolonialitas. Secara sederhana, teori pascakolonial adalah dampak kolonial yang dirasakan masyarakat jajahan. Dengan sastra, struktur kolonialisme  menunjukkan dominasi bangsa penjajah pada bangsa terjajah   melalui pendidikan, imperialisme, rasisme seharusnya dapat dibongkar.


Selain itu, adanya represi sosial yang dialami pengarang perempuan dalam persoalan budaya lokal, seperti dalam judul esei Incest karya Wayan Artika, ia dikeluarkan dari desa adat selama lima tahun, karena dianggap menyinggung desa lokal dimana setting cerita novelnya. Mengkritisi kembali budaya atau adat yang sudah mapan dalam suatu masyarakat adalah bentuk sastrawan dalam mewujudkan idealismenya. Namun, sastrawan entah disadari atau tidak, harus pintar menggiring pesan kepada pembaca dengan cerita yang mulus, seperti Ahmad Tohari.

Terkait dengan perempuan dan seks, esei panjang Religisiutas dalam Novel Tiga Pengarang Perempuan Indonesia, Vagina yang haus sperma: Heteronormatifitas dan Falosentrisme Ayu Utami, dan Nayla: Potret Sang Pengarang Perempuan sebagai Selebriti merupakan 'makanan' bacaan bergizi tinggi untuk melihat sejauh apa tema perempuan dan seks menjadi pilihan oleh pengarang perempuan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah sensasi seputar perempuan dan seks merugikan sastra Indonesia. Kenapa? saya anjurkan untuk membaca lebih lengkap.


Hal lain yang dibahas oleh Katrin adalah kaitan antara literatur dan dunia kesehatan. Hal itu menjadi perhatian Katrin bahwa terdapat perbedaan pandangan antara tradisional dengan modernitas di Eropa dan di Indonesia. Katrin mengulas karya sastra yang mempersoalkan pandangan tradisional dan dunia medis modern terkait dengan kesehatan. Ia membandingkan Novel Lourdes karangan ...dengan beberapa karangan di Indonesia yang menceritakan tentang praktik perdukunan. Novel yang dimaksud antara lain Ni Rawit,Jalan Lain ke Roma. Dilihat dari fenomena adalah karangan lourdes berhasil mengusik gereja (pada saat itu) dan novel :ourdes dinyatkaan ‘menang’ karena lebih mengedepankan fakta dibanding imajinasi. Sedangkan karya sastra Indonesia terkesan tidak mempersoalkan secara mendasar kekurangan praktik perdukunan (atau kesehatan). Catatan menarik dari Katrin adalah bahwa mantra-mantra merupakan karya sastra juga.
Sesungguhnya, semangat apa yang dapat kita ambil? yaitu kekritisan akan bacaan. Katrin menawarkan cara pandang berbeda dalam memaknai suatu karya. Pada dasarny, sastrawan-pembaca-penerbit-redaktur surat kabar- merupakan bagian dari masyarakat yang bergiat. Ditilik dari sejarah masa lalu-hingga sekarang-disadari bahwa gerakan melawan pembodohan sangat diwaspadai pihak penguasa, seharusnya tidak meninabobokan kita dengan bacaan-bacaan yang dilabeli best seller, sastra tinggi, sastra rendahan, buku yang diakui, dan sebagainya. Tugas pembaca adalah memaknai kembali setiap bacaan dengan pengalaman berbeda. Pada dasarnya, tulisan yang baik tak akan lekang dimakan waktu, seiring dengan pengalaman membaca dan mengkritisi, kita akan dapat membedakannya. Dan Katrin menawarkan pengalaman baru yang patut kita ketahui.

1 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-