Monday, June 6, 2016

Sastrawan sosialita: suatu pandangan alternatif


Istilah di atas muncul berdasarkan tulisan Anindita S. Thayf di harian Republika, Mei 2016 lalu. Tulisan tersebut mendapat sambutan hangat baik dari sastrawan, sastrawati, sosialitawan, maupun sosialitwati.Tulisan tersebut menarik direspon karena menulis berbagai fenomena yang ditangkap penulis dengan kacamata 'seharusnya sastrawan seperti...' dan 'kenyataannya sastrawan seperti....'. Dari perjalanan kesusastraan Indonesia, telah terjadi perkembangan perdebatan bahkan berujung polemik.

Sejarahnya, riwayat sastra Indonesia zaman dulu berpusat pada Balai Pustaka. Semua karya sastra yang 'mendapat stempel' Balai Pustaka dianggap berkelas sastra tinggi, elit, terpelajar. Akibatnya, karya sastra di luar Balai Pustaka tak dikenal, bahkan dianggap liar oleh Balai Pustaka.  Nota Rinkes (1910) menyebutkan tiga syarat naskah Balai Pustaka: 1) tidak mengandung unsur antipemerintah kolonial, 2) tidak menyinggung perasaaan dan etika golongan masyarakat tertentu, 3) tidak menyinggung suatu agama tertentu. Dari zaman Balai Pustaka, kita telah 'disetir' bacaannya, agar memiliki keseragaman.

Kemunculan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), pada tahun 1950an membuka polemik sastra baru di Indonesia. Lekra memiliki konsep ideologi bahwa soal pengaruh asing yang dimasukkan ke Indonesia kemudian diindonesiakan. Tokoh utama Lekra yang terkenal adalah Pramoedya, sangat deras mengkritik kubu Jassin. Sebagai contoh, Jassin mengkritik Iwan Simatupang, dengan mengatakan bahwa Iwan Simatupang terlalu asyik dengan Albert Camus, dan menyangka dunia saat ini absurd. Dengan judul yang lebih 'keras', Pram membalas tulisan Jassin tersebut dalam tulisannya Offensif Kesusasteraan 1953, dengan subjudul "H.B. Jassin sudah lama mati sebelum gantung-diri" dengan cuplikan di dalamnya yang menyatakan bahwa Jassin tidak berani mengakui, bahwa ia pernah jadi seniman, jadi pengarang yang telah mati sebelum dilahirkan...Tetapi sungguh aneh mengapa Jassin sendiri mencari duit dengan mengumpulkan dan menerbitkan karangan dari pengarang-pengarang yang mulai tahun 1953 ini dicacimakinya. Syukurnya, apa yang mereka pertentangkan itu dalam bentuk tulisan, sehingga warisan tulisan tersebut masih bisa kita pelajari hingga saat ini. Sayang, bukunya tidak dicetak ulang (sampai sekarang).

Meninjau tulisan Anindita ini masih jauh dari mempersoalkan isi karya. atau berpolemik secara argumentatif. Sebagian besar mempersoalkan gaya hidup dan fenomena penulis Indonesia yang berbeda dengan keidealan seharusnya. Namun, hal ini merupakan bukti adanya denyut kehidupan dalam dunia kesusastraan Indonesia.
 
Menolak mati
Anindita membuka tulisannya dengan membandingkan kutipan dari Roland Barthes bahwa pengarang telah mati setelah karya tercipta, tidak berlaku pada kondisi kesusastraan Indonesia termutakhir. Menurut Anindita, Penulis (Indonesia) menolak mati. Sastrawan (penulis) sekarang tetap hidup menyiarkan karyanya yang telah tercipta sembari membuat dirinya terus-menerus muncul di depan umum. Pernyataan ini seolah menyiratkan bahwa penulis tidak perlu menyiarkan karyanya dan tidak perlu terkenal.  Menurut saya, kunci terakhir penilai ada di sidang pembaca. Pembaca saat inpun tentu terbagi segmennya. Ada juga pembaca yang menilai secara diam-diam dan mendiskusikannya dalam diskusi terbatas, ada juga yang secara terbuka menilainya dan menyebarkannya melalui saluran media sosial.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sastrawan atau penulispun berasal dari masyarkat, hidup bersama masyakat sosial, mengamati kehidupan sosial. Didalam proses kekreatifan penulisan, gagasan atau ide tersebut, tidak dapat terlepas dari kehidupan yang ia amati, dan rasakan. Pada dasarnya ia memiliki otoritas penuh dalam menulis, dan pembaca memiliki otoritas memaknai. Justru dalam kebebasan keberkaryaannya, penulis mempunyai tanggung jawab sosial mengabarkan dan menceritakan, dan pembaca dapat memperoleh pemaknaan (baru) Disitulah suatu karya berinteraksi dengan masyarakat sosialnya, untuk dikritisi dan didiskusikan, untuk mempertajam dan meningkatkan kepekaan (sosial). Apakah pembaca dapat berdiskusi dengan teks-teks yang mati?

Selanjutnya, Anindita, mempersoalkan suatu keadaan yang menurutnya ideal, yaitu seharusnya Sastrawan bersunyi dalam ruang menghasilkan karya (dengan pena), berbeda dengan keadaan yang terjadi saat ini, yaitu sastrawan unjuk diri agar keberadaannya terjaga lewat gawai (dalam tulisan tersebut gadget). Zaman berubah, teknologi berubah, dan manusia berubah. Peristilahan menulis pun berubah. Jika dulu seseorang menulis menggunakan pena, pensil, kapur 'menggambar' huruf-huruf, saat ini menulis menggunakan papan ketik (keyboard) PC atau laptop. Apakah seluruh penulis saat ini tidak ada yang menggunakan PC/laptop dalam menulis? Masih relevankan penyebutan penulis? apakah lebih tepat pengetik? hal ini akibat perubahan zaman, dimana masyarakat termasuk penulis ikut berubah. Sebagai bagian dari masyarakat, penulis tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan teknologi termasuk gawai. Perihal penulis terus unjuk diri adalah perubahan posisi/peran penulis selaku masyarakat. Penggunaan gawai untuk agar terus unjuk diri, sesungguhnya pernyataan berbahaya serta tidak ada korelasi kuat dengan karya yang dihasilkan. Zaman kini dimana sastra tidak melulu dalam tertuang bentuk cetakan pada kertas, perlu saluran alternatif untuk mempromosikan karya, salah satunya lewat perangkat teknologi informasi. Tentunya ajang unjuk diri tersebut punya aturan main, bila menabrak norma sosial, maka sastrawan/penulis tersebut harus siap menerima konsekwensi (sosial)nya.

Event Internasional
Perihal penamaan beberapa event literasi di Indonesia yang menggunakan Bahasa Inggris, saya sependapat dengan Anindita, bahwa alih-alih menggunakan bahasa Inggris untuk mendapat label "internasional", mengapa kita tidak menginternasionalkan (Bahasa) Indonesia? Ada Ubud Writer and Reader Festival, Makassar Internasional Writers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Salihara Literary Biennale, dan Asean Literary Festival. Namun, hal yang jauh lebih substansif adalah hasil dari event tersebut. Sila baca liputan Maman Suherman tentang pustaka bergerak. di Mandar, Sulawesi Barat.Ada gerakan gerakan #ArmadaPustaka yang dikelola Muhammad Ridwan Alimuddin (yang bukan sastrawan) bersemangat untuk menghadirkan buku di lingkungan mereka yang menggunakan moda perahu, becak, motor, dan bendi. Pun ketika terjadi perahu pustaka terbalik di lautan Maret 2016 lalu, masyarakat langsung membantu mengeringkan buku-buku dengan menggunakan kipas angin atau dengan menyetrikanya, serta menyatakan bahwa buku yang mereka yang selamatkan adalah bentuk menjaga amanah.

“Buku-buku ini isinya ilmu sekaligus amanah, titipan orang kota yang mau melihat anak-anak pantai di pulau terpencil juga bisa sepintar anak-anak kota. Karena amanah, dia harus sampai pada tujuannya.”

Selain itu, dalam ajang Makassar Internasional Writers Festival, berkumpul ratusan komunitas pegiat literasi di wilayah Sulawesi Selatan untuk berbagi ide dan inspirasi menggerakkan literasi di lingkungannya. Visi besar untuk membebaskan anak-anak Indonesia dari rabun literasi adalah cita-cita yang mulia dan patut didukung. Kita dapat melihat bahwa negara pun gagal melindungi warganegaranya dari kebodohan dengan penyediaan fasilitas literasi publik yang terjangkau masyarakat pedalaman.

Apakah ini hanya event buat sastrawan? saya rasa (seharusnya) tidak. Bahwa terjadi perjumpaan antara penulis dan pembaca, itu betul. Namun, kehadiran penulis bukan saja bicara tentang karya yang sudah dan akan tecipta, namun seharusnya bicara tentang isu-isu yang lebih substantif. Akses terhadap buku, buku yang terjangkau harganya, penciptaan karya sastra yang berbobot untuk anak-anak, adalah isu besar, dan butuh perjuangan banyak pihak untuk mewujudkannya.

sumber: http://societyandstyle.com/


Sastrawan sosialita
menurut wikipedia, asal kata sosialita, berasal dari kata "sosial" dan "elit" dimana secara bahasa atau makna aslinya, para kaum "sosialita" adalah sebagai orang-orang yang memiliki derajat tinggi atau terpandang, dan mereka memiliki jiwa sosial terhadap orang-orang yang kurang mampu. Kemudian makna kata sosialita di Indonesia terjadi pergeseran makna yang sangat berbeda dengan makna aslinya.
Hal ini menjadi tugas siapa untuk mengembalikan makna sosialita ke makna asalnya, dimana bila dikaitkan dengan kata sastrawan di depannya dapat bermakna sastrawan yang memiliki derajat tinggi dan terpandang dan memiliki jiwa sosial terhadap orang yang kurang mampu.? Sastrawan (yang sudah terkenal) dapat menjadi agen perubahan, memiliki saluran luas untuk membantu anak-anak yang tak terakses bahan bacaan yang berlimpah, menceritakan realita sosial lewat karyanya?

Untuk menjawab pertanyaan mendasar: kepada siapakah sastra dipersembahkan?

Mengingat Bung Karno, 6 Juni 1901 - 6 Juni 2016

Helvry Sinaga

0 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-