Monday, February 20, 2012

Plato Ngafe Bareng Singa Laut: Berfilsafat dengan Anekdot


Judul: Plato Ngafe Bareng Singa Laut: Berfilsafat dengan Anekdot
Judul asli: Plato and Platypus Walk into a Bar
Penulis: Daniel M. Klein dan Thomas Cathcart
Penerjemah: P. Hardono Hadi
Editor: Eresto & Dwiko
Desain Sampul: Bimalizer
Desain Isi: Damar & Marini
Penerbit: Kanisius (2011)
Tebal: x + 211 hlm
ISBN139789792127126

Mendengar atau membaca istilah filsafat biasanya membuat orang berpikiran bahwa filsafat adalah sesuatu yang dihubungkan dengan berpikir rumit. Padahal, berfilsafat adalah proses berpikir menemukan makna. Mungkin juga kesan yang ditimbulkan oleh buku-buku filsafat yang jauh dari kesan menarik dan ditujukan pada orang serius juga.

Lalu dimana kedudukan filsafat dalam dalam sejarah manusia? Sejak ribuan tahun lalu, banyak di benak orang-orang telah banyak muncul pertanyaan-pertanyaan yang ingin mengetahui bagaimana alam semesta dan isinya tercipta. Ilmu pengetahuan terus berkembang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kuno tersebut dan pencarian tersebut terus berlangsung sampai sekarang.


Klein dan Cathcart hanya menampilkan bagaimana penyampaian filsafat melalui lelucon/anekdot. Sebab, mereka sendiri menyadari salah satu penyebab filsafat tidak disukai banyak orang dikarenakan para filsuf tersebut tidak berusaha menyampaikan ide-ide atau pemikirannya dengan bahasa yang sederhana bagi orang awam. Dus, para pemikir itupun tidak mementingkan bagaimana agar para awam juga ikut mengkritisi pemikiran.

Bila memerhatikan anekdot yang ditampilkan pada buku ini, jelas kita harus punya wawasan dasar tentang apa saja inti pemikiran/pokok ajaran seorang filsuf. Namun, seandainya kita tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang hal itu, Klein dan Cathcart smenulis sedikit ringkasan konteks pemikiran tersebut termasuk bila ada perdebatan-perdebatan yang terjadi sekaligus "olok-olok" yang mungkin kita sebagai pembaca seperti melihat adegan film pendek. Satu kutipan anekdot yang menerangkan tentang Etika Situasi, muncul pada tahun 1960an, dimana pendukungnya menyatakan agar melakukan hal etis dilakukan dalam kondisi tergantung pada kombinasi khas dari faktor-faktor dalam kondisi tersebut. Penentang etika situasi disajikan sebagai berikut.

Para perampok bersenjata menerobos masuk ke sebuah bank, membariskan para nasabah dan staf ke tembok, dan mulai mengambil dompet, jam, dan perhiasan mereka. Dua di antara para akuntan bank berada diantara mereka yang akan dirampok. Tiba-tiba akuntan pertama memasukkan sesuatu ke tangan akuntan lainnya. Akuntan kedua berbisik, "Apa ini?" Akuntan pertama berbisik kembali, "Ini lima puluh dollar yang saya pinjam darimu."
Walaupun tipis, buku ini membuka jalan bagi orang yang ingin mengenal filsafat. Anekdot yang ditulis barangkali sudah pernah kita dengar atau baca sebelumnya, namun ternyata ada konteksi filsafati di dalamnya. Selain itu, penempatan kartun-kartun yang menggambarkan beberapa teori, membuat buku ini asyik dibaca. Tentunya untuk mendalami bidang filsafat lebih lanjut sangat tidak cukup membaca buku-buku seperti ini. Tersedia banyak pilihan bacaan untuk mendalami filsafat lebih lanjut, namun paling tidak cara-cara baru menyampaikan filsafat ke orang awam seperti novel-novelnya Jostein Gardeer dan kedua penulis lulusan Harvard ini, membuat filsafat tidak lagi berada dalam prasangka rumit.

Helvry | 20 Februari 2012

4 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-