Saturday, March 31, 2012

Rumah Coklat


Judul: Rumah Coklat
Pengarang: Sitta Karina
Editor: Siti Nur Andini
Ilustrator: Irene Dewanto
Penata Letak: Wahid Hisbullah
Cetakan: I (Desember 2011)
Tebal: 226 hlm
Penerbit: Buah Hati
ISBN: 9786028663748

Inilah buku bergenre "Momlit" yang saya baca pertama kali. Sebelumnya saya memang sudah pernah mendengar genre momlit ini, dan saya penasaran dengan apa isinya. Ternyata..yah begitulah..untuk buku ini bercerita tentang kegundahan seorang ibu yang juga seorang pekerja dengan mimpi besar melihat perkembangan putra dan kehidupan rumah tangganya.

Membaca buku ini, saya disegarkan dengan betapa beratnya hidup sebagai seorang wanita pekerja yang sekaligus ibu seorang bayi. Tokoh sentral pada kisah ini adalah Hannah, bersama suaminya Wigra, dan putra semata wayang mereka, Razsya. Mereka bertiga tinggal bersama dengan ibu Hannah, Yani yang sudah menjanda. Bersama mereka juga tinggal seorang pengasuh Razsya yang baru berusia 16 tahun bernama Upik. Sekilas diceritakan oleh Hannah bahwa ia menyenangi Upik karena telaten mengurus Razsya dan karena alasan bahwa Upik satu kampung dengan eyang buyut Hannah di Jawa Tengah.

Selain bekerja di Bliss and Hunter, Hannah memiliki bakat seni sebagai seorang pelukis. Seringkali karena kesibukannya di kantor dan di rumah ia merelakan waktu untuk hobinya ini tersita. Kekhawatiran utama pada putranya muncul ketika ia merasa bahwa waktu Razsya lebih didominasi oleh ibunya dan pengasuhnya, Upik. Ia melihat sinyal bahwa putranya tidak terdidik sesuai dengan keinginannya. Ia sendiri mendapat benturan dimana karirnya di tempat bekerja sedang terbentang lebar. Sebagai 'pelariannya' ia sering berkumpul bersama teman-teman se-gank-nya dulu seperti Smith. Godaan untuk bersenang-senang seperti clubbing begitu kuat, namun Hannah hanya mengembalikan pertemanan sebagai media nomor sekian untuk melampiaskan kepenatan setelah suaminya, Wigra, tentu saja.

Konflik-konflik kecil muncul. Terutama berkaitan dengan 'kecemburuan' Hannah akan dominasi kehadiran Upik dan Eyang Yani pada putranya. Ia merasa gagal sebagai ibunya Razsya, namun ia tidak menampik keadaan tersebut. Seringkali ia merasa penting untuk 'lari' sejenak dari rutinitas sebagai ibu dan berkumpul dengan teman-temannya di suatu tempat. Suatu keputusan besar akhirnya dibuat, bahwa Hannah meninggalkan pekerjaan utamanya yang berprospek cerah, dan memutuskan sebagai ibu full timer. Dan demikianlah, ia merasa sendiri bagaimana perubahan yang signifikan pada hidupnya. Dari yang tadinya hidup dari meeting ke meeting, menjadi teman bermain bagi putranya, termasuk sesekali bertengkar dengan ibunya.

Membaca buku ini diperlihatkan realita kesibukan dan kegundahan sebuah keluarga. Ibu yang bekerja menjadi sebuah keharusan karena harus berbagi tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga. Hal yang paling umum (seperti dalam buku ini) adalah mencapai ketersediaan rumah dan mobil. Selain itu, masalah krusial yang sering menjadi isu nasional keluarga yang hidup di seputaran ibukota adalah masalah pembantu atau pengasuh bayi. Betapa berharganya profesi ini di tengah-tengah keluarga mereka. Seringkali saya mendengar keluhan dari teman-teman betapa pusing dan susahnya mereka manakala pembantu minta pulang kampung atau minta undur dari penugasan mereka. Maka bisa ditebak jika pembantu tidak ada, akan ada cuti seminggu untuk membenahi pekerjaan rumah tangga, atau menempuh 'mengimpor' ibu dari kampung, seperti tetangga kubikel saya yang harus mendatangkan ibunya dari Bali untuk merawat sang cucu dari mulai pagi sampai malam. Ada lagi seorang ibu yang bercerita bahwa bagi dia, jika ia meninggalkan pekerjaannya demi keluarga, maka sebuah konsekwensi menyedihkan bisa jadi akan menimpanya, dimana status sosialnya di hadapan suami dan mertuanya menjadi turun (atau tidak diperhitungkan?) Belum lagi jika salah satu pasangan harus berpisah dikarenakan mutasi atau pindah tugas, maka bisa dipastikan waktu berkumpul keluarga akan semakin berkurang.

Fenomena yang saya amati di atas mungkin tidak sesederhana menuliskannya. Saya yakin ada banyak konflik juga yang menyertainya. Ada juga seorang teman kantor yang saya datang ke rumahnya, saya menyaksikan sendiri betapa memprihatinkan kondisi rumah kontrakannya, dan ia bercerita pada saya kalau untuk membiayai kontrakan tersebut, maka ia harus mengajukan pinjaman ke bank setiap tahun. Semoga keadaan sekarang lebih baik, namun itulah yang saya saksikan kurang lebih enam tahun lalu.

Kebahagiaan bukan ditentukan oleh kekayaan dan harta yang melimpah. Kita memang membutuhkan uang sebagai salah satu alat memperoleh kebahagiaan, namun bukan semata-mata uang menjadi tujuan utama. Bagaimanapun kebahagiaan tetaplah sebuah perjuangan setiap hari. Bagaimana memberi makna keberbahagiaan  pada hidup setiap hari adalah sebuah permenungan tersendiri. Bagaimanapun juga dalam hidup kita ada sebuah usaha mewujudkan kebahagiaan sebagai suatu bagian yang membuat hidup terus bersemangat. Begitu pula seorang ibu, ayah, karyawan, karyawati, pengusaha, profesi apapun berusaha menciptakan kebahagiaan di tengah hidup yang mendesak ini.

Untuk Rumah Coklat  baik dibaca oleh para ibu yang barangkali mirip dengan pengalaman Hannah, itu akan baik menjadi referensi dalam berkehidupan rumah tangga. Dialog-dialognya cukup sederhana, meski diselingi dengan berbagai istilah yang barangkali cocok dengan orang-orang yang suka ke cafe, nonton film bioskop, clubbing, menggemari majalah mode, intinya anak gaul ibukota dan Sitta Karina cukup apik menyajikan permasalahan tersebut dalam buku ini.

Helvry | 31 Maret 2012

19 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-