Tuesday, July 31, 2012

The Pianist


Dilihat dari riwayat penulis, buku ini lebih tepat dikategorikan sebagai autobiografi, bukan fiksi sejarah. Namun, bagi kita yang hidup zaman sekarang setelah lebih 60 tahun berlalu sewaktu kisah dalam buku ini diceritakan. Berjudul The Pianist bukan berarti pembaca akan menemukan istilah-istilah musik ataupun alat musik piano. Tetapi bagaimana keras dan sedihnya kehidupan manusia karena kebencian manusia yang lain. Dan sepertinya hal tersebut terus-menerus terjadi dalam kehidupan manusia hingga saat ini maupun pada masa yang akan datang.

Kisah ini diceritakan penulis sendiri, yaitu Wladysta Szpilman, seorang rakyat Polandia yang memiliki profesi sebagai Pianis di kota Warsawa, Polandia. Ia adalah siswa Akademi Chopin. Chopin sendiri terkenal sebagai pianis yang memiliki aliran romantik.


The Pianist
Judul Asli: Das wunderbare Überleben (The Miraculous Survival)
Penulis: Wladystaw Szpilman
Penerjemah: Agung Prihantoro
Perancang Sampul: Andreas Kusumahadi
Pemeriksa Aksara: Mita Sari Apituley
Penata Aksara: Dimas Aryo Wijanarko
Penerbit: C PUBLISHING (Maret 2005)
ISBN: 979-3062-46-0

Ada dua karya Chopin yang dimainkan oleh Szpilman yaitu Nocturne in C sharp minor dan Ballade No.1 Op.23. Lagu pertama, dimainkan oleh Szpilman ketika siaran radio Polandia yang menyiarkan secara langsung permainan piano Szpilman dari stasiun Radio Polandia, dan lagu ini adalah lagu terakhir dari empat lagu yang sudah disiarkan, dan ketika siaran ini berlangsung datanglah serangan Jerman ke Polandia pada 23 September 1939. Sementara Ballade No.1 Op.23 adalah lagu yang diminta oleh opsir Jerman kepada Szpilman ketika menemukan Szpilman dalam pelarian.

Sebagai generasi yang terlahir setelah terjadinya perang dunia, saya bersyukur dapat hidup di alam yang merdeka. Kemenangan partai Nazi pimpinan Adolf Hitler di Jerman, membawa pengaruh besar di berbagai belahan dunia termasuk di Polandia. Apa yang dilakukan oleh Nazi pada saat itu terhadap etnis Yahudi bisa dikatakan melebihi sadis. Szpilman secara detil menuliskan pengamatan pribadinya itu dalam buku ini.

Hal yang paling menyedihkan menurut saya adalah ketika ia berpisah dengan keluarganya. Desas-desus yang beredar sebelumnya adalah bahwa mereka akan dipindahkan ke suatu tempat untuk bekerja. Szpilman sampai mengurus surat keterangan kerja bagi seluruh keluarganya, sebab jika tidak ada surat tersebut, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan hidup. Namun, ketika iring-iringan orang-orang yang akan dibawa dengan kereta akan berangkat, Szpilman diselamatkan oleh salah satu tentara yang mengenalnya. Szpilman selamat, dan tidak mendengar lagi kisah rombongan pekerja asal Polandia tersebut kemudian.

Dari buku ini dapat dibayangkan betapa sulitnya hidup sebagai Yahudi di kota Warsawa, mereka diisolasi dalam tembok yang sengaja dibangun untuk membatasi ruang gerak hidup mereka di Warsawa. Kompleks khusus tersebut diberi istilah ghetto.Istilah Ghetto adalah pemisahan komplek tempat tinggal suatu etnis tertentu agar tidak bercampur dengan etnis lainnya. Terlepas apakah hal tersebut disengaja oleh pihak penguasa, apakah mungkin di Indonesia hal tersebut mirip dengan Kampung Ambon dan Kampung Makassar di Jakarta atau Kampung Keling di Medan? saya tidak tahu, tapi saya rasa tidak.

Membaca buku ini akan bingung bagaimana membayangkan sebuah ghetto yang dihuni ribuan manusia, orang tua yang berkursi roda dijatuhkan, ibu yang sedang menangisi bayi, rebutan makanan antara seorang ibu tua dan pengemis, penyelundupan senjata melalui karung-karung kentang, bersembunyi dan bersembunyi untuk bertahan tetap hidup di tengah serangan musim dingin. Saya terbantu dengan menonton filmnya, The Pianist (2002). Adrien Brody begitu baik menggambarkan karakter Szpilman. Dan film ini pun memperoleh nominasi dalam Academy Award: Best Director (Polanski), Best Adapted Screenplay (Ronald Harwood) dan Best Actor (Brody).

Sebuah bantuan seorang tentara Jerman yang menolongnya itu menjadi kisah  yang menyelamatkan hidup Szpilman. Namun sedihnya, Szpilman tidak mengetahui nama sang tentara tersebut, hingga perang dunia usai. Kemudian diketahuilah nama tentara tersebut adalah Wilm Hosenfeld, yang meninggal tahun 1952. Szpilman sendiri meninggal di tahun 2000. Dan terbitnya buku ini adalah atas prakarsa putranya.

Pengalaman saya membaca buku serta menonton film ini adalah senantiasa berusaha dan berjuang atas hidup yang tidak adil ini. Ada berbagai persimpangan jalan yang kita tidak tahu kemana ujungnya, sebuah keajaiban kecil akibat usaha kita tersebut boleh jadi akan menjadi penentu hidup kita seterusnya.
Sebuah karya yang sangat layak dibaca dan ditonton.

 
helvry sinaga | 31 Juli 2012

21 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-