Wednesday, June 22, 2011

Nyai Dasima


Judul: Nyai Dasima
Penulis: S.M. Ardan dan G. Francis
Tebal: 138 hlm
Penerbit: Masup Jakarta 2007 (pertama kali 1965)
ISBN13: 9789791570619

Batavia pada awal abad 19. Belanda dikuasai Prancis pada 1806, Napoleon Bonaparte  menunjuk Herman Daendels untuk mereformasi Batavia pada 1808. Daendels mengubah perilaku orang Eropa dahulu (Belanda) yang melarang orang Eropa memperkerjakan orang-orang pribumi tanpa dibayar. Selanjutnya yang paling mengerikan adalah kerja paksa membangun jalan Anyer-Panarukan untuk mengantisipasi kekuatan laut Inggris yang hebat.Selanjutnya, Daendels digantikan oleh Sir Thomas Stanford Raffles pada 1811. Raffles membawa perubahan dalam kehidupan sosial Batavia. Orang Inggris mencatat pengamatan mereka dengan orang Batavia (pribumi) sebagai berikut:

Banyak orang Inggris yang melihat warisan rasial yang bercampur aduk dari para isteri teman-teman Belanda mereka. Kurangnya pendidikan berakibat tidak adanya bahasa penghubung yang dapat digunakan untuk berkomunikasi (Jean Gelman Taylor, Kehidupan Sosial di Batavia, Masup Jakarta, 2009)


Surat Lord Minto kepada istrinya perihal pengamatannya terhadap perempuan Eropa (Belanda) di Batavia juga menggambarkan bahwa mereka terlihat tidak menyenangkan.
Akibat yang ditimbulkan adalah banyak laki-laki yang hidup dengan perempuan pribumi dan memiliki anak gadis yang memiliki kebudayaan campuran yang akan menjadi isteri dan perempuan yang memiliki derajat dan martabat tinggi di Jawa...Mereka diasuh sejak kecil oleh budak-budak yang mengajarkan mereka ketidakberdayaan dan kemalasan, dengan begitu banyak pelayanan dan perintah. Kamu bisa memahami, seperti apa kelakuan mereka nanti...

Cerita 'duo' novel ini berlatar di tahun 1820. Di sebuah kawasan yang sekarang hiruk pikik dengan suara kendaraan bermotor. Kwitang-Pejambon-Kebon Sirih. Sejak Daendels memindahkan pusat kegiatan pemerintahan dari kawasan Sunda Kelapa ke kawasan Lapangan Banteng, kawasan sekitarnya juga ikut berkembang. Kwitang hingga ke Menteng sekarang ini menjadi tempat pemukiman.

Hidup sebagai gundik atau bahasa betawinya 'bini piare' pada saat itu mempunyai dampak. Dampak yang menyenangkan tentu saja bebas dari kemiskinan, semua pekerjaan rumah tangga ditangani oleh budak-budak, dan hidup berkelimpahan. Dampak negatif adalah kehilangan kontak dengan teman sebangsa, kehilangan hak mengasuh anak, kehilangan peran sosial dalam kehidupan bangsawan. Intinya kehilangan kemerdekaan atas diri.


Nyai Dasima dalam cerita SM Ardan ini tidak digambarkan secerdas Nyai Ontosoroh. Ny Dasima bersuamikan Tuan William dan memiliki seorang putri yang bernama Nancy. Selama 7 tahun Nyai Dasima tidak pernah pulang ke kampung halamannya di Bogor. Selama itu pula ia tidak pernah bergaul dengan teman sebangsa, dan ia tidak pernah dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan keluarga Eropa di Batavia.

Cerita Nyai Dasima pada kedua versi ini memiliki kesamaan yaitu hidup Nyai Dasima akhirnya harus berakhir di tangan Bang Puase, orang suruhan Samiun. Samiun adalah seorang Kusir yang tinggal bersama isteri dan ibunya di kawasan Kwitang. Ia depresi lantaran istrinya sepertinya tidak mencintainya dan selalu bersenang-senang. Samiun menaruh hati pada Nyai Dasima, yang adalah "bini piare" Tuan William di daerah Pejambon. Ia berusaha dengan keras agar dapat memperistri Nyai.

Ketika Samiun ingin memperistri Nyai Dasima terjadi benturan nilai etika. Hal inilah yang menjadi perbedaan sudut pandang SM Ardan dan G. Francis. Ardan menggunakan pendekatan budaya dan nilai agama Islam, sementara G. Francis menggunakan pendekatan feodal yang menganggap orang Timur menggunakan ilmu mistik dan sebagainya. Selain itu, ketika Nyai Dasima sudah menjadi isteri kedua Samiun, SM Ardan menampilkan sosok Nyai yang rela melayani Samiun, mertuanya, dan madunya. Sementara dari sisi G. Francis, Nyai Dasima ditampilkan sebagai korban kesewenang-wenangan Samiun, madunya, dan mertuanya.

Kedua versi cerita ini diduga adalah kisah nyata. Cerita ini sudah difilmkan pada tahun 1929. Cerita ini membuat citra orang Betawi menjadi tidak baik. Orang Betawi digambarkan enggan bekerja keras, tukang palak, dan menyia-nyiakan perempuan. Membaca cerita versi SM Ardan, terbayang tetangga saya dulu, namanya Mpok Mumun. Dan memang tetangga dekat rumah kami adalah mayoritas betawi. Kawinan dengan menggunakan petasan, pelaminan mempelai dibuat di teras rumah alih-alih di gedung pertemuan. Makanan buat tamu pakai gerobak dorong. Lalu pasang musik setara 10.000 TOA! Hal ini yang mungkin menjadi kenangan saya pernah tinggal dengan komunitas Betawi, saya salut dengan Mpok Mumun, anaknya sekolah semua, padahal ia hanya berjualan kecil-kecilan di rumahnya. Miris melihat Orang Betawi yang semakin terpinggirkan di Jakarta ini. Perhatikan saja Kwitang-Pejambon-Kebon Sirih, sisa-sisa kampung mereka sekarang sudah menjadi gedung perkantoran dan gedung pertokoan.

Mungkin bagi para penggemar cerita dongeng, cerita ini dianggap biasa. Namun saya melihat sebuah kejujuran ditampilkan. Inilah Nyai. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya ia menceritakan dirinya pada generasi penerus. Ia pernah tinggal dalam dua dunia. Dunia intelektual dan dunia tradisional. Suatu cerita yang semoga tidak terlupakan dalam kisah sosial historis Indonesia.

#Dirgahayu Jakarta 484#

@hws22062011

9 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-