Wednesday, May 25, 2011

Pejabat Pernikahan (The Wedding Officer)


Pejabat Pernikahan (The Wedding Officer)
Pengarang : Anthony Capella,
Ilustrator: Satya Utama Jadi
Penerjemah: Gita Yuliani
Tebal : 568 pages
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2008)

Sembari membaca novel ini (sekitar Juni 2009), saya berkenalan dengan seorang tentara yang sudah berdinas lama di kesatuan TNI. Niatnya yang memang benar-benar kepingin masuk tentara, dibuktikannya dengan mengikuti seleksi masuk menjadi tentara sampai enam kali! Baginya, menjadi tentara adalah keinginan terbesarnya dari kecil. Ia sangat mensyukurinya, dari tamtama hingga perwira, ia sangat menikmati profesi sebagai tentara.

Ketika profesi menjadi sesuatu yang menyenangkan, tentu tidak sulit menjalaninya. Hari-hari terasa lebih memenuhi hobi dibandingkan memenuhi panggilan tugas. Kapten James Gould, seorang perwira Inggris, ditugasi sebagai Pejabat Pernikahan di Naples, Itali. Ia menggantikan Jackson, pejabat sebelumnya, yang dipindahkan ke tempat lain. sebenarnya, kemampuan akan bahasalah yang membuat ia diterima di Field Security Service, yaitu korps intelijen pasukan sekutu yang sedang bertugas di Italia. Kemudian ia mendalami bahasa Italia, dan akhirnya ia ditempatkan disana. Sebagai perwira intelijen, ia membuat laporan-laporan atas informasi yang diterimanya. Atasannya, Mayor Heathcote sangat mengandalkannya. Karena kemampuan bahasa Italianya sangat bagus dibanding lainnya, ia ditugasi sebagai pejabat pernikahan (Wedding Officer).



Tugasnya sebagai pejabat pernikahan di Napoli adalah memastikan perempuan yang akan menikah dengan tentara Inggris adalah bukan perempuan Italia. Dalam kesulitan, kebanyakan wanita di Napoli hanya bisa menemukan satu cara untuk membuat hidup: dengan menjual tubuh mereka. Perintah komandannya jelas: Tidak boleh tentara menikahi pelacur! Tidak boleh berarti tidak ada kompromi. Hitam atau putih, ya atau tidak. Namun Gould menemukan bahwa kebenaran, keadilan, tidak serta merta karena perintah komandan, adakalanya di daerah abu-abu.

Pertemuannya dengan Livia, seorang perempuan Napoli yang pintar memasak masakan Italia. Dalam novel ini ada berbagai macam masakan Italia. Sebenarnya, sisi Wedding Officer-nya sama proporsinya dengan masakan Italia yang bahkan sangat-sangat detil dibuat oleh Livia untuk James Gould dan kawan-kawan.

Novel ini cukup bagus karena dengan detil menceritakan kondisi perang dunia II di Napoli beserta dengan kondisi-kondisi sosialnya. Kehidupan yang memprihatinkan, dimana orang-orang berjuang untuk hidup. Korupsi dan penjualan penisilin gelap memperkaya orang-orang tertentu. Sementara yang tidak mampu, tinggal menunggu kematian. Namun, akhir cerita ini yang menurut saya membuat 'rusak' suasana cerita yang sudah dibangun bagus dari awal. Secara umum, masih layak baca, cuma penerbit sebaiknya memberi peringatan "awas buku dewasa."

Anthony Capella menuliskan novel ini berdasarkan pekerjaan yang dilakukannya bersama Jamie Oliver, seorang chef muda berkebangsaan Inggris. Jamie memperkenalkan pada Anthony berbagai masakan Italia, terutama masakan Naples/Napoli, sebuah wilayah yang berada di Italia Selatan. Keseluruhan ide jalan cerita ini adalah sepasang buku yang ditemukan oleh Anthony ketika datang ke Napoli. Buku pertama adalah Naples '44 ditulis oleh Penulis traveling berkebangsaan Inggris, Norman Lewis. Pada masa itu (1944), Sekutu menduduki Italia, ia ditugaskan sebagai pejabat investigasi muda. Ia bertugas selama tiga tahun (1942-1945) di Afrika Utara dan Italia.

Buku Harian Norman tersebut menceritakan akibat perang yang diderita oleh rakyat Naples. Dimana-mana terjadi kesusahan hidup, kemelaratan, berbagai cara digunakan untuk tetap bertahan hidup. Prostitusi dimana-mana. Dari dekat ia menyaksikan bahwa karakter perang yang dielu-elukan oleh Sekutu ternyata tidaklah heroik dan humanis. Saya malah lebih tertarik untuk membaca buku setebal 192 halaman ini. Norman Lewis juga pernah mengunjungi Indonesia, dan menulis pengalaman perjalanannya pada buku An Empire of the East: Travels in Indonesia.

Napoli adalah kota yang indah, Gunung Vesuvius yang menawan menambah keindahan kota itu, lihat pada gambar berikut.



Bayangkan ketika Gunung Vesuvius yang meletus pada 1944, terlihat pada gambar berikut. Suasananya mencekam.


Sedangkan buku kedua ialah Sophia Loren: Living and Loving and Sophia Loren's Recipes and Memories. Sophia Loren berusia tujuh tahun ketika pecah perang dunia II tersebut, dan ia pernah tinggal bersama neneknya di Pozzuoli, Napoli. Menghadapi masa-masa sulit perang, Ketika pasukan sekutu menduduki Napoli, neneknya membuka tempat hiburan di ruang rumah mereka. Tempat mereka menjadi ramai oleh kedatangan pasukan dari Amerika. Loren bertugas mencuci piring, sementara saudaranya menyanyi dan bermain piano. Dalam buku ini Loren juga menuliskan bagaimana masa kecilnya sebagai Neapolitan dan karirnya dalam dunia film.

Novel-novel karya Anthony Capella lainnya hampir semua ada unsur sejarahnya. Karyanya yang terakhir The Empress of Ice Cream, berlatar belakang abad 17 di Inggris dan Prancis. Novel The Various Flavours of Coffee, berlatar belakang Afrika pada awal abad 20. Lulusan Oxford University bidang studi English Literature ini, selain suka traveling, ia suka kuliner, karena itu tak heran setiap novelnya selalu berhubungan dengan makanan.

Memang, tempat-tempat menarik, sebaiknya diceritakan dengan lengkap. Kotanya, orangnya, makanannya, dan tentu saja foto-fotonya. Cuma, mau tak mau saya jadi penasaran dengan bukunya Norman Lewis tentang Indonesia.

@hws24052011

3 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-