Saturday, August 9, 2014

The God of Small Thing by Arundhati Roy




Kejadian-kejadian kecil, masalah-masalah remeh, hancur dan disusun kembali. Dibubuhi makna baru. Mendadak mereka menjadi kerangka putih dari sebuah cerita


Judul: The God of Small Thing
Pengarang: Arundhati Roy
Kata Pengantar: Melani Budianta
Penerjemah A. Rahartati Bambang Haryo
Tebal: xxxii+420 hlm
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia 2005.

Pengalaman menarik buku ini adalah, saya sudah membeli novel ini sejak tahun 2006, dan kurang lebih 7 tahun kemudian saya baca *ditoyor*. Dulu saya membelinya hanya berdasarkan cover yang menuliskan bahwa novel ini memperoleh award. Saya dulu berpikir bahwa kalau novel sudah mendapatkan award, berarti novel ini bagus. Padahal, saya tidak mengerti itu award apa. Setelah sekian lama saya memeriksa kembali rak buku saya, saya menemukan kembali buku ini, dan baru menyadari bahwa award yang dimaksud itu adalah Man Booker Prize Award. Suatu penghargaan atas novel-novel terbaik karangan novelis dari negara-negara persemakmuran Inggris.  Arundhati Roy merupakan novelis dari India, dan setting cerita dalam novel ini ada di Ayemenem, sebuah desa di Kottayam, Kerala, India. Ayemenem digambarkan dengan sebuah desa yang indah.  Tempat yang menjadi "setting" cerita novel ini adalah sungai, puncak-puncak pohon yang rimbun.


Meski novel ini merupakan karya fiksi, namun di dalamnya banyak terdapat hal faktual yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan. Terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat India. Hampir identik dengan negara-negara Asia lainnya seperti Cina maupun Indonesia, kehidupan patriarki di masyarakat India sangat kuat. Laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga, istri (harus) patuh pada suami, perbedaan perlakuan orangtua terhadap anak laki-laki dan perempuan. Bahkan, di India masih sangat kental perbedaan kelas antara majikan dengan pekerja.   

Sebelum membaca buku ini, ada baiknya mengenal secara singkat tokoh-tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh pada novel ini punya kisah sendiri-sendiri, dan sepertinya tidak ada yang menjadi tokoh utama.   

Rahel: saudara kembar Estha. Banyak dari cerita dari novel ini dari perspektif Rahel. Ia tumbuh besar di Ayemenem, tetapi ketika dewasa ia tinggal di Amerika bersama suaminya, Larry McCaslin. Namun, Rahel bercerai dari suaminya, dan kembali ke Ayemenem.

Estha: Saudara kembar Rahel. Ia bernama lengkap Esthappen. Setelah kematian Sophie Mol, ia tinggal dengan ayahnya di Assam. Pada usia 31 tahun, ia kembali ke Ayemenem. Perilakunya aneh dan banyak orang menganggap ia gila, kecuali saudari kembarnya, Rahel.

Sophie Mol: Saudara sepupu si kember Estha dan Rahel. Ia adalah putri Chacko dan Margaret Kochamma. Chacko bercerai dengan Margaret. Kemudian Margaret ke luar negeri dan menikah dengan Joe. Saat papa tirinya Sophie, Joe, meninggal, Sophie bersama Margaret kembali ke Ayemenem. Sophie Mol mati tenggelam di sungai.

Ammu: Ibu Estha dan Rahel. Ia menikah dengan Babu. Namun ia cukup menderita, karena suaminya ternyata pemabuk dan sangat temperamen. 

Babu: Ayah Estha dan Rahel. Awalnya Estha tinggal dengan Babu. Namun Babu tidak membawa Estha ketika Babu pindah ke Australia.

Mamachi: Nenek Estha dan Rahel yang buta. Ia mengalami ketidakbahagiaan pernikahan dengan Papachi. Ia sering mendapatkan kekerasan dari suaminya.

Papachi: Kakek Estha dan Rahel. Ia bertindak sangat keras kepada Mamachi.

Baby Kochamma: Adik dari Papachi. Ia adalah nenek-bibi Estha dan Rahel

Chacko: Paman Rahel dan Estha, satu-satunya saudara laki-laki Ammu. Chacko masuk sebagai anggota Partai Komunis. Setelah bercerai dengan Margaret dan berpisah dengan putrinya, Sophie Mol, Chacko tetap tinggal di rumah Mamachi.

Velutha: Seorang pembantu bagi keluarga Mamachi, ia punya hubungan khusus dengan Estha dan Rahel. Velutha menjadi figur seorang ayah bagi Estha dan Rahel. 

Vellya Paapen: Ayah Velutha. Seorang yang sangat taat pada keluarga Mamachi. Ia menawarkan diri pada Mamachi agar melakukan perbuatan yang bertentangan hukum, karena malu dengan keluarga Mamachi.
---


Arundhati Roy sangat apik menggambarkan situasi itu dalam novel ini. Mungkin kita akan terkecoh bila hanya melihat film-film India yang sepertinya artis dan tokoh-tokohnya selalu berperawakan gagah dan cantik serta pintar menyanyi dan menari. Lewat novel ini, Roy memberi kritik sosial terhadap suatu pendiskriminasian terhadap manusia. Seringkali kehidupan masyarakat yang (katanya) kuat dengan nilai-nilai tradisi justru abai terhadap hak-hak mendasar manusia.  Judul novel ini sepertinya terkesan provokatif dan melawan kemapanan: The God of Small Thing. menurut anda, apa arti judul itu? Tuhan yang Maha Kecil? Tuhan atas sesuatu yang kecil?

Adegan pembuka novel ini adalah kematian Sophie Mol. Selanjutnya, diceritakan flashback latar belakang kondisi sebelumnya. Pada sebuah kota, Ameyenem, terdapat sebuah keluarga besar pengusaha. Bisnis yang dipelopori Mamachi (nama aslinya Shoshamma Ipe) bergerak di agrobisnis. Mereka membuat manisan buah dalam kemasan. Bisnis mereka cukup maju dan memberikan kesejahteraan yang luar biasa. Saat itu, agrobisnis bisa berkembang pesat karena adanya bantuan dari World Bank yang mendukung agrobisnis secara intensif.

Pasangan kembar, Estha dan Rahel bertemu kembali setelah 23 tahun berpisah. Rahel meninggalkan Amerika setelah disurati oleh Baby Kochama yang mengabarkan bahwa Estha telah kembali ke Ayemenem. Sementara Estha dikembalikan oleh ayahnya ke Ayemenem karena ayahnya hendak bekerja di Australia. Estha dan Rahel "berpisah" setelah kematian Sophie Mol. Namun, sebuah kisah misteri bagi Rahel dan Estha kecil (saat itu mereka berusia 9 tahun) ketika setelah pemakaman Sophie Mol, ibu mereka, Ammu, membawa Rahel dan Estha ke kantor polisi. Lalu setelah pulang dari kantor polisi itu,  Ammu menangis, seraya berbisik, "Aku telah membunuhnya."
  

Di bagian awal novel ini, diceritakan masa lalu Baby Kochama. Dari uraian tersebut, dapat kita ketahui bahwa pada masa muda Baby Kochama, terdapat tiga agama di kota Ayemenem. Yang pertama tentu saja Hindu. Hindu menjadi agama mayoritas. Kedua adalah Kristen Siria. Ayah Baby Kochama adalah Pendeta di Gereja Kristen Siria. Ketiga adalah Katolik. Baby Kochama menaruh hati pada Pastor Mulligan, sebagai utusan dari seminarinya untuk mempelajari kitab suci Hindu, agar dapat membuat laporan tentang budaya setempat. Pastor Mulligan dan Pendeta Ipe (ayah Baby Kochama) bersahabat, dan seringkali diminta tinggal bersama keluarga mereka. Baby Kochama muda sangat tertarik kepada Pastor Mulligan.  Ketika tugasnya selesai, Pastor Mulligan kembali ke seminarinya, Baby-Kochama menyusulnya menjadi biarawati agar dapat bertemu dengan Pastor Mulligan.



Ada hal-hal besar (big things) dan hal-hal kecil (small things) menjadi nilai-nilai yang harus dimiliki masyarakat pada umumnya. Bagi masyarakat kita, barangkali disebut "big things" antara lain: pernikahan, memiliki anak, pendidikan tinggi, pekerjaan dan status sosial yang tinggi, dan sebagainya. "Big things" adalah sesuatu yang terlihat, menjadi semacam tuntutan masyarakat, serta menjadi suatu pencapaian individu. Sedangkan "small things" barangkali dapat berupa: rahasia, janji, hubungan persahabatan, kesetiakawanan, empati, bersolidaritas. "Small things" adalah sesuatu bagian kecil dari kehidupan yang tidak terlihat kasat mata serta tidak dianggap sebagai suatu tujuan yang harus dicapai oleh tiap individu. Pada dasarnya antara big things dan small things tidak menjadi menjadi keunggulan satu terhadap yang lain. Namun, hal itu hanyalah masalah waktu dan kesempatan untuk bertukar tempat. Cita-cita untuk mencapai pernikahan yang baik atau membangun keluarga terhormat tentu saja adalah tujuan mulia. Namun, demi mencapai tujuan tersebut harus mengorbankan hak-hak dasar manusia, merugikan serta membunuh karakter orang lain, tentu saja tidak dapat dibenarkan.  

Ide Roy mengangkat hal faktual dalam novel ini tergambar bahwa pada umumnya orang akan beranggapan sebuah kesuksesan terletak pada keluarga yang bahagia serta karir yang bagus. Inilah "big things"nya Hal ini terlihat pada keluarga Kochama dan Kamerad Pilliai. Baby Kochama menganggap bahwa nama baik keluarga terhormat adalah segalanya, sedangkan Pilliai menganggap bahwa kemenangan politik (komunis) adalah tujuan akhir yang mulia. Ternyata, dalam perjalanannya, untuk mencapai "big things" tersebut, mereka mengabaikan "small things" yang seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Dari hasil pembacaan serta penelusuran saya dari berbagai sumber, dapat disarikan sebagai berikut:

Pertama, suatu persoalan agama, budaya, keyakinan, kepercayaan bentrok dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Bahasa Inggris yang tampaknya lebih "berkualitas" dibanding bahasa lokal, pendidikan barat dipandang lebih tinggi pendidikan dalam negeri, paradoks komunis di Ayemenem yang seharusnya lebih menjunjung nilai egalitas malah "kalah" dengan sistem kasta yang sudah terbangun. Dari sana terlihat bahwa ada pandangan sesuatu yang baru (sepertinya) lebih baik dari nilai-nilai lama yang sudah hidup dan berkembang pada kehidupan masyarakat pada umumnya. Nilai-nilai kebudayaan lokal (yang lama) digantikan oleh nilai/pandangan yang baru, tentunya dapat dikritisi: Apakah pendidikan barat memang sesungguhnya lebih maju?

Kedua, bahwa rahasia lebih baik dibuat untuk menghindarkan diri dari sengsara. Alih-alih berdamai dengan keadaan, membuat (serta menjaganya setengah mati) adalah hal yang lumrah. Kematian Sophie Mol, Velutha, serta Ammu, saling berkaitan. Namun bagi keluarga besar Kochama, cerita di balik itu harus ddisembunyikan. Pembenaran dan pengelakan fakta lebih dipilih untuk menjaga nama baik keluarga.  Siapa yang menjadi korban dianggap tidak penting dan tidak patut diperhitungkan. 


Ketiga, bagaimana menyikapi sebuah perbedaan kasta. Persoalan perbedaan kasta turut dipengaruhi oleh agama. Keluarga Kochama merupakan keluarga perintis Kristen Syria di Ayemenem. Di samping itu ada agama Katolik Roma dan tentu saja Hindu. Terjadi paradoksal. Tentu di semua ajaran agama mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Namun bagaimana sikap orang beragama tersebut ketika terjadi situasi seperti yang diceritakan oleh Roy:
  • Chacko meniduri perempuan-perempuan pekerja, dan hal itu dianggap lumrah oleh ibunya.
  • Kamerad Piliai yang peduli dengan nasib pekerja, padahal ia adalah anggota partai komunis.
  • Polisi yang tidak berpihak pada kebenaran sesungguhnya atas situasi yang menimpa Velutha.
Tidak ada jalan keluar yang mumpuni menjawab semua persoalan tersebut. Roy menawarkan alternatif untuk menikmati hal-hal kecil meski hal-hal besar tetap mengancam.


Keempat, simbol small thing dan big thing.Dalam masyarakat yang bersangkutan dengan "Big Things" seperti sistem kasta, afiliasi politik, dan pernikahan, Roy mengarahkan pembaca untuk "Small Things." Ini dapat makhluk kecil dan kegiatan mereka-"bisikan dan berlari dari kehidupan kecil"-serta rahasia, janji, dosa, dan lainnya emosional 'makhluk' bahwa orang tidak mau mengakui. Semua hal ini tampaknya tidak memiliki tempat dalam kehidupan karakter seperti Baby Kochamma dan Kamerad Pillai. Mereka ingin berjuang untuk cita-cita budaya signifikan seperti keluarga terhormat dan kehidupan politik yang mulia. Karena mereka adalah anak-anak, mereka tidak terikat pada dunia "Big Things" sebagai orang dewasa. Namun mereka juga menanggung beban berat menyedihkan dan berbahaya "Small Things" yang berlangsung dalam kehidupan keluarga mereka: Estha penganiayaan, ketakutan Rahel yang Ammu mencintainya sedikit kurang, rahasia apa yang sebenarnya terjadi pada Sophie Mol, dan pemukulan terhadap Velutha, yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri. Ketika Rahel dan Estha bercinta sebagai orang dewasa, mereka akhirnya melepaskan kesedihan mereka melalui tindakan - mereka membebaskan diri dari beban mereka "Small Things."

Roy menggunakan simbol-simbol dalam menggambarkan small things dan big things secara berdampingan. Simbol-simbol tersebut menggambarkan bahwa pada dasarnya sesuatu yang kecil dan besar merupakan masalah sudut pandang.

  • Bahwa beberapa belas jam dapat mempengaruhi hasil sepanjang kehidupan (h.39).
  • Kejadian-kejadian kecil, masalah-masalah remeh, hancur dan disusun kembali. Dibubuhi makna baru. Mendadak mereka menjadi kerangka putih dari sebuah cerita (h.40). 
  • ...Tak sesuatupun yang mereka miliki. Tak ada masa depan. Oleh karenanya mereka bersitahan pada hal-hal kecil. Mereka tertawa memandang semut-semut yang saling menggigit pantat satu dengan yang lain, beriringan. Mereka tertawa memandang ulat kikuk yang menggelincir di ujung daun, memandang kumbang-kumbang yang terguling, tak mampu berbalik lagi...(h.415)

Novel ini sungguh patut dibaca. pengalaman membaca saya akan novel ini adalah saya sendiri perlu untuk membuka dan membaca berbagai bahan-bahan lain untuk memahami apa maksudnya. Meski mendapat protes dari seorang pengacara, agar bab terakhir novel ini dihilangkan saja, namun karya Roy ini berhasil mencuri perhatian dunia dengan penghargaan Man Book Prize, dan Arundhati Roy adalah wanita India pertama yang memperoleh penghargaan tersebut.

Saran saya, agar membaca pengantar serta sinopsis novel ini, lalu temukan hal-hal kecil tersebut.


Depok, 9 Agustus 2014

Helvry

Referensi:
http://www.gradesaver.com/the-god-of-small-things/study-guide
http://humanities.wisc.edu/assets/misc/GOST_Guide_+_Readings.pdf

4 comments:

Post a Comment

:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t

Tinggalkan JEJAK Anda sebagai penanda bahwa Anda membaca dan menimbang tulisan saya :)

----------Oooo---
-----------(----)---
------------)--/----
------------(_/-
----oooO----
----(---)----
-----\--(--
------\_)-